KSP: Peringatan Gelombang 3 Covid-19 Jelang Nataru Bukan untuk Menakuti Warga

Reporter : Arini Saadah
Selasa, 14 Desember 2021 06:12
KSP: Peringatan Gelombang 3 Covid-19 Jelang Nataru Bukan untuk Menakuti Warga
Pemerintah tidak hanya sekedar menakut-nakuti warga, namun lebih kepada peringatan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan.

Dream – Peringatan Covid-19 gelombang ketiga yang dikhawatirkan muncul pada periode libur Natal dan Tahun Baru 2022 bukan untuk menakuti-takuti masyarakat. Peringatan tersebut dibuat sebagai langkah antisipasi pemerintah agar penularan Covid-19 seperti tahun sebelumnya tak terjadi.

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP)  Abraham Wirotomo mengimbau warga agar tidak terlena dengan pelambatan kasus Covid-19 yang terjadi saat ini. Meskipun situasi Covid-19 sudah terkendali, warga tetap mengikuti protokol kesehatan dan selalu menjaga imunitas tubuh.

Menurut Abraham, peringatan untuk mewaspadai gelombang III pandemi Covid-19 ini sebagai upaya agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan.

“ Pemerintah tidak ingin menakut-nakuti, tapi meningkatkan kewaspadaan. Pemerintah mempelajari kasus yang telah ada dari berbagai negara lain yang terkena lebih dahulu dan kita tidak ingin kondisi pontang-panting terjadi lagi di Indonesia,” katanya dikutip Dream dari siaran persnya, Senin, 13 Desember 2021.

1 dari 3 halaman

Kondisi Jelang Nataru Sangat Dinamis

Secara khusus, Abraham mengajak masyarakat Salatiga, Jawa Tengah, untuk bekerjasama dengan pemerintah dalam upaya menangkal munculnya Covid-19 gelombang ketiga pada periode Natal dan Tahun Baru.

Menurut Abraham, perubahan kondisi virus corona jelang Nataru yang sangat dinamis mengharuskan pemerintah untuk menyesuaikan kebijakan penanganan Covid-19.

" Kondisi menjelang Nataru sangat dinamis, banyak perubahan yang membuat Pemerintah pun harus menyesuaikan kebijakan," ujarnya.

" Di sini kami hadir untuk mendengar masukan dari masyarakat. Sebagaimana disampaikan Presiden, pandangan masyarakat harus didengarkan karena Indonesia tidak mungkin bisa berhasil melawan pandemi tanpa dukungan masyarakat," imbuhnya.

Perlu diketahui, Salatiga merupakan kota yang menjadi contoh dalam pengendalian gas dan rem Covid-19. Akan tetapi, Kota Salatiga juga sempat diguncang oleh penemuan klaster di salah satu Sekolah Dasar (SD) dengan belasan guru dan pelajar dinyatakan tertular virus Covid-19 pada pekan lalu.

Sementara itu, Pemerintah Kota Salatiga pun memutuskan untuk menghentikan sementara Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas di sekolah tersebut.

 

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

2 dari 3 halaman

Perayaan Tahun Baru di Tempat Umum Tetap Dilarang

Dream - Pemerintah membatalkan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 3 pada masa Natal dan Tahun Baru (Nataru). Namun demikian, perayaan Tahun Baru di tempat-tempat umum tetap dilarang oleh pemerintah.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan pemerintah juga menerapkan aturan operasional di pusat perbelanjaan, restoran, bioskop dan tempat wisata hanya diizinkan dengan kapasitas maksimal 75 persen dan hanya untuk orang dengan kategori hijau di aplikasi PeduliLindungi.

" Pemerintah juga menerapkan pelarangan seluruh jenis perayaan Tahun Baru di hotel, pusat perbelanjaan, mal, tempat wisata dan tempat keramaian umum lainnya," ujar Menko Luhut pada Selasa, 7 Desember 2021.

Ia mengungkapkan alasan pemerintah membatalkan penerapan PPKM Level 3 adalah karena tidak ingin menyamaratakan kebijakan di semua wilayah. Pemerintah telah mempertimbangkan data dan perkembangan kasus Covid-19 di tiap daerah dalam mengambil kebijakan tersebut.

 

3 dari 3 halaman

Adaptasi Kebijakan

Menurut Luhut, evaluasi PPKM dilakukan secaa berkala setiap minggunya. Sehingga, kata dia, kebijakan untuk menangani penyebaran Covid-19 di masyarakat bisa beradaptasi denganc epat dan menyesuaikan dengan perkembangan terbaru.

" Berbagai langkah yang diambil oleh Pemerintah didasarkan pada data dan perkembangan informasi terkini terkait Pandemi Covid-19," ujar Luhut.

Ia menambahkan, keputusan pembatalan penerapan kebijakan PPKM Level 3 di seluruh wilayah Indonesia saat Nataru juga didasarkan pada capaian vaksinasi Covid-19 di Jawa-Bali yang sudah cukup tinggi, yakni, dosis pertama mencapai 76 persen dan dosis kedua mendekati 56 persen.

" Vaksinasi lansia terus digenjot hingga saat ini mencapai 64 dan 42 persen untuk dosis 1 dan 2 di Jawa Bali. Sebagai perbandingan, belum ada masyarakat Indonesia yang divaksinasi pada periode Nataru tahun lalu," tutup dia.

Beri Komentar