Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Desita Bersama Orangtuanya (Foto: Uny.ac.id)
Dream - Wisuda tak hanya sekadar selebrasi tapi juga menjadi kenangan indah di akhir masa kuliah. Sebagai hadiah, akan perjuangan yang telah ditorehkan saat mahasiswa.
Seperti Desita Dwi Rahmatulloh, yang berhasil menyabet prestasi sebagai wisudawan dengan indeks prestasi tertinggi jenjang S1 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Mahasiswi program studi (prodi) Ilmu Komunikasi tersebut meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,93.
Desita berhasil meraih gelar sarjana meskipun kedua orangtuanya, Sugeng Sihono dan Suryani, yang berprofesi sebagai penjual lauk-pauk tidak menempuh pendidikan tinggi.
Menempuh pendidikan di prodi Ilmu Komunikasi UNY ternyata sudah menjadi cita-cita Desita sejak SMK. Dia juga bersyukur diberikan keluasan memilih jurusan apa yang menjadi keinginannya oleh orangtuanya.

“ Kami tidak memaksa anaknya mau mengambil jurusan apa dan minat seperti apa. Bapaknya pernah mengarahkan untuk sekolah di bidang lain, tetapi anaknya tidak bisa, jadi kami sebagai orang tua cukup mendukung pilihannya saja," kata Suryani ibu Desita yang mengaku hanya menempuh pendidikan hingga SMP.
Semasa kuliah, gadis kelahiran Sleman, 24 Desember 1999 itu pernah bekerja sebagai freelancer penyiar radio untuk mencari uang tambahan. Desita diketahui juga merupakan peraih beasiswa Bidikmisi.
“ Saya juga pernah terikat kontrak menjadi penyiar di salah satu radio pendidikan yang berada di Jogja. Hal tersebut menjadi pengalaman yang luar biasa bagi saya untuk belajar banyak hal,” katanya.
Meskipun kuliah sambil bekerja, gadis cantik ini tetap mengutamakan kuliah sebagai prioritas utama. Untuk metode belajar, Desita berprinsip bahwa belajar bisa dari siapapun dan di manapun.
Sejak SD hingga SMK, Desita selalu meraih ranking. Warga Sariharjo, Ngaglik, Sleman tersebut juga berpartisipasi aktif dalam organisasi, mengikuti lomba, hingga bergabung dalam program pertukaran pelajar yang dibiayai oleh beberapa BUMN.
“ Orang tua saya tidak pernah menuntut. Namun karena diberi kepercayaan, saya terpacu untuk belajar mandiri dan bertanggungjawab dengan hidup” papar Desita.
Setamat kuliah Desita berharap dapat melanjutkan pendidikan pada jenjang S2, namun akan bekerja terlebih dahulu untuk bekal finansial ke depannya.
“ Life is a roller coaster ride, growing up was tough, sometimes we don't know what to do and cry a lot. So, whenever you are at this point, hope you can get through this and remember there's better days ahead," tutupnya.
Sumber: uny.ac.id
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya