Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Demo Di Eropa Menyusul Kenaikan Harga Gas Gila-gilaan Jelang Musim Dingin (Press TV)
Dream - Ada yang berbeda di Menara Eiffel, monumen terkenal kota Paris, Perancis, menjelang musim dingin ini. Di tengah tagihan listrik yang melonjak di kawasan Eropa, pencahayaan gemerlap di malam hari yang luar biasa di menara legendaris itu mulai dipertanyakan.
Landmark kota Paris saat ini biasanya tetap menyala sampai pukul 1 pagi setiap harinya. Tetapi balai kota Paris bakal mematikan seluruh lampu di Menara Eiffel pada pukul 23.35 waktu setempat. Atau 1,5 jam lebih cepat.
“ Ini adalah isyarat yang sangat simbolis. Bagian dari kesadaran yang berkembang seputar penghematan energi,” kata Jean-François Martins, kepala manajemen menara kepada harian The Guardian.

(Menara Eiffel di malam hari/Youtube)
Langkah serupa juga telah dilakukan di seluruh Eropa musim panas ini: Pihak berwenang di Berlin, Jerman, juga telah mengurangi pencahayaan malam hari di Kolom Kemenangan dan Gereja Memorial Kaiser Wilhelm, seperti yang dilakukan rekan-rekan mereka di Marseille di Istana Pharo dan monumen lainnya.
Tapi ketakutan yang sebenarnya adalah akan datangnya segera musim dingin. Saat Eropa menghadapi biaya energi yang melonjak yang dipicu oleh inflasi, perang Ukraina, cuaca ekstrem dan penghentian pasokan gas Rusia ke Eropa. Mengurangi konsumsi listrik sebelum suhu dingin datang karenanya menjadi sangat penting.
“ Lima hingga 10 musim dingin berikutnya akan mengerikan jika tidak ada yang dilakukan,” tweet Menteri Energi Belgia, Tinne Van der Straeten, akhir bulan lalu.
Pada tanggal 26 Juli, Uni Eropa mengumumkan kesepakatan untuk memotong penggunaan gas alam sebesar 15% pada musim dingin ini.
Rencana penghematan energi di seluruh Eropa itu termasuk larangan pengunaan kolam renang pribadi berpemanas di Jerman, mematikan lampu dan tanda-tanda yang menyala yang biasa terdapat di pertokoan di Prancis, dan penyejuk udara terbatas pada 27°C di gedung-gedung publik di Spanyol.
Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan bahwa Eropa dan negaranya siap menghadapi dampak dari pemotongan pasokan gas oleh Rusia, tetapi para kritikus dengan cepat menyatakan keraguan.

(Kanselir Jerman Olaf Scholtz/DW)
Seperti dikutip Fortune, Marcel Fratzscher, presiden lembaga think tank Jerman DIW, berujar bahwa " banyak perusahaan akan bangkrut" karena krisis energi, dan bahwa " resesi ekonomi tidak dapat dihindari."
Di tengah pesimisme seperti itu, mematikan lampu sedikit lebih awal di monumen mungkin tampak seperti langkah yang remeh. Tetapi seperti yang dicatat Martins, itu adalah " gerakan yang sangat simbolis" —dan hanya sedikit simbol yang lebih dikenal daripada Menara Eiffel.
Krisis energi memang tengah menghantam benua Eropa.
***
Perang energi antara Rusia dan Barat terkait perang di Ukraina pecah secara terbuka hari Jumat 2 September 2022 lalu, ketika Moskow menunda pembukaan kembali pipa gas utamanya ke Jerman, sementara negara-negara G-7 mengumumkan pembatasan harga pada ekspor minyak Rusia.
Raksasa energi Rusia Gazprom yang merupakan BUMN Rusia, mengatakan tidak bisa melanjutkan pasokan gas alam ke Jerman, hanya beberapa jam sebelum dijadwalkan memulai kembali pengiriman gas melalui pipa Nord Stream 1.
Rusia menyebut adanya masalah teknis dalam jaringan pipa gas sebagai penyebab langkah tersebut, yang kemungkinan akan memperburuk krisis energi di Eropa.

(Pipa gas Nord Stream 1 milik Gazprom Rusia yang menuju Jerman/DW)
Juru bicara Komisi Eropa Eric Mamer di Twitter menuduh tindakan Gazprom untuk menutup pipa Nord Stream 1 berdasarkan " dalih yang mengada-ada" .
Moskow menyalahkan pemberlakuan sanksi Barat setelah Rusia menginvasi Ukraina, yang menghalangi perawatan pada pipa gas tersebut.
Eropa menuduh Rusia menggunakan pengaruhnya sebagai pemasok gas untuk membalas sanksi Eropa.
Sementara Kremlin menyebut sanksi negara-negara Barat adalah satu-satunya alasan di balik keputusan Rusia menutup pipa Nord Stream 1 yang mengalirkan gas ke Jerman. Semula Moskow mengatakan akan menutup pipa yang memasok gas ke Eropa itu untuk pemeliharaan.
“ Sanksi Barat mencegah unit-unit tersebut diservis, mencegah dipindahkan tanpa jaminan hukum yang sesuai. Sanksi-sanksi negara-negara Barat inilah yang telah membawa situasi seperti yang kita lihat sekarang,” kata Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov seperti dikutip dari Al Jazeera.

(Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov/TASS)
Di hari yang sama, para Menteri Keuangan dari negara-negara kaya atau G7, juga telah menerapkan batasan harga pada ekspor minyak Rusia.
Para Menteri G-7 dari Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang dan Amerika Serikat menyepakati pemberlakuan batas harga pada minyak Rusia pada Jumat, 2 September 2022. Kebijakan ini bertujuan untuk memangkas pendapatan Moskow yang dipakai untuk berperang di Ukraina.
Menurut harian Lemonde, lembaga riset Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) memperkirakan Rusia telah meraup 158 miliar Euro atau Rp 2.351 triliun dari ekspor energi dalam enam bulan terakhir setelah melancarkan invasi ke Ukraina. Uni Eropa menyumbang lebih dari setengah angka tersebut.
" Melonjaknya harga bahan bakar fosil membuat pendapatan Rusia saat ini jauh di atas tingkat tahun-tahun sebelumnya, meskipun ada pengurangan volume ekspor pada tahun ini," kata organisasi yang berbasis di Finlandia itu.
" Ekspor bahan bakar fosil telah menyumbang sekitar 43 miliar euro untuk anggaran federal Rusia sejak awal invasi, sehingga membantu mendanai kejahatan perang di Ukraina," kata CREA.
Atas dasar untuk menghentikan pembiyaan perang Rusia di Ukrania, Menteri Keuangan G7 mengkonfirmasi komitmen mereka terhadap rencana memberi batas harga minyak Rusia tersebut setelah pertemuan virtual.
" Hari ini kami mengkonfirmasi niat politik bersama kami untuk menyelesaikan dan menerapkan larangan komprehensif layanan yang memungkinkan transportasi laut minyak mentah dan produk minyak asal Rusia secara global," kata para menteri G7 dalam pernyataan yang dikutip VOA.
Menteri Keuangan Jerman Christian Lindner, yang memegang Ketua G7 saat ini menyatakan, batas harga ekspor minyak Rusia ini dirancang untuk mengurangi pendapatan Presiden Rusia Vladimir Putin. Itu juga sekaligus menutup sumber pendanaan penting untuk perang di Ukraina.
" Pada saat yang sama, kami ingin menahan kenaikan harga energi global. Ini akan meminimalkan inflasi secara global," kata Lindner.
Menanggapi pernyataan G7 tersebut, Kremlin menyatakan, Rusia akan berhenti menjual minyak ke negara-negara yang menerapkan batas harga. Menurut Kantor Presiden Putin, batas harga itu diyakini akan mengacaukan pasar minyak global.
" Kami tidak akan bekerja sama dengan mereka dalam prinsip non-pasar," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan.
Pejabat Kementerian Keuangan Amerika Serikat menyebutkan, Rusia tidak punya banyak pilihan selain menjual minyak dengan harga yang lebih rendah sesuai dengan batas harga atas. Sebab India, China dan negara-negara lain di luar koalisi masih ingin membeli minyak semurah mungkin karena opsi lain akan jauh lebih mahal.
Tapi hal itu juga memicu Rusia memutuskan menghentikan pasokan gas alam melalui pipa Nord Steram I yang membawa gas Rusia ke Jerman melalui pipa bawah laut di Laut Baltik.
Padahal, Rusia adalah pemasok 40 % gas untuk Benua Eropa. Hal itu menimbulkan kepanikan di masyarakat Eropa karena musim dingin sudah dekat.
Rusia awalnya menutup pipa gas utama Nord Stream ke Jerman hari Rabu 31 Agustui 2022 hingga 2 September 2022, mengklaim bahwa penutupan selama tiga hari itu penting dilakukan untuk proses perawatan turbin. Eropa dan AS menyangsikan klaim tersebut dan menuduh Presiden Rusia Vladimir Putin membuat energi sebagai senjata perang.
Tahun lalu, Rusia memasok 40 % kebutuhan gas Uni Eropa. Dalam beberapa pekan terakhir, Rusia sudah mengurangi aliran gas Nord Stream 1 menjadi hanya 20 persen dari kapasitasnya. Moskow menyalahkan penutupan pipa gas itu pada sanksi Barat.
Dalam kunjungan ke Kota Lubmin di pesisir Baltik Jerman, di mana pipa Nord Stream mendarat dari laut, perdana menteri negara bagian Bavaria di Jerman, Markus Soeder, mengatakan bahwa negaranya dalam posisi yang sulit.
“ Putin bermain-main dengan Nord Stream 1 dan Nord Stream 2. Saya rasa ini semacam permainan. Masalah kami sekarang adalah kami tidak dalam posisi yang memadai untuk menanggapi permainan ini,” kata Soeder kepada wartawan VOA.
Harga gas Eropa saat ini telah melonjak menjadi sekitar 10 kali harga rata-rata selama satu dekade terakhir. Jerman menyatakan krisis gas pada bulan Juni dan memperingatkan bahwa konsumen dan pelaku usaha harus memangkas konsumsi gas mereka. Sejak itu, tingkat konsumsi sudah berkurang sekitar 20 persen.

(Harga gas Eropa meroket/Bloomberg)
Dengan ditutupnya keran gas oleh Rusia, Eropa berebut mencari sumber energi alternatif. Impor gas alam cair (LNG) telah membantu Eropa mengisi tempat-tempat penyimpanan gas hingga kapasitas 80 persen, dua bulan lebih cepat dari target Uni Eropa.
Hal itu telah menenangkan pasar dan menurunkan harga dalam beberapa hari terakhir. Tetapi simpanan itu tidak akan bertahan selamanya, kata Tom O’Donnell dari Free University di Berlin, yang juga pendiri kelompok analis energi The Global Barrel.
“ Simpanan (gas alam cair) saja tidak akan cukup untuk musim dingin. Dengan diputusnya semua pipa –yang harus kita perkirakan akan dilakukan Rusia– bahkan dengan semua gas alam cair yang bisa kita ambil, simpanan itu hanya akan bertahan selama dua setengah bulan pada musim di mana penghangat ruangan dinyalakan. Yang kemudian terjadi: Eropa terjebak,” kata O’Donnell.
Eropa sendiri sedang mencoba melepaskan diri dari pasokan gas Rusia. Namun hal itu memakan waktu setidaknya dua tahun, kata O’Donnell.
“ Untuk sementara, Rusia memegang kendali dan ia akan menggunakan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan bisnisnya itu. Ketergantungan Eropa terhadap gas yang dikirim Rusia melalui pipa itu jauh lebih besar dari pada, katakanlah, pentingnya uang itu bagi Putin, karena ia mendulang pendapatan yang jauh lebih besar dari minyak,” ujarnya.
***
Seolah mengaimini pendapat itu, Presiden Rusia Vladimir Putin membantah keras bahwa Moskow menggunakan ekspor energinya sebagai " senjata" , setelah Rusia menghentikan pengiriman gas alam melalui pipa utama ke Eropa.
" Mereka mengatakan bahwa Rusia menggunakan energi sebagai senjata. Lebih banyak omong kosong! Senjata apa yang kami gunakan? Kami memasok sebanyak yang dibutuhkan sesuai permintaan,” klaim Putin kepada Forum Ekonomi Timur di kota pelabuhan Pasifik Vladivostok sebagaimana dilansir BBC.
Raksasa gas Rusia Gazprom mengatakan bahwa pipa Nord Stream akan tetap ditutup untuk perbaikan setelah kebocoran minyak ditemukan di turbin. Kremlin menegaskan sanksi ekonomi ke Rusia telah mencegah pemeliharaan infrastruktur gas Rusia dan, khususnya, memblokir kembalinya turbin Siemens yang tengah menjalani perbaikan di Kanada.

(Presiden Rusia Vladimir Putin/CNBC)
" Beri kami turbin, kami akan menyalakan Nord Stream besok" , kata Putin di forum Vladivostok. " Kami siap melakukan ini besok, hanya perlu menekan tombol. Tapi bukan kami yang memberikan sanksi," tambah Putin.
Putin juga berbicara tentang kemungkinan pembatasan harga gas alam Rusia oleh Uni Eropa. Putin mengatakan itu adalah " kebodohan lain" dan " solusi di luar pasar lainnya yang tidak memiliki harapan."
Putin memperingatkan bahwa Moskwa akan menghentikan pengiriman ke negara-negara yang memberlakukan pembatasan harga pada ekspor energi Rusia.
" Kami tidak akan memasok apa pun jika itu bertentangan dengan kepentingan kami, dalam hal ini kepentingan ekonomi," katanya.
" Tidak ada gas, tidak ada minyak, tidak ada batu bara, tidak ada bahan bakar minyak, tidak ada apa-apa,: tegasnya.
Akibatnya, menurut Euronews, pada hari Kamis, 26 Agustus 2022, harga gas di Title Transfer Facility (TTF), pusat perdagangan terkemuka di Eropa, mencapai €321 atau Rp 5,6 juta per megawatt-jam, melonjak tajam dibandingkan dengan €27 atau Rp 402 ribu per megawatt-jam yang ditetapkan tahun lalu.
Artinya, ada kenaikan harga gas di Eropa sampai 1.200 persen.
***
Eropa memang kini sedang berjuang untuk menahan krisis energi serius yang dapat menyebabkan pemadaman bergilir, penutupan pabrik, dan memicu resesi ekonomi yang dalam.
Penyebab utamanya: Rusia telah menghentikan pasokan gas alam murah yang diandalkan benua itu selama bertahun-tahun untuk menjalankan pabrik, menghasilkan listrik, dan memanaskan rumah. Itu telah mendorong pemerintah Eropa ke dalam perebutan putus asa untuk sumber pasokan gas baru sehingga pertumbuhan ekonomi melambat dan tagihan utilitas rumah tangga meningkat.

(Gas di Eropa untuk menghangatkan ruangan kala musim dingin/DW)
Menurut PBS, krisis semakin dalam ketika eksportir milik negara Rusia Gazprom mengatakan pipa utama yang membawa gas ke Jerman akan tetap ditutup tanpa batas waktu, seraya menyalahkan kebocoran minyak dan mengklaim masalah itu tidak dapat diperbaiki karena sanksi ekonomi ke Rusia.
Penghentian pipa Nord Stream 1 berarti pengiriman gas Rusia telah turun 89 % dari tahun lalu. Rusia dulu memasok 40 % gas alam Eropa, dan bahkan lebih banyak lagi ke Jerman, di mana energi murah merupakan pilar ekonomi negara itu.
Masih ada beberapa gas Rusia yang mengalir ke Eropa melalui pipa yang melewati Ukraina ke Slovakia, dan yang lainnya melintasi Laut Hitam ke Turki dan kemudian ke anggota Uni Eropa, Bulgaria. Rusia mulai mengurangi gas sejak musim panas lalu, sebelum perang di Ukraina dimulai. Itu membuat harga gas naik tajam.

(Pipa Nord Stream 1 yang menghubungkan gas dari Rusia ke Jerman/DW)
Pengurangan pasokan gas Rusia telah menyebabkan melonjaknya harga gas alam, yang telah mencapai rekor dalam beberapa minggu terakhir. Mengingat pasokan Rusia yang lambat sejak musim panas lalu, para ahli mengatakan Eropa harus siap untuk menerima nol gas Rusia musim dingin ini.
Gas Rusia penting bagi Eropa, karena harga energi yang tinggi akan menyebabkan resesi musim dingin ini melalui rekor inflasi, dengan konsumen memiliki lebih sedikit untuk dibelanjakan karena kenaikan biaya untuk makanan, bahan bakar dan utilitas. Pemutusan total pasokan gas Rusia dapat memberikan pukulan yang lebih berat bagi ekonomi yang sudah bermasalah.
Selain memanaskan rumah dan menghasilkan listrik, gas digunakan untuk menyalakan berbagai proses industri yang kebanyakan orang tidak pernah pikirkan —menempa baja untuk dimasukkan ke dalam mobil, membuat botol kaca, dan mempasteurisasi susu dan keju.
Perusahaan memperingatkan bahwa mereka sering tidak dapat beralih dalam semalam ke sumber energi lain seperti bahan bakar minyak atau listrik untuk menghasilkan panas. Dan, dengan semua orang mencari pasokan alternatif, bahan bakar minyak dan batu bara juga jadi naik harganya.
Dalam beberapa kasus, peralatan yang menampung logam cair atau kaca akan rusak jika panas dimatikan, dan dalam jangka panjang, bisnis padat energi mungkin bakal menyerah begitu saja di Eropa.
Harga listrik juga meroket karena gas merupakan bahan bakar utama untuk menghasilkan tenaga listrik di Eropa.
Kekeringan telah merusak pembangkit listrik tenaga air dari sungai dan waduk. Armada 56 pembangkit listrik tenaga nuklir Prancis berjalan dengan kekuatan setengah kapasitas karena penghentian akibat masalah korosi pada pipa dan perbaikan, pembaruan dan pemeriksaan keselamatan. Gelombang panas di Eropa juga membatasi penggunaan air sungai untuk mendinginkan pembangkit listrik, dan tingkat air yang lebih rendah di Sungai Rhine Jerman mengurangi pasokan batu bara ke generator.
Eropa sendiri telah menyiapkan semua pasokan gas alternatif yang dapat disediakan: pengiriman gas alam cair, atau LNG, yang datang dengan kapal dari Amerika Serikat dan lebih banyak gas pipa dari Norwegia dan Azerbaijan. Namun, harga LNG jauh lebih mahal daripada gas alam.
Jerman menjaga pembangkit batubara tetap beroperasi meski semula akan ditutup untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Jerman juga mempertahankan opsi untuk mengaktifkan kembali dua pembangkit nuklir yang akan ditutup.
Uni Eropa yang beranggotakan 27 negara telah menyetujui rencana untuk mengurangi penggunaan gas sebesar 15%, kira-kira jumlah yang menurut para ahli akan diperlukan untuk menebus hilangnya pasokan gas Rusia. Namun langkah-langkah konservasi tersebut bersifat sukarela di negara-negara anggota untuk saat ini.
Pemerintah nasional telah menyetujui serangkaian tindakan: dana talangan untuk membayar harga selangit untuk pengganti gas Rusia, uang tunai untuk rumah tangga yang terkena dampak parah, dan memberi keringanan pajak.

(Meteran gas di Jerman/Almany)
Misalnya, Jerman telah menyetujui paket bantuan 65 miliar euro atau Rp 959 triliun untuk membantu konsumen gas yang terdampak. Pengeluaran semacam itu akan menambah defisit nasional tetapi juga melunakkan penurunan ekonomi yang diprediksi akan terjadi oleh para ekonom untuk akhir tahun ini dan awal tahun depan.
Mungkin yang paling penting dalam jangka pendek, Eropa telah berhasil mengisi 85 % dari tempat penyimpanan gas bawah tanahnya untuk musim dingin dengan bantuan LNG dan pengurangan konsumsi karena harga yang tinggi. Tingkat penyimpanan terus meningkat bahkan setelah pipa Nord Stream Rusia menghentikan pasokannya.

(Penyimpanan gas di Jerman/EWuractiv)
Sebagian akibatnya, harga gas di Eropa telah sedikit turun ke tingkat sebelum pemotongan pasokan gas Rusia, meskipun tetap saja masih sangat tinggi. Harga TTF untuk gas di Eropa sampai Rabu 14 September 2022, kini berada di €215 atau Rp 3,2 juta per megawatt-jam.
Alhasil, aksi saling balas antara Rusia dan Eropa akan terus berlanjut. Yang jelas Rusia coba menyandera Eropa dengan memutus pasokan gas menjelang tibanya musim dingin. Eropa mengantisipasi dengan mencari suplai baru untuk penyimpanan gas bawah tanah yang sudah mencapai 85 % untuk stok menghadapi musim dingin.
Namun kelangkaan gas di pasar dunia telah membuat harga gas terlanjur membumbung tinggi. Membuat inflasi di 27 negara Eropa telah mencapai angka 9,1 persen. Pukulan telak bagi kelas menengah ke bawah di Eropa. Sungguh sebuah kondisi yang jelas tidak baik-baik saja. (eha)
Sumber: Guardian, Fortune, Al Jazeera, VOA. Lemonde, BBC, Euronews. PBS.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya