Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Presiden Sudan, Omar Al Bashir (Kanan) Dan Wakil Presiden Sudan, Awan Ibn Auf (Kiri) (Dailysabah.com)
Dream - Militer Sudan mengkudeta dan menahan Presiden Omar Al Bashir, menyusul protes berbulan-bulan terhadap kekuasaannya yang sudah berjalan hampir 30 tahun.
Dikutip dari Aljazeera, Kepala Komite Keamanan Tertinggi, Jenderal Awad Ibn Auf, memberikan pernyataan bahwa Al Bashir dibawa ke tempat yang aman setelah penggulingan rezim.
Dia juga mengumumkan pada Kamis kemarin membentuk pemerintahan transisi yang akan menjalankan kekuasaan negara selama dua tahun.
" Sepanjang waktu ini, angkatan bersenjata akan mengambil alih elemen-elemen lain dari Komite dengan kewenangan terbatas, bertanggung jawab mengelola negara dan mencegah pertumpahan darah rakyat Sudan yang tidak ternilai," kata Ibn Auf yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden sekaligus Menteri Pertahanan.
Selain itu, Ibn Auf juga menetapkan negara dalam keadaan darurat selama tiga bulan ke depan serta menangguhkan konstitusi 2005. Dia juga menutup wilayah udara dan tapal batas negara selama 24 jam hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Seluruh institusi pemerintah Sudan, termasuk Majelis Nasional dan dewan menteri nasional telah dibubarkan. " Sudan segera menggelar pemilihan umum yang bebas dan adil," kata Ibn Auf.
Militer juga memberlakukan jam malam di seluruh wilayah Sudan, dimulai pada pukul 22.00 waktu setempat.
Kudeta militer berjalan setelah protes anti-pemerintah terjadi selama enam hari berturut-turut di luar markas militer Sudan di Ibukota Khartoum. Para demonstran meminta militer memberikan dukungan untuk melengserkan Al Bashir dengan jalan damai.
Tetapi, kelompok ujung tombak demonstran, Asosiasi Profesional Sudan (SPA), menolak kudeta yang dijalankan Ibn Auf. Para demonstran juga bakal melanjutkan protes di jalanan.
Melalui Twitter, SPA menuntut kekuasaan diserahkan kepada pemerintahan transisi sipil, mencerminktan kekuatan revolusi.
Meski demikian, tampaknya kekuasaan Sudan akan berada sepenuhnya di tangan Ibn Auf.
Protes terhadap Al Bashir mulai terjadi pada Desember. Salah satu pemicunya adalah kenaikan harga roti yang melambung. Protes kemudian meluas dan menuntut Al Bashir dan kroni-kroni politiknya melepaskan kekuasaan.
Sejumlah pengkritik menuding Al Bashir salah dalam mengelola ekonomi negara, menyebabkan harga pangan melonjak, kekurangan bahan pangan dan kekurangan uang yang meluas. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya