Sudah Tahu Positif Corona, Warga di NTB Ikut Sholat Tarawih di Masjid

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Kamis, 30 April 2020 16:12
Sudah Tahu Positif Corona, Warga di NTB Ikut Sholat Tarawih di Masjid
Warga lain yang mengikuti sholat tarawih berjamaah di masjid terkena imbasnya. Diperiksa tim medis karena dikhawatirkan terpapar Covid-19

Dream - Orang positif Covid-19 berinisial S tidak mengindahkan anjuran untuk menjalankan isolasi. Malah, pria asal Kelurahan Cakranegara Barat, Kota Mataram, NTB, nekat mengikuti sholat Tarawih di masjid.

Tim medis dari Puskesmas Taliwang sempat mendatangi kediaman S. Namun yang bersangkutan tidak berada di rumah dan sedang mengikuti sholat Tarawih berjamaah di masjid. Ketika S kembali, petugas bermaksud membawanya ke rumah sakit.

Petugas juga akan melaksanakan contact tracing untuk mengetahui kemungkinan virus corona menulari jemaah lain yang mengikuti sholat tarawih di masjid tersebut.

" Saat kami melakukan pengecekan ke rumahnya, yang bersangkutan justru tidak ada. Mestinya kan isolasi mandiri sejak kepulangannya dari Gowa Makassar. Kami cek justru sholat Tarawih bersama banyak warga di Masjid Nurul Yaqin," ujar Camat Cakranegara, Erwan.

 

1 dari 4 halaman

Punya Riwayat Hadiri Ijtimak Majelis Tabligh

Erwan mengatakan, S memiliki riwayat pernah menghadiri Ijtima Ulama Sedunia yang digelar Majelis Tabligh di Gowa, Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu. Acara ini dibatalkan karena muncul kekhawatiran adanya penyebaran Covid-19.

S kemudian dites swab dan dinyatakan terpapar Covid-19. Ketika mengetahui hasil laboratorium, S tidak segera memberitahu kepala lingkungan.

Alhasil, warga sekitar tidak tahu ternyata S positif Covid-19. Seharusnya menjalankan isolasi.

Setelah mendapat informasi ini, petugas menggunakan APD lengkap mendatangi lingkungan tempat tinggal S. Tetapi, S malah menolak diisolasi dan mengamuk.

S merasa sehat dan tidak memiliki gejala seperti pasien Covid-19 pada umumnya. S juga sempat terlibat adu mulut dengan petugas.

Tetapi akhirnya, pria 57 tahun ini melunak ketika diberi pengertian keberadaannya membahayakan warga sekitar serta keluarganya. S kemudian secara sukarela dibawa tim medis menggunakan ambulans menuju ke RSUD Kota Mataram untuk menjalani isolasi dan mendapat perawatan.

2 dari 4 halaman

Ini Videonya

      Lihat postingan ini di Instagram

Sebelum dibawa ke rumah sakit, S, pasien positif Covid-19 asal Kelurahan Cakranegara Barat, Kota Mataram, NTB, baru selesai shalat tarawih di masjid lingkungan sekitar. . Untuk itu, hari ini tim medis dari Puskesmas Taliwang akan ke lingkungan tempat pasien S tinggal melakukan tracing kontak pasien. Hal itu dilakukan mengingat banyak masyarakat yang turut melakukan shalat tarawih bersama S. . " Saat kami melakukan pengecekan ke rumahnya, yang bersangkutan justru tidak ada. Mestinya kan isolasi mandiri sejak kepulangannya dari Gowa Makassar. Kami cek justru shalat tarawih bersama banyak warga di Masjid Nurul Yakin, " kata Camat Cakranegara Erwan saat dikonfirmasi, Kamis (30/4/2020). . Erwan mengatakan, S memiliki riwayat menghadiri Ijtima Ulama Sedunia di Gowa, Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu. . S kemudian dites swab, dan belakangan diketahui hasilnya positif. Namun, S tidak memberitahu kepala lingkungan bahwa dia dites swab. Sehingga warga tidak mengetahui bahwa S harusnya menjalani isolasi, Petugas ber-APD lengkap mendatangi rumah S, tapi pasien ini malah menolak diisolasi. . Dia merasa sehat, dan tidak memiliki gejala seperti pasien Covid-19 pada umumnya. . Sempat terjadi perdebatan alot antara S dengan petugas. Namun, akhirnya pria berusia 57 tahun ini melunak setelah dijelaskan bahwa keberadaannya membahayakan warga lain juga keluarga, . S akhirnya dengan sukarela dibawa tim medis naik ambulans ke RSUD Kota Mataram untuk menjalani isolasi. . Artikel : Kompas.com

Sebuah kiriman dibagikan oleh OFFICIAL MAKASSAR INFO (@makassar_iinfo) pada

3 dari 4 halaman

Distribusi Makanan Halal di New York Meningkat Saat Ramadhan

Dream - Merebaknya wabah virus corona telah membuat suasana Ramadhan tahun ini terasa berbeda dari sebelumnya. Tradisi buka bersama dan ibadah berjemaah terpaksa tak bisa lagi dilakukan.

Hal mengecewakan ini hampir terjadi di seluruh belahan dunia, tak terkecuali di New York. Kebijakan penutupan atau lockdown yang diterapkan di kota metropolitan Amerika Serikat itu membuat aktivitas sosial terhambat.

Adanya kebijakan social distancing membuat masjid di New York tak bisa lagi menyediakan hidangan buka puasa gratis bagi Muslim. Utamanya bagi mereka yang kurang mampu.

Pemerintah Kota New York pun memberikan kepastian menjamin ketersediaan makanan. Tidak terkecuali makanan halal, yang jumlahnya mengalami peningkatan selama Ramadhan dibanding hari-hari biasa.

Dikutip dari Arabnews.com, Walikota New York, Bill de Blasio mengungkapkan pemerintah menyediakan 400 ribu porsi makanan halal gratis yang akan diantarkan ke tiap rumah yang dihuni Muslim.

Selain itu, ada 150 ribu porsi makanan halal tambahan yang berasal dari organisasi berbasis komunitas yang melayani Muslim New York.

 

4 dari 4 halaman

Diantar ke Rumah

Sejauh ini, New York telah mendistribusikan hampir 7 juta makanan melalui berbagai program untuk umat Muslim dan masyarakat yang membutuhkan. Pembagian makanan halal tersebut tersebar di 432 area dengan 32 area yang dikelola oleh komunitas Muslim paling besar di kota New York.

Sistem pembagian makanan gratis tersebut dilakukan dengan 'take away'. Bagi masyarakat yang tidak bisa meninggalkan rumah, dapat meminta pihak pelayanan untuk melakukan pelayanan secara 'delivery'. Hal ini juga sebagai bentuk penerapan dari kebijakan social distancing di kota New York.

“ Bagi jutaan orang di seluruh dunia, bulan suci ini adalah kesempatan untuk memperbarui dan memperkuat iman mereka melalui puasa, doa yang shaleh, meditasi reflektif, membaca Alquran, dan beramal. Tindakan-tindakan ini sangat selaras dengan nilai-nilai yang diajakarkan agama Islam - perdamaian, kebaikan, dan cinta serta rasa hormat kepada orang lain," tutur de Blasio.

De Blasio juga berdoa agar mereka yang merayakan Ramadhan segera menemukan kenyamanan dan kenikmatan beribadah dalam keadaan pandemi seperti saat ini.

Diketahui kota New York telah ditetapkan menjadi 'hot-spot' persebaran virus corona tertinggi di Amerika Serikat. Kasus positif Covid-19 tertinggi berasal dari New York.

Beri Komentar