Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Tengkorak Homo Floresiensis (Sumber: AFP)
Dream - Misteri tentang manusia Hobbit akhirnya terkuak. Hobbit di sini bukan berarti kita telah menemukan makhluk kerdil dengan kaki lebar seperti di film seri Lord of the Rings.
Manusia Hobbit yang dimaksud adalah manusia kerdil yang telah punah sekitar 15.000 tahun di Pulau Flores, Indonesia.
Menurut penelitian para ahli, manusia Hobbit bukan termasuk golongan Homo Sapiens pada umumnya. Tapi mereka adalah spesies tersendiri. Temuan yang dipublikasikan pada Senin lalu ini telah menimbulkan perdebatan sengit di antara para ilmuwan.
Makhluk yang dikenal dengan sebutan Homo floresiensis ini fosilnya ditemukan di Flores pada 2003 silam. Hobbit dewasa tingginya hanya satu meter dengan berat badan rata-rata sekitar 25 kg.
Kontroversi telah menyeruak sejak ditemukan karena banyak ahli yang bingung menentukan, apakah mereka adalah cabang dari spesies manusia purba yang tidak diketahui, atau spesies manusia modern yang cacat karena penyakit.
Namun menurut studi terbaru, berdasarkan analisis dari tulang tengkorak Homo floresiensis, sangat diyakini makhluk berjuluk `Manusia Flores` ini bukan dari spesies Homo Sapiens.
Dengan pendekatan baru, sepasang ilmuwan di Perancis menggunakan alat berteknologi tinggi untuk meneliti lapisan dari tengkorak hobbit.
Lebih tepatnya, mereka melihat sisa-sisa Liang Bua 1 (dijuluki LB1), yang memiliki tempurung paling utuh dari sembilan spesimen yang diketahui.
" Sejauh ini, kami telah mendasarkan kesimpulan kami pada citra yang tidak memberikan informasi sangat banyak," kata pemimpin penulis Antoine Brazeau, seorang ilmuwan di Museum Sejarah Alam Perancis.
Bersama Philippe Charlier, seorang ahli palaentologi di Paris-Descartes University yang khusus memecahkan misteri medis kuno, Brazeau membuat gambar resolusi tinggi yang baru-baru ini dihasilkan di Jepang untuk menghitung peta variasi ketebalan tulang.
" Ada banyak informasi yang terkandung dalam lapisan tulang tengkorak," kata Brazeau kepada AFP. " Hasilnya, sangat jelas tidak ada karakteristik yang memperlihatkan bagian dari spesies kita, Homo sapiens."
Meski mereka menemukan bukti penyakit ringan, tidak ada temuan penyakit genetik yang sebelumnya ditunjukkan oleh peneliti lainnya.
Salah satu bagian dari misteri manusia Hobbit akhirnya bisa terkuak, namun masih ada sisa lainnya yang masih harus diteliti.
Untuk sementara para ilmuwan tidak bisa mengecualikan kemungkinan bahwa 'Hobbit' adalah versi mini dari Homo erectus, yang tiba di Pulau Jawa beberapa juta tahun yang lalu. Atau mereka tidak merasa yakin bahwa Homo floresiensis bukan spesies sendiri.
" Untuk saat ini, kita tidak bisa mengatakan salah satu atau yang lainnya," kata Balzeau.
Hasil penelitian mereka ini telah dipublikasikan dalam Journal of Human Evolution.
(Ism, Sumber: telegraph.co.uk)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya