Perokok Lebih Berisiko Tertular Covid-19?

Reporter : Syahidah Izzata Sabiila
Kamis, 30 Juli 2020 17:01
Perokok Lebih Berisiko Tertular Covid-19?
Para perokok yang tertular Covid-19 akan mengalami infeksi pernapasan hingga merusak paru-paru dan organ vital lainnya di dalam tubuh.

Dream - Belakangan ini angka penyebaran virus Covid-19 di India melonjak tinggi. Meski menurut penelitian orang dengan usia lansia lebih berisiko tinggi tertular, namun ada satu kelompok lain yang juga punya risiko tinggi.

Mereka yakni kelompok dengan gaya hidup dan kebiasaan tak sehat, seperti merokok.  Perokok tidak hanya berisiko tinggi merasakan permasalahan pernapasan dan kanker, tetapi juga lebih rentan terhadap penularan virus Corona Covid-19 daripada yang lain.

Kementerian Kesehatan India baru-baru ini merilis sebuah pernyataan serupa. Pihaknya memperingatkan, para perokok lebih rentan terhadap virus corona Covid-19, bahkan bisa memiliki gejala yang lebih parah. 

Pernyataan itu dikeluarkan setelah para pejabat mendapatkan informasi dari para dokter. Mereka menyebut para perokok yang tertular Covid-19 mengalami infeksi pernapasan yang merusak paru-paru dan organ vital lainnya di dalam tubuh.

1 dari 3 halaman

Berisiko Tinggi Tertular

Para ahli juga memperingatkan, perokok tidak hanya menjadi bagian dari kategori rentan, mereka juga berisiko tinggi tertular.

" Rokok elektrik, tembakau tanpa asap, dan produk sejenisnya dapat meningkatkan risiko dan tingkat keparahan infeksi paru-paru. Infeksi terjadi karena kerusakan saluran udara bagian atas dan penurunan fungsi kekebalan paru-paru" jelas para ahli. 

Perokok memiliki risiko tertular lebih tinggi karena para penggunanya memiliki kontak dengan berbagai alat yang berisiko tertular Covid-19.

Jari yang terkontaminasi, penggunaan rokok yang bersentuhan dengan bibir atau mulut dapat meningkatkan risiko penularan.

Hal ini semakin diperparah jika para perokok menggunakan alat hisap bersama orang lain sehingga meningkatkan risiko penyebaran Covid-19.

Kementerian kesehatan juga telah memberikan peringatan serupa terhadap produk tembakau lainnya, seperti mengunyah dan meludah gutkha di depan umum dapat menjadi pembawa infeksi.

Sebuah studi menunjukkan tingkat kematian di negara-negara dengan populasi perokok yang tinggi cenderung lebih banyak dibanding negara berpopulasi rendah.

2 dari 3 halaman

Mengapa Rokok Berbahaya?

Ingin Berhenti Merokok? Pastikan Kuat Hadapi Ini© MEN

Penggunaan tembakau telah dikaitkan dengan serangkaian masalah kesehatan. Asap tembakau, serta perokok pasif, dapat membuat orang berisiko terkena 16 jenis kanker, memburuknya kesehatan pernafasan, masalah jantung, diabetes, tuberkulosis, dan penyakit lain. Kondisi ini bahkan lebih parah jika seorang perokok tertular Corona Covid-19.

Sebuah studi dalam jurnal Developmental Cell menemukan, asap rokok memacu paru-paru untuk membuat lebih banyak protein reseptor yang digunakan oleh virus corona untuk memasuki sel manusia.

Studi itu juga menjelaskan orang yang berhenti merokok dapat mengurangi risiko infeksi semakin parah.

Studi lainnya dalam Journal of Adolescent Health menemukan bahwa perokok muda lebih mungkin untuk tertular Covid-19 daripada non-perokok yang sehat.

3 dari 3 halaman

Asap Rokok Sangat Beracun

Tidak hanya itu, asap dari tembakau juga mengandung jejak bahan kimia yang sangat beracun, sehingga dapat menjebak saluran udara dan mengendap di paru-paru. Akibatnya perokok nantinya akan mengalami penyakit gangguan paru-paru.

Merokok dapat berdampak pada kekebalan tubuh karena menekan sel-sel yang digunakan untuk membuat respons imun spesifik. Kekebalan yang rendah membuat tubuh sulit melawan infeksi atau membantu pemulihan.

Dalam laporan WHO pada 2019, disebutkan bahwa penyakit yang disebabkan oleh perokok dan penggunaan tembakau sudah merenggut 8,1 juta jiwa di Asia Tenggara.

Sumber Times of India

Beri Komentar