PBNU Wajibkan Nahdliyin Pakai Vaksin Covid-19 Booster Halal

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 14 Januari 2022 09:12
PBNU Wajibkan Nahdliyin Pakai Vaksin Covid-19 Booster Halal
Ada vaksin yang sudah difatwa halal oleh MUI.

Dream - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menyatakan wajib bagi para Nahdliyin (warga NU) menggunakan vaksin Covid-19 booster yang sudah ditetapkan halal. Status kehalalan tersebut merujuk pada fatwa yang telah diterbitkan Majelis Ulama Indonesia.

Katib Aam PBNU, KH Ahmad Said Asrari, menegaskan status vaksin sudah sangat jelas. Antara yang halal dan non-halal sudah sangat tegas dibedakan.

" Kalau ada yang halal kepada mesti pakai yang tidak halal? Kan itu berdosa," ujar Kiai Said.

Dia meminta Nahdliyin terus konsisten menggunakan produk halal. Tidak terkecuali vaksin dengan memilih booster halal.

" Semua warga NU berupaya keras dalam segala hal terutama apa yang dikonsumsi pasti mencari yang halal," kata dia.

Bahkan, terang Kiai Said, tidak semata halal. Tetapi juga thayyiban.

" Yang halal berkualitas, ini pedoman kita," kata dia.

 

1 dari 3 halaman

Sikap PBNU Tegas

Kiai Said juga mengingatkan pesan Ketua Umum PBNU masa khidmat 2015-2020, KH Said Aqil Siradj yang menyatakan warga NU memprioritaskan vaksin halal. Dia menegaskan hal ini menjadi sikap tegas NU.

" Sudah pasti PBNU hal itu (halal-haram) harus jelas kan, al halalu bayyinun wal haramu bayyinun. Non-halal itu sesuatu yang harus jelas, halal juga, kalau tidak jelas itu menjadi perkara yang syubhat (samar atau meragukan)," kata dia.

MUI telah mengeluarkan fatwa halal untuk beberapa merek vaksin yaitu Sinovac dan Zifivax. Dua vaksin ini sudah mengantongi sertifikat kehalalan MUI.

Sementara vaksin lain seperti Pfizer, Moderna, AstraZeneca, Johnson & Johnson, serta Sinopharm tidak mendapatkan fatwa halal MUI. Meski demikian, MUI tetap membolehkan penggunaan vaksin tersebut dengan pertimbangan kedaruratan, dikutip Merdeka.com.

2 dari 3 halaman

Ini Alasan Vaksinasi Booster Covid-19 Diberikan Setengah Dosis

Dream - Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan memutuskan untuk memberikan vaksinasi booster Covid-19. Hal ini mengingat terjadinya peningkatan kasus Covid-19 varian Omicron di berbagai negara.

Mulai 12 Januari 2022 kemarin vaksinasi booster mulai dilakukan. Kelompok lanjut usia (lansia) dan tenaga medis yang didahulukan untuk mendapat booster vaksin Covid-19.

Untuk kombinasi jenis vaksin yang digunakan, berdasarkan rekomendasi tim peneliti dalam dan luar negerti. Termasuk juga sudah dikonfirmasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI).

Dikutip dari Kemkes.go.id, untuk mereka yang mendapat vaksin primer Sinovac atau vaksin dosis pertama dan kedua Sinovac akan diberikan vaksin booster setengah dosis Pfizer atau AstraZeneca.

Lalu, mereka yang mendapat vaksin primer AstraZeneca atau vaksin dosis pertama dan kedua AstraZeneca akan diberikan vaksin booster setengah dosis Moderna.

“ Ini adalah kombinasi awal vaksin booster yang akan kita berikan berdasarkan ketersediaan vaksin yang ada, dan juga hasil riset yang sudah disetujui oleh Badan POM dan ITAGI. Nantinya bisa berkembang tergantung kepada hasil riset baru yang masuk dan juga ketersediaan vaksin yang ada,” ujar Menkes Budi.

Seluruh kombinasi ini, lanjut Menkes, sudah mendapatkan persetujuan dari BPOM dan juga rekomendasi dari ITAGI. Kombinasi vaksin booster juga sudah sesuai dengan rekomendasi WHO di mana pemberian vaksin booster dapat menggunakan vaksin yang sejenis atau homolog atau juga bisa vaksin yang berbeda atau heterolog.

 

3 dari 3 halaman

Setengah Dosis Sama Efektifnya

Heterolog diartikan sebagai vaksinasi booster yang menggunakan jenis vaksin berbeda dengan dosis pertama dan dosis kedua. Sementara Homolog merupakan vaksinasi booster dengan menggunakan jenis vaksin yang sama seperti vaksinasi dosis pertama dan kedua.

“ Hal ini kembali diberikan keleluasaan kepada masing-masing negara untuk bisa menerapkan program vaksin booster yang sesuai dengan kondisi ketersediaan vaksin dan logistik sesuai dengan masing-masing negara pelaksana pemberian vaksin booster,” ujarnya.

Vaksin booster akan diberikan setengah dosis, tidak seperti dosis vaksin primer. Hal ini karena menurut penelitian, vaksin booster setengah dosis menunjukkan peningkatan level antibodi yang relatif sama dengan vaksin booster dosis penuh, dan memberikan dampak KIPI (Kejadian Ikutan Paska Imunisasi) yang lebih ringan.

Beri Komentar