Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Richard Lee Mendapat Perlakuan Rasis Dari Perangkat Pemindai Wajah (Sumber: Shangaiist)
Dream - Aksi rasisme biasanya dilakukan oleh manusia terhadap sesamanya. Namun baru-baru ini di Selandia Baru, seorang pria keturunan etnis Tionghoa juga mendapat perlakuan rasis. Yang mengherankan, perlakuan rasis dilakukan oleh sebuah robot.
Peristiwa tersebut bermula ketika seorang pria bernama Richard Lee ingin memperbaharui paspor miliknya di Kantor Urusan Dalam Negeri Selandia Baru pada awal minggu ini. Dia mendapatkan keganjilan saat foto paspornya ditolak oleh perangkat lunak pemindai wajah.
Perangkat lunak pemindai wajah tersebut menolak foto Lee lantaran mata miliknya terlihat tertutup. Padahal, matanya jelas terbuka.
" Foto yang ingin Anda unggah tidak masuk dalam kriteria karena kedua mata subyek tertutup," tulis perangkat lunak tersebut .
© Dream
Lee pantang menyerah. Dia kemudian mengirim kembali foto hingga akhirnya disetujui oleh perangkat lunak tersebut.
Kejadian tersebut mendapat penjelasan dari juru bicara di Kantor Urusan Dalam Negeri Selandia Baru. Menurut juru bicara tersebut, foto Lee tidak terbaca oleh mesin pemindai lantaran pencahayaan yang tidak merata pada wajah.
Mahasiswa teknik tersebut kemudian mengunggah peristiwa 'rasis' tersebut ke akun Facebook miliknya.
" Itu hanya robot, tidak ada dendam. Saya memang memiliki mata sipit dan teknologi pengenalan wajah yang canggih relatif baru. Akhirnya aku tetap punya paspor," ucap dia di laman Shangaiist.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya