Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Evakuasi Jasad Penumpang Bus Primajasa Di RSUD Subang (Foto: Istimewa)
Dream - Seorang penumpang bus Primajasa bernomor polisi B 7653 FGA jurusan Lebak Bulus-Kuningan meninggal dunia di Kilometer 102 Tol Cipali, Senin, 23 Maret 2020. Video evakuasi korban itu menjadi pembicaraan warganet karena petugas memakai alat perlindungan diri (APD).
Dilaporkan Merdeka.com, jasad pria itu dievakuasi ke RSUD Ciereng, Subang, Jawa Barat. Direktur RSUD Subang, Ahmad Nasuhi membenarkan pasien meninggal tersebut merupakan penumpang bus Primajasa.
Dia menyebut, sopir bus membawa jasad itu ke depan area rumah sakit. Petugas medis yang berjaga mengevakuasi korban dalam bus menggunakan alat pelindung diri untuk mencegah hal yang tak diinginkan.
" Untuk mencegah penyebaran virus corona maka SOP dalam penanganan korban menggunakan APD," kata Ahmad.
Meski demikian, dia tak dapat menyimpulkan pasien tersebut meninggal karena infeksi Covid-19. Sebab, saat dievakuasi ke RSUD kondisinya sudah meninggal dunia. Petugas tidak melakukan pemeriksaan medis secara detail.
" Kami tidak bisa menyimpulkan penyebab korban meninggal ," ucap dia.
Sementara itu, dilaporkan di media sosial, pengurus PO Bus Primajasa Perdana Raya Utama menyebut, penumpang itu berasal dari Cirebon.
Menurut dokter, korban meninggal karena maag kronis. " Kemudian tersebarlah isu, seluruh penumpang dan awak bis dikarantina di Ciereng, Subang," kata pengurus PO Primajasa.
View this post on Instagram
Sumber: Merdeka.com/Bram Salam
Dream – Pengguna sosial media sebaiknya mulai waspada dan tak menelan informasi yang beredar mentah-mentah. Di tengah kepanikan akibat wabah virus corona baru, Covid-19, banyak orang membagian video atau foto dengan narasi yang tak bisa dipertanggungjawabkan.
Salah satunya terlihat dari video seorang penumpang yang terlihat kejang-kejang di gerbong KRL tujuan Bogor pada Selasa 17 Maret 2020. Seperti yang diunggah oleh warganet Twitter @bibs_sn. Kala itu, dia bertanya tentang kebenaran video penumpang kejang-kejang kepada sejumlah akun komunitas pengguna KRL.
" @AnkerTwitter @CurhatKRL @CommuterLine maaf minta tolong, min, yang tau sebenarnya ini gimana, ya? Dapat dari grup WA katanya kereta arah Bogor dan ini positif covid-19. Tapi aku kurang percaya. Mohon bantu info yang sebenarnya yaaa," cuit @bibs_sn.

PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) dalam keterangan tertulisnya membantah kabar tersebut.
Vice President Corporate Communication KCI, Anne Purba, menegaskan penumpang tersebut mempunya riwayat sakit lambung dan malam itu terlambat makan.
Anne menjelaskan kejadian itu berlangsung pada pukul 21.00 di KRL KA 1576 tujuan Bogor. Petugas membantu penumpang dan membawanya ke pos kesehatan Stasiun Pondok Cina.
“ Setelah mendapat perawatan di pos kesehatan, pengguna mengaku memiliki riwayat sakit lambung, dan malam itu yang bersangkutan telat makan,” kata dia di Jakarta, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Kamis 19 Maret 2020.
Di pos kesehatan, lanjut Anne, ada petugas yang berlatar belakang perawat dan bidan yang siap melayani penumpang jika mengalami masalah kesehatan. “ Setelah diberikan air hangat dan obat, penumpang yang sakit itu pulih dan keluar dari stasiun untuk melanjutkan perjalanan pulang,” kata dia.
Anne meminta semua pihak untuk tidak membuat dokumentasi dan menyebarkannya ke media sosial yang belum tentu kebenarannya, apalagi disangkutpautkan dengan pandemi corona. Penyebar dokumentasi tanpa penjelasan yang benar dan lengkap bisa menimbulkan berita bohong atau disinformasi. Tindakan tersebut berlawanan dengan Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
“ Dibanding membuat dokumentasi, KCI mengajak masyarakat terutama pengguna KRL untuk mengutamakan membantu sesama dan segera memberi tahu kepada petugas,” kata dia.
Dream - PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) angkat bicara tentang virus corona berpotensi menyebar di KRL. Anak usaha PT Kereta Api Indonesia (Persero) ini menyebut kejadian sebenarnya tak seperti yang tertangkap di gambar yang beredar di media sosial.
" PT KCI pada hari ini menghadiri rapat membahas protokoler penanganan penyebaran virus corona bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Rapat yang dihadiri KCI berbeda dengan rapat yang dokumentasi fotonya beredar tersebut," kata Vice President Corporate Communication KCI, Anne Purba, di Jakarta, dikutip dari Liputan6.com, Kamis 12 Maret 2020.
Anne mengatakan KCI mengerahkan seluruh sumber daya untuk mengantisipasi peredaran virus corona. Misalnya, edukasi untuk mencegah penularan virus berkode Covid-19.
![]()
Hal ini telah dilakukan sejak 3 Februari 2020. Salah satunya edukasi tentang cuci tangan yang benar dan membagikan masker kepada pengguna di 36 stasiun.
" Dua, menyediakan lebih dari 700 botol hand sanitizer untuk 88 rangkaian kereta dan 80 stasiun. Tiga, rutin membersihkan seluruh rangkaian kereta seusai beroperasi dengan menggunakan cairan pembersih yang mengandung disinfektan. Empat, menugaskan On Trip Cleaning yang membersihkan rangkaian kereta saat sedang beroperasi melayani pengguna," kata dia.
KCI juga memberikan materi edukasi dan imbauan di 88 rangkaian kereta dan 80 stasiun. Selanjutnya menyiapkan pos kesehatan di 30 stasiun KRL yang dapat memberikan pertolongan pertama jika pengguna mengalami masalah kesehatan.
" Di pos ini, pengguna juga dapat mengukur suhu tubuh, mendapatkan masker, hingga obat-obatan. Jika tidak dapat ditangani, petugas kesehatan akan merujuk pengguna ke rumah sakit terdekat. Tujuh, mewajibkan pegawai frontliner yang berinteraksi langsung dengan pelanggan untuk cek kesehatan termasuk suhu tubuh sebelum berdinas," kata dia.
Tidak sampai di situ PT KCI, terus melakukan upaya sosialisasi dan antisipasi. Pekan lalu, bekerja sama dengan PT KAI Daop 1 Jakarta, PT KCI mengadakan kegiatan rail clinic di Stasiun Depok dan Bogor.
Pada kegiatan ini, KAI mengerahkan kereta Rail Clinic yang melayani pengobatan gratis dan cek kesehatan bagi penumpang, serta memberikan edukasi mengenai kebersihan dan gaya hidup sehat untuk menangkal virus corona.
" Dalam waktu dekat, kereta Rail Clinic juga akan hadir kembali di lintas Bogor-Depok untuk memberi edukasi dan layanan kesehatan," kata Anne.
Mulai Kamis 12 Maret 2020, tim kesehatan bersama jajaran pegawai KCI juga akan melakukan roadshow sosialisasi lanjutan ke sejumlah stasiun untuk melanjutkan upaya edukasi, membagikan masker, dan menjelaskan upaya-upaya pencegahan penyebaran virus Corona yang dapat diikuti pengguna.
Petugas juga akan melakukan random check suhu tubuh pengguna di stasiun-stasiun.
(Sumber: Liputan6.com/Ika Defianti, Rita Ayuningtyas)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya