Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Segala yang terjadi telah ditentukan oleh Allah SWT. Kita sebagai hambaNya hanya mampu berdoa, berusaha dan bertawakal akan apa yang terjadi.
Begitu juga dengan hari kematian kita, yang mana tidak seorang pun yang mampu menduga dan mengetahuinya.
Menurut Uztaz Emran Ahmad, kita memang tidak bisa mengetahui hari kematian. Namun kita masih bisa membuat persediaan atau persiapan untuk menghadapinya.
Berikut uraian dari Ustaz Emran untuk mengetahui obat buat kita yang takut akan kematian.
© Dream
Kenapa kita merasa takut mati dan merasa cemas atau khawatir ketika memikirkan tentang kematian?
Jawabannya karena kita terlalu mencintai dunia dan kehidupan ini serta merasa sayang untuk meninggalkannya.
Sebagian orang juga merasa khawatir atau takut untuk mati karena menyangka kehidupannya akan berakhir dan tidak ada apa-apa lagi setelah mati.
Orang seperti ini tidak percaya ada alam ruh atau akhirat. Mereka tidak punya kesadaran tentang masalah tersebut kecuali sebuah akhir yang sia-sia.
Justru memikirkan tentang kematian menyebabkan golongan ini menjadi tertekan, cemas dan khawatir serta merasa ketakutan.
Untuk itu dibutuhkan obat, yaitu berupa kesadaran seperti dalam poin-poin berikut ini:
© Dream
1. Kematian adalah pasti. Semua orang di seluruh dunia ini akan menghadapinya baik cepat atau pun lambat. Ini merupakan proses kehidupan yang harus dilalui oleh semua makhluk. Justru pasrah, ridha dan menerima hakikat ini adalah obat yang pertama.
2. Kalau sudah menyadari kita akan mati, buatlah persiapan awal-awal sebelum datang saat kematian yang tidak diketahui kapan. Semakin cepat kita bertindak dan siap adalah lebih baik.
Persiapan untuk mati ada dua, yaitu; persediaan untuk meninggalkan dunia ini, dan persiapan untuk menghadapi kehidupan setelah mati.
Ada orang yang siap untuk mati, tetapi sekedar untuk meninggalkan dunia ini saja. Dia membuat wasiat. Dia menikmati hidup ini dengan sebaik-baiknya.
Dia mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi kematian dengan tenang dan pasrah menerima kenyataan hidup. Namun dia tidak siap dengan kehidupan setelah mati.
Masalah ini sering dihadapi oleh orang yang bergelar Islam karena keturunan. Mereka tidak melalui fase pencarian kepercayaan atau keimanan. Sebaliknya hanya mewarisi agama dari orang tua atau keluarga lingkungan.
© Dream
3. Kehidupan setelah mati melibatkan soal kepercayaan dan keimanan seseorang terhadap agama, Al-Quran dan sunnah serta keyakinan kepada Tuhan.
Untuk menyelesaikan masalah krisis keimanan dan keyakinan, perjalanan mencari kebenaran harus dilakukan oleh individu tersebut. Mereka harus melalui perjalanan mencari hidayah dan petunjuk!
Caranya? Dengan mendalami ilmu tentang ketuhanan dan agama, bepergian untuk melihat alam dan kebesarannya serta menghayati kebenaran melalui argumen, penelitian dan menjawab persoalan yang memperkuat keyakinan.
Hanya dengan melakukan pencarian Iman dan hidayah barulah golongan Islam karena keturunan menemukan kembali nilai agama dan keimanan yang selama ini diambil secara sembarangan atau diterima apa adanya.
4. Beramal saleh dan bersungguh-sungguh untuk mengumpulkan bekal di akhirat. Dan hal ini akan lebih berarti setelah seseorang memperoleh keyakinan dan keimanan yang teguh hasil dari rasa penat dan payah mencari kebenaran dan hidayah.
Kesimpulannya, perjalanan dan kewajiban kita masih jauh dari selesai dan sangat membutuhkan fokus yang serius dari kita.
Justru kita harus sadar bahwa kita tidak memiliki waktu untuk menyibukkan diri dengan hal yang remeh-temeh dan sia-sia di dunia ini.
Marilah bersiap-siap dengan amalan dan perbuatan yang bisa dijadikan bekal untuk menghadapi kematian dan kehidupan yang kekal!
(Sumber: siakapkeli.my)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya