Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Mbah Tuminem (Foto: Merdeka.com)
Dream - Tak dapat dipungkiri, masih banyak masyarakat Indonesia berada di dalam keadaan ekonomi yang buruk. Kemiskinan seolah menjadi momok bagi masyarakat kecil yang harus berjuang demi melanjutkan kehidupannya.
Seperti Mbah Tuminem, di usia senjanya, ia harus tetap bekerja keras meski mendapatkan hasil yang begitu minim. Tak seberuntung orang lain, penglihatannya juga terganggu atau tunanetra.
Meski memiliki keterbatasan, ia tidak menyerah dengan keadaan. Di usianya yang 80 tahun, berjalan dengan kaki tertatih, ia tetap semangat menjalankan profesinya sebagai seorang pemecah batu.

Setiap harinya Mbah Tuminem harus pergi ke bantaran Kali Progo, Yogyakarat, untuk mencari batu yang nantinya akan dipecah olehnya. Dirinya sudah menjalani profesi ini selama 35 tahun.
Selama 35 tahun itu, banyak sekali rintangan yang dilewati Mbah Tuminem termasuk tanah licin yang cukup berbahaya bagi kesehatannya yang sudah tak prima lagi itu.
" Penglihatannya yang terganggu dan tanah licin sering membuat Mbah terjatuh, bahkan mbah pernah terserempet motor dan kakinya terluka," tulis keterangan dalam video singkat yang diunggah oleh akun Instagram @kitabisacom.
Penghasilan yang didapatkan dari pekerjaan sebagai seorang pemecah batu sangatlah jauh dari kata cukup. Bayangkan saja, satu keranjang batu Mbah hanya diberi harga Rp2500 saja, itupun jika sedang ada orang yang mau membelinya.
" Tapi kalau enggak ada yang beli, Mbah harus pulang dengan tangan kosong," lanjut keterangan yang ada dalam video.
Penghasilan minim yang didapati oleh Mbah Tuminem tak membuat dirinya berhenti melakukan tindakan mulia dan berhati besar. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat suka berbagi antar sesamanya dalam bentuk sedekah.
Mulai dari menyuapi anak-anak di sekitarnya makan nasi, membagikan orang disekitarnya nasi kotak ketika ada rezeki lebih. Meski dengan segala kekurangan yang ada pada dirinya, Mbah Tuminem masih seringkali berbagi terhadap sesama.
Begitu mengharukan, ia juga mempunyai cita-cita ingin memberikan sembako kepada kaum dhuafa di sekitarnya.
Sumber: merdeka.com
Berikut video kisah Mbah Tuminem:
View this post on Instagram
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya