Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Sita Tyasutami (Foto: Instagram @sitatyasutami)
Dream - Sita Tyasutami, penyintas kasus pertama Covid-19 di Indonesia menceritakan pengalaman yang dihadapinya. Selain pengobatan medis, ia sempat membutuhkan dorongan psikologis selama perawatan.
Sita merupakan kasus 01 virus corona di Indonesia yang sudah dinyatakan sembuh. Ia dan ibunya menjalani perawatan di RSPI Sulianti Saroso.
Sita mengaku mendapat tekanan batin usai diumumkan sebagai pasien positif Covid-19 pertama di Indonesia.
" Saat itu kami merasakan tekanan, karena ada rasa shock dan takut. Kemudian ada tekanan eksternal dari media dan rakyat Indonesia. Jadi saat itu saya mengalami tekanan batin luar biasa," ungkap Sita di peluncuran online layanan psikologi Sehat Jiwa (Sejiwa) bersama Kantor Staf Kepresidenan, Rabu 29 April 2020.
Sita yang saat itu sudah membaik, kembali jatuh sakit karena mengalami tekanan psikologis.
" Waktu itu gejala saya hanya tinggal batuk kering. Tapi setelah foto dan identitas saya terkuak, gejala yang sudah hilang akhirnya balik lagi selama seminggu," ujar Sita.
Menjadi bahan sorotan di tengah pandemi memengaruhi kondisi imunitas Sita. Tekanan psikologis membuat daya tahan tubuhnya drop dan kembali sakit.

Menurut Sita, tekanan juga datang dari hujatan raykat yang termakan oleh hoax atau berita bohong.
" Saat itu dengan segala yang memutarbalikkan semua fakta yang sebenarnya, saya mengalami tekanan batin yang luar biasa. Hujatan rakyat itu juga dikarenakan oleh hoax dan kepanikan," ujarnya.
Sita memutuskan untuk mencari bantuan psikolog. Ia pun menelepon sang psikolog yang juga merupakan temannya. Mereka berbicara selama berjam-jam untuk memulihkan kondisi batin.
" Waktu keluar dari rumah sakit saya mental breakdown. Seharian penuh saya telepon berjam-jam menceritakan pengalaman saya ke psikolog sampai tenang," tuturnya.
Kondisi mental Sita berangsur-angsur membaik bersamaan dengan fisiknya. " Awalnya tensi naik, tidak bisa napas padahal sudah sembuh dan keluar dari rumah sakit."
Menurut Sita, pasien Covid-19 membutuhkan layanan psikologis yang dapat mendampingi mereka jika mengalami tekanan batin.
Pemerintah turut meluncurkan layanan resmi psikologi Sehat Jiwa (Sejiwa) untuk melindungi para pasien.
" Sejiwa ini merupakan layanan psikologi untuk kesehatan jiwa. Layanan ini diberikan dalam bentuk konseling dan edukasi. Ini sangat penting karena masyarakat menghadapi situasi tidak menentu," tutur Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam