Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Jan Koum
Dream - Siapa sangka perjalanan hidup pendiri WhatsApp dulunya hanyalah seorang tukang bersih-bersih supermarket alias cleaning service. Jan Koum, pria asal pinggiran kota Kiev, Ukraina dan berasal dari keluarga yang tergolong kurang mampu.
Saat usianya 16 tahun Koum memutuskan untuk pindah ke Amerika dan mengejar semua cita-cita yang telah diimpikan. Meski miskin, Koum berhasil menyelesaikan pendidikannya di SMA Mission Viejo, California dan lulus dari San jose University.
Ia harus menelan pahitnya kehidupan saat mengetahui sang ibu didiagnosa kanker. Koum berusaha untuk bertahan dan bekerja sebagai penguji keamanan di Ernst & Young. Namun hal itu tidak bertahan lama karena ia lebih memilih keluar dan meneruskan belajar programming secara otodidak.
Koum mulai menapaki peningkatan dalam hidupnya saat bekerja di Google sebagai teknisi infrastruktur. Perkenalannya dengan Brian Action di Ernst & Young membawanya menjadi engineer di Yahoo dan bertahan selama 10 tahun di sana.
Ia juga sempat ditolak bekerja di Facebook saat popularitas situs sosial media itu kian meroket. Bersama Alex FIishman, Koum merencanakan sebuah aplikasi baru yang diberi nama WhatsApp. Tepat januari 2009 di California, WhatsApp resmi didirikan.
Hal yang mengejutkan pun terjadi lagi, perusahaan yang dulu pernah menolaknya bekerja kini justru membeli aplikasi yang dibuat, dihargai cukup tinggi yakni 19 miliar dollar AS atau sekitar Rp 224 triliun. Ia sungguh tak menyangka ia kini dapat berdiiri di puncak kesuksesannya.
Rasa sedih menyelimuti Koum saat mendatangi kembali tempat tinggalnya 17 tahun silam. Dimana masa-masa susah ia alami bersama keluarga khususnya sang ibu. Ia mengenang semua pengorbanan yang telah dilakuakn sang ibu untuknya. Sayang saat ia menapaki kesukseaan ibu tak lagi bersamanya, ibu telah pergi karena kanker yang dideritanya.
Penasaran dengan kisah sukses pendiri WhatsApp? Yuk simak kisahnya Baca di sini (Ism)
Kirimkan kisah nyata inspiratif disekitamu atau yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:
1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res
Ayo berbagi traffic di sini!
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya