Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: MuslimVillage.com)
Dream - Setiap pasangan yang berumahtangga pasti memimpikan pernikahan yang bahagia dan kekal hingga akhir hayat.
Namun, setiap pernikahan pasti ada ujiannya dan tidak semua pasangan berhasil mengatasi ujian tersebut.
Berikut adalah kisah sebuah pernikahan yang telah lama terbina namun terpaksa bubar.
Menurut Nini Ruspawan, netizen asal Malaysia yang membagikan kisah ini, gagalnya pernikahan pasangan tersebut bukan karena tak cinta, tapi tak ingin terus menanggung dosa.
Berikut ini kisahnya:
© Dream
Saat pergi ke pengadilan agama pada bulan Mei tahun kemarin, untuk pertama kali aku jumpa seorang kakak (sudah ibu-ibu sebenarnya), yang datang mengajukan tuntutan fasakh (melepaskan ikatan perkawinan melalui hakim) terhadap suaminya.
Kakak ini adalah pensiunan sebuah sekolah menengah 12 tahun yang lalu. Dia menuntut fasakh dari suaminya pada usia perkawinan yang telah berusia lebih dari 40 tahun.
Dia menuntut fasakh sebab takut dosanya dan suami makin bertambah. " Kami berdua sudah gagal menjalankan tanggung jawab," katanya.
Sebenarnya, dia merasa sayang harus menuntut fasakh karena sudah punya cucu. Suaminya juga tipe orang yang penyayang, bertanggung jawab, dan penuh penghormatan.
Semua orang melihat kakak itu dan suaminya adalah pasangan yang penuh kasih sayang. Sehingga timbul dalam dirinya rasa sombong karena selalu memandang rendah rumah tangga orang lain.
" Saya selalu memandang rendah orang lain yang rumah tangganya mendapat masalah. Saya selalu merasa semua itu karena istri tak pandai jaga suami atau mereka tak pintar mendekatkan diri kepada Allah," kata kakak itu.
© Dream
Hidup kakak ini juga tak ada banyak masalah. Anak-anak semua sukses. Masalah sedikit-sedikit itu biasa. Pokoknya semua kehidupan rumah tangganya berjalan lancar.
Sampai tiba masanya ketika ujian dari Allah datang. Setelah pensiun, kehidupan rumah tangga makin mesra karena makin punya banyak waktu untuk bersama.
Tapi 3 tahun sebelum dia menuntut fasakh, suaminya kawin lagi dengan seorang janda. Dan hal-hal indah dan menyenangkan yang diberikan suami sebelumnya, sekarang telah tercurah ke istri muda.
Kakak ini bilang, suaminya bukannya tak sayang dia dan anak-anaknya lagi. Tapi kasih dan sayangnya kini telah terbagi.
" Awalnya semuanya terkendali. Tapi makin lama makin hilang. Sampai suami tidak balik-balik lagi ke rumah dan mengabaikan tanggung jawab terhadap saya," kata kakak tersebut.
Semua cara sudah dicoba untuk mengembalikan segalanya seperti semula. Tapi nampaknya tidak berjalan seperti yang dibayangkannya. Sehingga fasakh jadi pilihan terakhirnya.
" Itu karena kakak ini tak ingin menanggung dosa yang semakin bertambah," katanya.
Menurut kakak itu, salah satu hal yang dia peroleh dari pengalamannya itu adalah dalam situasi apa pun, bersangka baiklah.
" Mungkin ini balasan untuk saya sebab dulu suka bersangka buruk kepada orang lain, terhadap rumah tangga mereka. Asal melihat rumah tangga orang lain bermasalah, saya berprasangka buruk pada mereka."
Sekarang, Allah mengujinya dan tiba-tiba pernikahannya yang tampak bahagia itu harus bubar pada usia lebih dari 40 tahun.
Apa yang aku ingin bagikan di sini adalah kepada semua pasangan yang menikah, yang dikaruniai suami yang baik -bertanggung jawab, penyayang, tak curang- maka bersyukurlah kepada Allah.
Jangan sekali-sekali, walau terbetik dalam hati, untuk memandang rendah orang lain yang diuji dengan suami yang ‘macam-macam’, istri yang tak pandai jaga suami, atau rumah tangga yang tak dekat dengan Allah.
Jangan pernah merasa selamat dengan pernikahan kita. Karena ujian Allah itu bisa datang kapan saja. Dan jangan sekali-sekali pandang hina pada wanita-wanita yang diceraikan oleh suami, atau yang menuntut cerai dari suami. Kita tak pernah tahu nasib kita. Hati manusia itu selalu berubah-ubah.
(Sumber: ohbulan.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya