Mantan Duet Ahok Beber Penyebab Kekalahan di Pilgub Babel

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Selasa, 7 Maret 2017 12:53
Mantan Duet Ahok Beber Penyebab Kekalahan di Pilgub Babel
Eko Cahyono memberikan keterangan dalam sidang Ahok. Dia menjelaskan penyebab kekalahan pada Pilgub Babel 10 tahun lalu.

Dream - Salah satu penyebab kegagalan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam pemilihan Gubernur Bangka Belitung adalah isu agama yang digulirkan secara masif. Masalah ini membuat Ahok tidak terpilih dalam Pilkada yang digelar sepuluh tahun silam.

Demikian diungkapkan oleh Eko Cahyono saat bersaksi dalam persidangan kasus penistaan agama dengan terdakwa Ahok di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa 7 Maret 2017.

" Serangan atas agama sedikit banyak mempengaruhi (kekalahan). Karena dilakukan secara masif dan berulang-ulang," kata Eko. Dia adalah Calon Wakil Gubernur yang kala itu berpasangan dengan Ahok.

Menurut Eko, pada saat itu banyak kampanye yang melarang memilih non-Muslim. Meski begitu, tambah Eko, kampanye tersebut bukanlah prioritas dan masyarakat sudah mulai melihat ke arah kinerja calon pemimpin.

" Karena isu tersebut memmengaruhi masyarakat dan memecah belah saja. Poinnya sebenarnya yang cakap bekerja," ucap saksi yang diajukan oleh Ahok itu.

Eko lalu merujuk kepada ucapan Presiden ke empat Indonesia, Abdurahman Wahid atau Gus Dur, yang menyebut tak ada larangan memilih non-Muslim sebagai pemimpin negara. " Gus Dur bilang boleh memilih pemimpin non-Muslim, tapi sebagai pemimpin negara," ujar dia.

1 dari 1 halaman

Saksi Lawan Ahok Meninggal, Jaksa Bacakan BAP

Sementara, saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU), Nandi Naksabandi, seharusnya hadir dan memberikan keterangan pada sidang hari ini. Tetapi, Nandi ternyata sudah meninggal dunia.

JPU lantas memohon kepada Majelis Hakim agar keterangan Nandi dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dapat dibacakan dalam persidangan.

" Sesuai dengan permintaan penuntut umum sebelumnya, kami persilakan untuk membacakan keterangan saksi pelapor yang sudah meninggal dunia, baru kami lanjutkan dengan saksi dari terdakwa," kata Ketua Majelis Hakim Dwiarso Budi Santiarto.

Ketua JPU, Ali Mukartono, kemudian membacakan BAP Nandi. Dalam BAP, Nandi mengaku tidak melihat langsung Ahok berbicara di depan warga Kepulauan Seribu.

Dia hanya mengetahui ucapan Ahok yang diduga menistakan Surat Al Maidah ayat 51 dari televisi dan YouTube. " Saya tahu pidato Ahok dari tv dan dari video YouTube," ujar Ali saat membacakan BAP.

Dalam BAP Nandi, Ahok dianggap telah merendahkan dan menghina para ulama. Sebab mengucapkan kalimat 'dibohongi pakai Surat Al Maidah 51 macam-macam itu'.

" Sehingga, apa yang diucapkan Ahok merupakan penodaan terhadap agama Islam," ucap Ali, melanjutkan membaca BAP.

Usai Ali membacakan BAP Nandi, Ahok pun langsung menyatakan keberatannya. Dia membantah disebut telah menistakan agama.

" Saya keberatan dituduh menodakan agama. Karena saya tak berniat. Karena saksi sudah meninggal saya doakan dilapangkan jalannya," tegas Ahok.

Beri Komentar