Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Gadis 27 Tahun Berbobot 27 Tahun Sendirian Urus Adik Yang Sakit Mental. (Foto: SIn Chew Daily)
Dream - Seberapa kuat Sahabat Dream memikul beban keluarga seandainya hidup tanpa orangtua? Apalagi tinggal hanya berdua dengan adik satu-satunya?
Sebagian besar mungkin akan mengaku tak kuat menanggungnya. Karena hidup ini begitu berat. Apalagi jika tinggal dengan saudara yang sakit mentalnya.
Namun tidak demikian dengan gadis 24 tahun dan adiknya dari China ini. Mereka harus menanggung hidup yang susah setelah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya.
Wu Huayuan masih berusia empat tahun saat ibunya meninggal dunia. Tak lama setelah itu, ayahnya menyusul sang ibu pada tahun 2014 karena penyakit sirosis.
Praktis, Wu harus menanggung beban hidup sendirian bersama adiknya sepeninggal sang ayah. Wu mengandalkan penghasilan 1.290 yuan (Rp2,5 juta) per bulan dari menghemat pengeluarannya.
Wu memilih tidak sarapan. Dia hanya makan roti untuk makan siang dan makan malam. Dia bahkan hanya makan nasi putih dengan saus cabai.
Hal itu dilakukan agar dia hanya menghabiskan 2 yuan (Rp3.900) sehari untuk biaya makan berdua dengan adiknya.
Wu sangat berhemat karena dia harus menabung uang untuk membiayai perawatan adiknya yang menderita penyakit mental.
Perlu diketahui bahwa kerabat Wu juga miskin. Selain itu, meskipun usianya sudah 24 tahun, Wu terlihat seperti anak kecil akibat kekurangan gizi.
Penampilan fisik Wu memang menyedihkan. Dia hanya memiliki berat 21kg dan tinggi 135cm, rambutnya juga rontok dan tidak memiliki alis.
Meski sering jatuh sakit, Wu tak pernah mau membeli obat mahal untuk berobat. Dia hanya membeli obat generik yang murah harganya.
Wu melakukan itu karena lebih mengutamakan perawatan adiknya. Wu ingin mengumpulkan uang hingga mencapai Rp9,9 juta untuk biaya perawatan adiknya.
Untungnya, setelah satu tahun perawatan, penyakit mental adiknya dapat dikendalikan. Meskipun miskin, Wu tidak menyerah pada mimpinya dan sangat ambisius.
Wu berhasil mendapatkan pinjaman mahasiswa untuk belajar di sebuah universitas di Guizhou. Saat ini berada di tahun ketiga di jurusan ekonomi.
Namun, pinjaman mahasiswa tersebut tidak cukup untuk menutupi pengeluarannya. Karena itu dia bekerja serabutan.
Untuk menutupi biaya pengeluarannya, Wu bekerja di dua tempat yang cukup bertolak belakang.
Dia bekerja sebagai cleaning service. Tapi juga bekerja menjadi asisten dosen di kampusnya.
Dari hasil bekerja di dua tempat yang berbeda itu, Wu mendapat penghasilan 600 yuan (Rp1,2 juta).
Namun beberapa pekan belakangan, kesehatan Wu semakin memburuk. Dia kesulitan berjalan, meski hanya 40 meter. Akhirnya, sebagian teman Wu membawanya ke rumah sakit.
Dokter mengatakan bahwa Wu mengalami masalah pada jantungnya akibat gizi buruk parah yang dideritanya.
Dokter menyarankan Wu untuk menjalani operasi untuk mengatasinya. Namun biayanya tak terjangkau oleh Wu karena sangat mahal, sekitar 200.000 yuan (Rp399 juta).
Awalnya Wu menolak menjalani operasi karena tak punya biaya. Tapi berkat dana crowdfunding yang digagas teman-temannya, Wu bisa menjalani operasi.
Wu berterima kasih atas bantuan teman-temannya. Adiknya yang sudah sembuh juga bertekad untuk membantu Wu.
Adik Wu mengatakan dia akan mencari pekerjaan sosial dan mendapatkan uang untuk membantu biaya pengobatan kakaknya.
(Sumber: World of Buzz)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya