Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Sumber: Youtube Liputan6
Dream - nurhayati, seorang nenek di Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengaku sedih karena jadwal keberangkatan ke Tanah Suci mundur beberapa tahun. Padahal, usianya semakin tua.
Nurhayati mendaftar haji pada 2017. Warga Perum Pepabri, Kecamatan Tarogong Kaler, itu menyetor Rp25 juta sebagai pendaftaran setelah mengumpulkan uang selama bertahun-tahun berjualan keripik.
Menurut keterangan petugas haji, Nurhayati akan berangkat 11 tahun setelah pendaftaran tersebut. Itu artinya, Nurhayati baru bisa berhaji pada 2028.
“ Untuk menunggu ini terlalu lama karena usia saya sudah begini, mudah-mudahan aja,” kata Nurhayati, dikutip dari kanal YouTube Liputan6 SCTV Rabu 17 Mei 2023.

Kesedihannya semakin bertambah usai mengecek data calon haji dari aplikasi Haji Pintar. Dalam aplikasi itu ternyata jadwal Nurhayati bersama sang anak ternyata harus berangkat tahun 2031, artinya harus menunggu selama 8 tahun lagi.
Ia berharap segera berangkat ke Tanah Suci dalam waktu dekat, saat kondisi kesehatannya masih baik. Sebab, jika berangkat sesuai jadwal itu, fisiknya sudah tidak kuat sehingga akan merepotkan orang lain.
“ Ya kalau keinginan mah segera sekarang, kalau ini mah badannya masih agak kuatan sedikit, biar enggak ngerepotin orang,” katanya.

Biaya haji yang meningkat saat ini membuat Nurhayati lebih rajin berjualan keripik. Ia berusaha agar produksinya bisa tetap berjalan, dengan menerima pesanan bahkan sampai ke luar kota.
Membuat keripik singkong di rumahnya, Nurhayati dibantu oleh anak-anaknya mulai dari proses pemasakan sampai penjualan. Ia terus meniti harapan agar saat gilirannya tiba tubuhnya masih sanggup untuk menunaikan rukun Islam yang ke-5 itu.
Saat ini, produk keripik singkongnya sudah laku terjual hingga ke kota-kota seperti Bandung, Jakarta, sampai Tangerang. Dari hasil penjualan inilah yang kemudian digunakan untuk mendaftar haji.
sumber: Merdeka.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya