Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Ilustrasi Pasangan Menikah. (Foto: Shuttersock)
Dream - Pandemi Covid-19 berdampak pada perekonomian yang mengakibatkan menurunnya daya beli masyarakat, terutama dari kalangan menengah ke bawah.
Selain menurunnya daya beli masyarakat, pandemi yang disebabkan virus corona ini juga meningkatkan terjadinya kasus perceraian.
Hal ini terlihat dari data Pengadilan Tinggi Agama Banjarmasin yang memperlihatkan jumlah kasus perceraian yang meningkat sejak Januari sampai Maret 2021.
Menurut Plh Panitera Pengadilan Tinggi Agama Banjarmasin, Hj Murijati, kasus perceraian yang diputus PA seluruh Kalimantan Selatan pada bulan Januari 2021 hanya sekitar 342 perkara.
Namun, memasuki bulan Februari, perkara meningkat hingga dua kali lipat menjadi 752 perkara.
" Pada bulan Maret naik lagi, ada 878 perkara perceraian yang diputus," kata Hj Murijati.
Dari jumlah perkara perceraian yang diputus setiap bulannya, kebanyakan akibat istri menggugat cerai suami atau yang biasa disebut dengan istilah cerai gugat.
Kasus cerai gugat ini sering terjadi lantaran adanya perselisihan dan pertengkaran terus-menerus antara pasangan suami-istri.
Perselisihan tersebut terjadi karena beberapa faktor. Namun sebagian besar karena faktor ekonomi yang dipicu pandemi Covid-19.
Di tengah pandemi Covid-19, ekonomi masyarakat makin turun hingga menyebabkan kasus perceraian meningkat.
" Tahun lalu masih belum terasa. Meskipun ada yang kena PHK, mereka masih punya cadangan uang.
" Tahun ini, kasus perceraian mulai meningkat lantaran banyak masyarakat yang sudah kesulitan ekonomi," jelas Hj Murijati.
Salah satu contoh perceraian yang dipicu faktor ekonomi akibat pandemi Covid-19 ini dialami wanita bernama Marlina.
Wanita berusia 35 tahun itu belum lama ini bercerai dari suaminya. Katanya, suaminya tidak punya pekerjaan.
Namun, bukannya berusaha mencari pekerjaan, suaminya malah sibuk dengan ayam jagonya.
" Suami saya cuma sibuk ngurusin ayam jagonya," keluh Marlina.
Kasus perceraian yang dialami Marlina ini termasuk perkara cerai gugat yang meningkat di Kalsel.
Pada Januari misalnya, cerai gugat mencapai 260 perkara. Sedangkan, cerai talak cuma 82 perkara.
Di bulan kedua, cerai gugat meningkat jadi 584 perkara sementara cerai talak naik menjadi 168.
" Sedangkan pada Maret, cerai gugat mencapai 699 perkara dan cerai talak hanya 179," pungkas Hj Murijati.
Sumber: Radar Banjarmasin
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam