Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Kekurangan APD, Perawat Ini Pakai Kantong Plastik Sampah

Reporter : Maulana Kautsar
Senin, 23 Maret 2020 13:01
Kekurangan APD, Perawat Ini Pakai Kantong Plastik Sampah
APD atau Alat Pelindung Diri bagi tenaga medis jumlahnya semakin menipis.

Dream - Alat pelindung diri (APD) menjadi barang langka di saat seperti ini. Tak ingin meninggalkan pasiennya, sejumlah perawat memanfaatkan jas hujan sebagai ganti baju hazmat yang kian langka.

Di Malaysia, beredar video perawat yang memakai kantong plastik sampah. Kantong plastik itu diubah menjadi potongan untuk menutupi dada dan kepala.

Dalam video yang diunggah di akun Facebook, Sera Bagus, tampak perawat terus bekerja meskipun dalam kondisi lunglai.

" Tak apa lemas sekali, dari pada lemas selama-lamanya," kata perawat itu.

Tetapi, kondisi serupa tak hanya terjadi di Malaysia. Di Inggris dan belahan dunia lain petugas medis kesulitan alat pelindung diri.

Para perawat di Northwick Park Hospital, Harrow, menyebut tidak ada tempat perawatan yang tersisa setelah kedatangan gelombang tiba-tiba pasien yang terinfeksi Covid-19. Sejauh ini, dilaporkan Express, puluhan pasien berjuang di ruang intensif.

Seorang kepala kesehatan senior telah menyarankan ambang batas usia 60 dapat ditempatkan di lokasi penerimaan, untuk mengurangi tekanan pada tempat tidur di rumah sakit di Inggris.

Rumah Sakit Northwick Park mengkonfirmasi telah mencapai " kapasitas perawatan kritis" karena jumlah pasien dengan Covid-19 melonjak di London.

Kondisi kritis di rumah sakit terhentikan setelah pasien dipindahkan ke rumah sakit terdekat untuk menciptakan lebih banyak ruang.

1 dari 5 halaman

Tak Ada Hazmat, Dokter Indonesia Pakai Plastik Sampah

Dream - Dokter-dokter di rumah sakit rujukan untuk penanganan pasien Covid-19 di Indonesia, sedang sangat membutuhkan alat pelindung diri (APD).

Salah satu perlengkapan yang sangat dibutuhkan adalah hazmat suit atau hazardous material suit.

Pakaian pelindung ini digunakan oleh dokter-dokter yang menangani pasien dengan level biohazard tinggi, seperti pasien Covid-19. Pada banyak rumah sakit, perlengkapan hazmat ini sangat terbatas, bahkan habis.

Sebuah fakta memilukan, diunggah oleh Mesty Ariotedjo, seorang model yang kini menjadi dokter spesialis anak di akun Instagramnya.

Ia mengunggah foto rekan sejawatnya yang menangani pasien Covid-19 menggunakan plastik sampah untuk melindungi diri.

 

2 dari 5 halaman

Pertaruhkan Nyawa

Hal ini lantaran pasokan APD sangat sulit. Mesty pun mengungkap kalau para dokter sebenarnya mempertaruhkannya nyawa mereka sendiri saat menangani pasien tanpa perlindungan yang memadai.

Dokter gunakan plastik sampah untuk APD

(Foto: Instagram Mesty)

" Prihatin sekali melihat keadaan nyata di lapangan, rekan sejawat memakai alat tempur yang sangat tidak layak, kantong plastik sampah. Semua sejawat bekerja keras semampunya, bahkan membahayakan diri mereka sendiri. Sampai saat ini telah terdata di hotline @wecare.id laporan dari 54 rumah sakit dan puskesmas yang kekurangan alat pelindung diri. Sudah banyak dari pihak masyarakat yang bergerak sendiri melalui rekening pribadi, @kitabisacom, @wecare.id, dan lainnya," tulis Mesty.

3 dari 5 halaman

Desak Pemerintah

Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu, juga mendesak pemerintah untuk menjamin kelengkapan keamanan bagi tenaga medis yang berada di garda depan penanganan Covid-19.

Mesty Ariotedjo

" Terus terang kami juga harus bekerja lebih keras untuk menemukan distributor yang menyediakan APD yang sesuai dan lengkap. Semoga @jokowi dan pemerintahannya juga dapat bergerak cepat untuk merealisasikan janji-janjinya. Jika ingin melibatkan relawan bahkan hingga mahasiswa kedokteran ke medan perang, jangan bahayakan mereka, pastikan kelengkapan alat pelindung diri dan keselamatan mereka. Karena jika tentaranya runtuh di medan, siapa yang akan menolong para pasien? Kami butuh APD segera dan cepat. Keselamatan kami tidak dalam hitungan hari atau minggu, tapi menit bahkan detik," ungkapnya.

4 dari 5 halaman

Pengabdian Dokter Handoko di Garda Depan Melawan Covid-19

Dream - Tim medis berada di garda terdepan untuk penanganan virus corona (Covid-19) di Indonesia. Sebuah cerita mengharukan viral di media sosial. Seorang dokter spesialis paru yang berumur 80 tahun, siap 'perang'.

Sang dokter sudah mengenakan pakaian alat pelindungan diri (APD) atau hazmat. Dokter itu diketahui bernama Handoko Gunawan, seorang spesialis paru yang bekerja di RS Grha Kedoya, Jakarta Barat. 

Ia termasuk dalam jajaran dokter yang langsung menangani pasien Corona. Padahal dokter Handoko Gunawan merupakan dokter senior yang telah berusia 80 tahun.

Berawal dari unggahan di Facebook milik Noviana Kusumawardhani dan Hengky yang membagikan potret dokter Handoko, yang tetap berjuang merawat pasien terinfeksi corona, meski sudah dilarang pihak keluarga.

5 dari 5 halaman

Kerja Hingga Jam 3 Pagi

Dikutip dari status dari Facebook Noviana Kusumawardhani, Novia menuliskan jika dokter Handoko merupakan dokter ahli paru di RS Grha Kedoya, yang sudah berusia sekitar 80 tahun. Beliau bekerja merawat pasien hingga jam 3 pagi.

Postingan itu juga menampilkan foto dokter Handoko Gunawan yang menggunakan baju anti kontaminasi lengkap dengan masker dan sepatu.

Upaya pemerintah untuk melawan Corona memang tak lepas dari kerja keras tim medis.

Akun Facebook Hengky juga menuliskan jika dokter Handoko merupakan sosok pengabdi kemanusiaan yang luar biasa.

Beragam komentar pun ditulis oleh netizen di laman Facebook tersebut.

" Semoga dr Handoko sehat selalu dan diberikan panjang umur. Semangat....."  tulis salah satu netizen.

" Semoga pak dokter djaga tuhan , selalu sehat dan panjang umur.. GBU pak dokter yg baik hati," timpal lainnya.

" ikut mendoakan utk semua dokter dan petugas RS dimanapun"  imbuh lainnya.

Laporan Loudia Mahartika/ Sumber: Liputan6.com

Beri Komentar