Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Puspa Nusantara, Raflesia Arnoldi kembali mekar pada Selasa, 1 Oktober 2019. Bunga tersebut menjadi Raflesia Padma ke-16 yang merekah di Kebun Raya Bogor.
Proses mekarnya bunga langka ini terabadikan dalam video yang diunggah di akun Instagram @bogor.terkini. Dalam video yang dipercepat, bentuk awal bunga berupa kuncup kuncup, kemudian kelopaknya terbuka satu per satu hingga berwujud seperti mangkok.
Bunga raksasa itu pertama kali ditemukan pada 1818 di hutan tropis Bengkulu. Tepatnya di suati suatu tempat dekat Sungai Manna, Lubuk Tapi, Kabupaten Bengkulu Selatan.
Seorang pemandu yang bekerja pada Dr. Joseph Arnold menemukan bunga raksasa ini pertama kali. Arnold sendiri saat itu tengah mengikuti ekspedisi yang dipimpin Gubernur Jenderal dari Inggris, Thomas Stamford Raffles.
Meski begitu, penamaan bunga itu diambil dari gabungan dua nama peneliti dan petualang itu. Raffles sebagai pimpinan ekspedisi ditempatkan pada nama pertama sedangkan Arnold sebagai penemu bunga dipilih sebagai nama kedua.
Dream - Tanaman bajakah mendadak viral setelah digadang sebagai obat penyembuh kanker. Hasil temuan murid SMAN 2 Palangka Raya di ajang World Invention Creativity Olympic 2019 Korea Selatan itu sukses mencuri perhatian dunia.
Selain akar bajakah, sebenarnya masih banyak lagi tumbuhan herbal yang banyak dipercaya mengobati kanker. Antara lain mahkota dewa, temu putih, buah merah dan daun sirsak.
Namun sejatinya, kanker tidak bisa disembuhkan hanya dengan obat. Tindakan medis juga pentung dilakukan untuk menidurkan sel kanker sehingga tidak aktif menyerang tubuh.
" Saya agak khawatir dengan penggunaan kata 'sembuh'. Tujuan kanker stadium lanjut adalah mengendalikan penyakitnya sehingga pasien memiliki harapan dan kualitas hidup lebih baik," kata Andhika Rachman, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik dalam diskusi media bersama Roche di Jakarta, Rabu 28 Agustus 2019.

Penyebaran sel kanker dapat ditekan dengan kombinasi obat-obatan terapi secara berkala. Beberapa tanaman herbal memang memiliki zat anti kanker namun tidak bisa berdiri sendiri sebagai obat.
Diperlukan penelitian bertahun-tahun untuk mematenkan herbal sebagai obat kanker. Mengganti obat paten secara total dengan tanaman herbal juga sangat tidak dianjurkan.
" Kami menampik tanaman herbal bermanfaat juga, tapi kit butuh waktu untuk mengetahuo berapa banyak zat aktif, kadar air dan berapa zat lain di luar zat penghancur kanker agar bisa jadi obat," jelasnya.

Andhika menjelaskan fenomena bajakah baru mencapai tahap penemuan zat aktif. Idealnya, zat aktif harus melalui uji coba selama 10 tahun dengan mengandalkan berbagai proses.
Zat aktif yang telah diekstrak dari tanaman akan dicoba pada jenis sel kanker tertentu. Prosesnya bisa mencapai 5 tahun sebelum diuji coba pada pada tikus atau kelinci.
" Jika bagus, baru nanti diuji lagi pada manusia untuk menentukan dosis, efek samping. Proses tersebut masih panjang," tegasnya.
Penggunaan tanaman herbal sembarangan bisa memberi dampak buruk bagi pasien kemoterapi. Sebab, dosis yang dikonsumsi tidak diketahui takarannya.

" Mahkota dewa isinya memang menhandung vinkristin, zat obat kanker payudara dan etah bening. Tapi cuma pakai 2mg. Nah, di mahkota dewa tadi kan dosisnya enggak ketahuan apalagi kalau diminum banyak-banyak. Habis dikemo, efeknya kayak dikemo lagi. Hancur lah," ujar dia.

Jalan pembuktian khasiat bajakah untuk obat kanker masih panjang. Penemuan ini diharap bisa menjadi titik cerah bagi obat kanker di masa depan jika didukung dengan penelitian yang tepat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya