Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Pexels)
Dream – Seorang dokter dilaporkan terinfeksi virus covid-19 untuk kedua kalinya, setelah tiga bulan lalu berhasil sembuh dari infeksi pertamanya.
Setelah ia berhasil sembuh untuk kedua kalinya, dokter yang tak ingin disebutkan namanya itu pun tak sedikitpun takut untuk kembali merawat para pasien Covid-19. Hasil tesnya pun negatif, setelah dua kali menjalani pengujian pada Mei dan Juni lalu.
Kasus ini merupakan salah satu kasus dengan kemungkinan ‘reinfection’. Dan menimbulkan pertanyaan baru terkait kekebalan tubuh yang semakin berkembang setelah tertular Covid-19 pertama.
Apakah seseorang dapat terinfeksi lebih dari satu kali? Pertanyaan ini pun belum sepenuhnya dapat terjawab. Karena belum adanya bukti secara ilmiah.
Para pakar kesehatan biasanya menyalahkan alat tes yang tidak akurat atau adanya kemungkinan serangan penyakit lama. Ketika seseorang mendapatkan infeksi virus covid-19 untuk kedua kalinya.

Tetap kasus yang terjadi pada salah seorang dokter di Israel ini, menyiratkan bahwa ia dapat terinfeksi untuk kedua kalinya meskipun sudah berhasil sembuh dari kasus yang pertama. Diketahui bahwa dokter tersebut bekerja di Pusat Medis Sheba di kota Ramat Gan, Tel Aviv.
Profesor Gabriel Izbicki, dari Pusat Medis Shaare Zedek Yerusalem, mengatakan, “ Lebih dari sepuluh pasien selama berminggu-minggu, dinyatakan negatif setelah melakukan tes. Namun, nyatanya para pasien tersebut masih memiliki gejala.”
Secara global, telah ada beberapa laporan terkait infeksi berulang Covid-19. Para pakar kesehatan meyakini bahwa para pasien yang sudah sembuh dari suatu penyakit, dapat membangun tingkat kekebalan yang baru.
Namun, untuk kasus covid-19, belum ada bukti secara ilmiah. Terkait meningkatnya sistem kekebalan tubuh pada pasien.
Selain itu, muncul juga kekhawatiran baru, di mana para pasien yang sudah terinfeksi Covid-19 dalam jangka waktu yang lama, dalam tubuh mereka virus tersebut masih ada.
Pasien dapat kehilangan kekebalan tubuh dalam beberapa minggu atau bulan setelah masa pemulihan. Para peneliti di Wuhan, China, menemukan bahwa sistem kekebalan tubuh tidak terdeteksi pada 10 persen dari 1.500 pasien.
Dari hasil temuan para peneliti tersebut, kesimpulannya bahwa setelah seseorang terinfeksi virus covid-19, ia tidak dapat menghasilkan sistem kekebalan tubuh yang dapat bertahan lama terhadap virus ini.
(Sumber: dailystar.co.uk)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya