Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
© MEN
Dream – Tenaga medis menjadi garda terdepan untuk menangani pandemi Covid-19. Mereka mempertaruhkan nyawa untuk merawat para pasien yang terinfeksi Covid-19.
Penularan virus corona, yang menyebabkan Covid-19, memang sangat cepat, bahkan tanpa gejala. Sehingga tak sedikit tenaga medis yang takut pulang ke rumah karena khawatir bakal menularkan virus corona kepada keluarga.
Karena itulah sebagian tik medis, termasuk dokter, terpaksa mengurungkan niatnya untuk kembali ke rumah dan memilih hidup terpisah untuk waktu yang belum ditentukan.
Salah satu kisah serupa dialami Ajit Jani, dokter di Rumah Sakit Khusus Rajiv Gandhi, Delhi. Dia sudah hampir lima bulan tak pulang ke rumah. Selain karena kewajiban menjadi garda terdepan penanganan Covid-19, Ajit juga khawatir akan menularkan virus pada keluarga di rumah.
Saking lamanya tak kembali ke rumah, sang putri kerap menanyakan kapan ia bisa kembali ke rumah. " Kapan ayah akan pulang?" ujar putrinya, dalam sebuah percakapan telpon.
Karena angka penularan meningkat di tiga bulan pertama, Ajit mengaku tak bisa tidur lebih dari 15 menit. Banyaknya laporan dan panggilan pasien menyebabkan jam kerja dokter meningkat.
Meski pemerintah memfasilitasi dokter untuk menginap di hotel Leela Ambience, nyatanya hal itu tak membuat mereka bisa tidur nyenyak. Hampir 15 menit sekali selalu ada panggilan dari pasien.
" Situasinya lebih serius ketika lockdown diberlakukan. Para pasien terlihat cemas saat berada di ruang isolasi. Mereka bahkan bisa menelepon setiap lima menit," cerita Ajit.
Untuk memberi semangat pada para pasien, para dokter memberikan nomor ponsel pribadinya guna membangun kepercayaan dan mengurangi kecemasan pasien. Bahkan untuk komunikasi, dokter sampai membuat grup WhatsApp dan terkoneksi dengan lebih dari 1.500 pasien.

Sebagaimana para dokter dan tenaga medis lainnya, Ajit diliputi rasa khawatir akan menularkan virus Covid-19 pada keluarganya. Terlebih Ajit memiliki orang tua yang berpotensi tinggi tertular.
" Awalnya, saya tidak berani pulang karena takut menularkan infeksi. Apalagi kedua orang tua saya sudah berusia diatas 75 tahun. Saya sangat khawatir," ungkap dokter berusia 52 tahun tersebut.
Saking sibuknya merawat lonjakan pasien yang kian bertambah setiap harinya, Ajit mengaku sampai kesulitan untuk menghubungi keluarga.
" Menyelamatkan nyawa adalah prioritas utama kami, saya bahkan hanya bisa menghubungi keluarga di malam hari, sekitar jam 1 atau 2 pagi," tambahnya.
Rasa rindu dan lelah yang dialami Ajit akhirnya mmebuatnya memutuskan untuk kembali ke rumah setelah lima bulan lamanya. Ajit harus menempuh jarak 13 kilometer ke rumahnya di daerah Kamla Nagar.
Saat pulang, ia disambut pelukan hangat oleh kedua putri kecilnya. Sang istri yang tampak berkaca-kaca juga terlihat sangat senang atas kepulangannya itu.
" Saat kasus Covid-19 muncul di bulan Maret, kami selaku tenaga medis merasakan tantangan yang luar biasa. Ini juga menjadi salah satu hal besar yang dialami banyak orang di seluruh dunia,”cerita Ajit.
Ajit akhirnya bisa kembali ke rumah setelah dirinya mengambil cuti pertamanya setelah 170 hari bekerja tanpa henti demi merawat pasien Covid-19.
Sumber India Times
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya