Apa yang Masih Bisa Dilakukan Manusia yang Tak Bisa Dilakukan AI?
Prabowo Ramai-Ramai Dicalonkan Lagi
Ini Satu Hal Sederhana yang Ternyata Bisa Membantu Perawatan Ibu Setelah Melahirkan
Ingin Memperlambat Penuaan? Studi Ungkap Hal yang Mungkin Membantu dan yang Ternyata Tak Banyak Berpengaruh
Langkah Tepat Lindungi Kulit dari Paparan Sinar UV
Sudah Tidur 8 Jam tapi Tetap Lelah? Bisa Jadi Anda Kekurangan 7 Jenis Istirahat Ini
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Sering Merasa Orang Lain Tidak Menyukai Anda? Bisa Jadi Ini Hanya ‘Liking Gap’
Pasukan Garuda Menyapa Anak-anak Di Dharfur (Puspen TNI)
Dream - Personel pasukan penjaga perdamaian Indonesia yang bertugas di Republik Demokratik Kongo, Sersan Mayor (Serma) Rama Wahyudi, gugur setelah diserang kelompok milisi. Rama tergabung dalam Misi MONUSCO.
Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi memberikan penghargaan atas dedikasi dan pengabdian Rama dalam menjaga perdamaian dunia.
" Perghargaan setinggi-tingginya kepada Alm Serma Rama Wahyudi atas pengabdiannya dalam menjaga perdamaian dunia. Semoga keluarga yang ditinggalkan selalu diberi ketabahan," cuit Retno lewat akun Twitternya.
Sumber PBB menyatakan pasukan perdamaian asal Indonesia meninggal akibat diserang kelompok milisi Kongo pada Senin, 22 Juni 2020 malam waktu setempat. Sementara seorang lagi dilaporkan mengalami luka.
Serangan terjadi saat pasukan penjaga perdamaian berpatroli di jarak 20 Kilometer arah timur dari Kota Beni di Provinsi Kivu Utara.
Retno menyatakan Dewan Keamanan PBB mengutuk keras serangan kepada MONUSCO. Juga meminta otoritas Kongo menggelar investigasi dan mengajukan pelaku penyerangan ke pengadilan.
Kepala MONUSCO, Leila Zerrougui, turut mengutuk serangan tersebut. Dia menyatakan serangan dilancarkan oleh 'tersangka anggota ADF' yaitu Pasukan Sekutu Demokrat, kelompok bersenjata yang cukup terkenal di kawasan timur Kongo.
Kelompok milisi tersebut turut ambil bagian dalam proyek pembangunan jembatan di daerah Hululu. ADF sendiri merupakan kelompok milisi dari Uganda yang menentang pemerintahan Presiden Yoweri Museveni.
Pada 1995, kelompok yang terbentuk di tahun 1990 itu menjadikan Kongo sebagai basis operasinya. Selama bertahun-tahun, mereka tidak melakukan serangan ke Uganda.
Dalam catatan PBB, kelompok tersebut telah menewaskan 500 jiwa sejak akhir Oktober 2019. Ketika militer Kongo melancarkan serangan terhadap ADF.
Pada Desember 2017, 15 tentara PBB gugur di pangkalan dekat perbatasan Uganda akibat sedangan ADF. Sedangkan pada Desember 2018, tujuh personel pasukan penjaga perdamaian PBB meninggal juga akibat diserang ADF.
Sumber: Merdeka.com
Advertisement

Sering Merasa Orang Lain Tidak Menyukai Anda? Bisa Jadi Ini Hanya ‘Liking Gap’

Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?

Sudah Tidur 8 Jam tapi Tetap Lelah? Bisa Jadi Anda Kekurangan 7 Jenis Istirahat Ini


Apa yang Masih Bisa Dilakukan Manusia yang Tak Bisa Dilakukan AI?


Ini Satu Hal Sederhana yang Ternyata Bisa Membantu Perawatan Ibu Setelah Melahirkan