Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Musik Keras Di Pesta Pernikahan Tingkatkan Risiko Serangan Jantung (Shutterstock)
Dream - Panggung musik untuk biduan atau suara speaker yang keras merupakan pemandangan awam yang sering kali kita lihat di sebuah resepsi pernikahan. Namun kejadian tragis di India bisa menjadi pelajaran untuk mulai mengatur volume yang aman terutama untuk tamu undangan yang memiliki penyakit jantung.
Belum lama ini Surendra Kumar (22), pria asal Sitamarhi di Bihar, India, dilaporkan meninggal dunia karena serangan jantung setelah bertukar karangan bunga dengan mempelai wanita di atas panggung.
Anggota keluarga mengatakan, mempelai pria pingsan di atas panggung setelah dia merasa tidak nyaman dengan suara keras musik di resepsi pernikahannya.
Peristiwa serupa juga dialami pemuda berusia 19 tahun yang pingsan kemudian meninggal saat menari di pesta pernikahan kerabatnya.
Peristiwa serupa kerap terjadi selama beberapa bulan terakhir di India. Para tamu pesta pernikahan tiba-tiba pingsan hingga meninggal dunia karena tidak tahan dengan musik keras.
Peristiwa tersebut pernah dijelaskan dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam European Heart Journal pada 2019.
Dilansir dari India Today, Penelitian tersebut mengungkap bahwa musik apa pun, baik keras maupun lembut, dapat membuat seseorang rentan dan lemah.
Peneliti melakukan survei pada 500 orang dewasa sehat, yang tinggal atau bekerja di dekat area pasar yang sibuk dan terus-menerus terpapar musik keras.
Studi yang dilakukan selama lima tahun ini mengungkapkan bahwa orang yang sebelumnya tidak punya riwayat penyakit jantung, menjadi rentan terkena serangan jantung.
Peneliti menemukan bahwa, setiap peningkatan 5 desibel dalam tingkat kebisingan rata-rata 24 jam, dapat meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, dan penyakit jantung serius lainnya sebesar 34 persen.
Ini juga memengaruhi amigdala (materi abu-abu di dalam otak) yang memainkan peran kunci dalam pengambilan keputusan.
Paparan kebisingan kronis menyebabkan bagian ini menyusut, sehingga menyebabkan masalah seperti agresi dan perubahan suasana hati.
Studi serupa juga dilakukan di Mainz University Medical Center di Jerman pada sekitar 15.000 orang berusia 35 hingga 74 tahun.
Studi mengungkapkan apabila musik meningkat melampaui batas wajar, dapat berdampak buruk pada hati manusia.
Saat seseorang terpapar musik keras, detak jantungnya meningkat dengan cepat, sama seperti saat jogging atau melakukan latihan fisik.
Detak jantung yang tidak teratur disebut fibrilasi atrium (AFib) dan karena itu, ada bahaya seperti serangan jantung, stroke otak, dan pembekuan darah.
Ilmuwan percaya bahwa aktivitas apa pun yang meningkatkan tekanan darah dapat memicu fibrilasi dan hal yang sama terjadi dengan suara keras.
Dalam hal ini, darah tidak mencapai dua bilik atas jantung dengan baik, sehingga aliran darah bilik bawah juga terganggu dan ini meningkatkan risiko serangan jantung.
Paparan suara dengan volume yang terlalu tinggi dapat membuat sel dan struktur sensorik di telinga lelah. Jika itu berlangsung terlalu lama, mereka bisa rusak secara permanen, mengakibatkan gangguan pendengaran.
Temuan sebagian besar penelitian mengungkapkan bahwa suara hingga 60 desibel adalah normal untuk telinga manusia.
Sedangkan aktivitas yang tidak aman bagi telinga yakni penggunaan headphone selama berjam-jam atau kehadiran di tempat hiburan, seperti konser, bar dan klub dan acara pernikahan.
Seseorang harus menghindari mendengarkan musik pada 100 desibel atau lebih selama lebih dari 15 menit karena sangat mempengaruhi kemampuan pendengaran. Suara di atas 50-70 desibel dianggap berbahaya yang mempengaruhi hati dan pikiran seseorang.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), satu dari dua anak muda berisiko kehilangan pendengaran akibat paparan musik keras dan suara rekreasi lainnya yang terlalu lama dan berlebihan.
Today is #WorldHearingDay!
1 in 2 young people are is at risk of hearing loss from prolonged and excessive exposure to loud music and other recreational sounds.
Find out how you can protect your hearing https://t.co/0bvXNbYgFw#SafeListening— World Health Organization (WHO) (@WHO)March 2, 2022
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya