Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Kemenkes: Pengidap Gangguan Mental Meningkat 64,3 Persen Selama Pandemi Covid-19 (Shutterstock)
Dream - Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Maria Endang Sumiwi, mengungkapkan situasi pandemi Covid-19 telah menyebabkan peningkatan jumlah masyarakat yang dilaporkan mengalami gangguan kesehatan.
Tak hanya dialami warga yang terpapar penyakit Covid-19, gangguan mental juga dialami mereka yang terdampak masalah sosial ekonomi akibat pandemi tersebut.
“ Saat pandemi, masalah gangguan kesehatan jiwa dilaporkan meningkat sebesar 64,3%,” kata Endang dalam keterangannya, Rabu 12 Oktober 2022.
Menurut Endang, peningkatan presentase masalah kesehatan jiwa disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga psikolog yang masih kurang.
“ Kita juga melihat dari data-data pelayanan yang ada, saat ini baru sekitar 50% dari 10.321 unit Puskesmas kita yang mampu memberikan pelayanan kesehatan jiwa,” ujarnya.
Sementara sisanya belum memiliki layanan kesehatan jiwa. Sama halnya dengan layanan kesehatan jiwa di rumah sakit, jumlahnya belum merata.
Endang menyebut masih ada empat provinsi yang belum memiliki Rumah Sakit Jiwa dan baru 40% RS Umum yang ada fasilitas pelayanan jiwa.
Berbanding lurus dengan ketersediaan pelayanan kesehatan jiwa di fasyankes dan Puskesmas, jumlah psikiater yang ada saat ini belum mencukupi.
Tak hanya dari sisi jumlah, sebaran psikiater juga belum merata. Masih terkonsentrasi di kota-kota besar saja.
Dream - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan pemerintah takkan tergesa-gesa menetapkan pandemi Covid-19 di Indonesia telah berakhir. Keputusan terkait akhir dari wabah yang melumpuhkan ekonomi dunia ini hanya bisa dinilai oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Penegasan Jokowi tersebut menanggapi pernyataan Presiden Amerika Serikat, Joe Bidden yang menyatakan pandemi Covid-19 di negaranya telah berakhir.
" Ya pandemi ini kan terjadi di seluruh negara di dunia yang bisa memberikan statement menyatakan pandemi itu selesai adalah WHO," kata Jokowi usai meresmikan tol Cibitung-Cilincing di Bekasi, Selasa, 20 September 2022, dikutip dari Merdeka.com.
Walaupun jumlah masyarakat yang terserang Covid-19 di tanah air sudah melandai, kepala negara mengatakan Indonesia masih tetap harus waspada. Dia tak mau terburu-buru mengumumkan pandemi sudah berakhir.
" Kalau untuk Indonesia saya kira harus hati-hati, tetap harus waspada, tidak usah harus tergesa-gesa, tidak harus segera menyatakan bahwa pandemi sudah selesai, saya kira hati-hati," ucapnya.
Sikap kehati-hatian tersebut dipelrukan karena masih ada beberapa negara yang justru mencatat kenaikan kasus Covid-19. Dengan pertimbangan tersebut, pemerintah akan menanggapi kondisi ini dengan hati-hati.
" Ada di satu, dua negara yang sekarang ini sudah Covid-nya mulai bangkit naik, hati hati, kehati hatian itu yang sangat kita perlukan," imbuhnya.

Berbeda dengan Jokowi, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden telah menyatakan bahwa pandemi Covid-19 sudah berakhir.
Meskipun, dia mengakui bahwa negeri Paman Sam yang dipimpinnya itu masih memiliki 'masalah' dengan virus yang telah menewaskan lebih dari 1 juta orang di negara tersebut.
" Pandemi sudah berakhir. Kami masih memiliki masalah dengan Covid. Kami masih melakukan banyak pekerjaan untuk itu. Tetapi pandemi sudah berakhir," kata Biden dalam program '60 Minutes'.
Dream - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut akhir dari pandemi Covid-19 kini sudah di depan mata. Namun, negara-negara diminta untuk melanjutkan upaya mereka melawan virus yang telah menewaskan lebih dari enam juta orang itu.
" Kita belum sampai di sana (akhir pandemi Covid-19. Tetapi sudah di depan mata," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dilansir dari Fox News, Jumat 16 September 2022.
Komentar tersebut menjadi pernyataan WHO paling optimistis sejak menyatakan Covid-19 sebagai darurat internasional pada Maret 2020. Pandemi Covid-19 juga secara luar biasa berimbas pada ekonomi global dan sistem perawatan kesehatan.
Peluncuran vaksin dan terapi telah membantu membendung keparahan penyakit. Berdasarkan data WHO, kematian akibat Covid-19 pekan lalu adalah yang terendah sejak Maret 2020.
Namun, negara-negara didesak untuk kembali mencermati kebijakan terkait penanganan Covid-19 sebagai antisipasi menghadapi berkembangnya virus Corona di masa depan.
WHO memperingatkan kemungkinan gelombang virus di masa depan dan meminta negara-negara untuk menjaga pasokan peralatan medis dan petugas kesehatan yang memadai.
" Kami memperkirakan akan ada gelombang infeksi di masa depan, berpotensi pada titik waktu yang berbeda di seluruh dunia yang disebabkan oleh subvarian Omicron yang berbeda atau bahkan varian yang berbeda," kata Ahli Epidemiologi Senior WHO, Maria Van Kerkhove.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya