Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Foto: Kantor SAR Kelas A Surabaya
DREAM.CO.ID - Satu korban meninggal dunia dalam tragedi ambruknya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Sidoarjo, ditemukan dalam posisi sujud. Korban diketahui bernama Rafi Catur Okta Mulya yang berusia 17 tahun.
Rafi ditemukan oleh Tim SAR gabungan pada Rabu, 1 Oktober 2025 sekitar pukul 14.22 WIB. Berdekatan dengan korban selamat, Syehlendra Haical R. A. yang berusia 13 tahun.
Direktur Operasi Pencarian dan Pertolongan Basarnas RI, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, selaku SAR Mission Coordinator (SMC) mengatakan bahwa korban tersebut ditemukan di sektor reruntuhan bangunan A1.
“ Korban sujud itu kan yang tadi (ditemukan siang). Iya, itu yang (statusnya) hitam (meninggal dunia) yang sebelahan sama Haical,” kata Bramantyo dikutip dari beritajatim.com, Jumat, 3 Oktober 2025.

Rafi ditemukan tanpa sengaja saat Tim SAR akan mengevakuasi Haical dalam jalur evakuasi aman.
“ Kita kan tadinya mau mengambil (Haical) itu. Karena tidak mau langsung ke Haical, tidak bisa (jalurnya dilewati) harus lewat situ, akhirnya kita tarik (temukan korban sujud) yang itu,” ungkapnya.
Seperti diketahui, gedung tiga lantai Ponpes Al Khoziny ambruk pada 29 September 2025 setelah para santri melakukan salat Ashar berjamaah.
Berdasarkan temuan dan data sementara Kantor SAR Surabaya hingga Rabu, 1 Oktober 2025 malam, terdapat 102 orang santri yang menjadi korban dalam peristiwa musibah ini.
Terdapat 18 orang yang berhasil evakuasi dan lima di antaranya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Diperkirakan masih ada puluhan korban terjebak di puing reruntuhan.

Atas peristiwa ini, kegiatan belajar mengajar di pondok pesantren sementara dihentikan. Pengasuh Ponpes Al-Khoziny, Abdus Salam Mujib menjelaskan, pembangunan musala telah dilakukan sejak sembilan hingga 10 bulan yang lalu.
Sebelum ambruk, pada pagi hari hingga siang sempat dilakukan proses pengecoran tahap akhir untuk dek lantai 3. Saat peristiwa ambruknya bangunan musala, proses cor sudah selesai dilakukan.
“ Ngecor dari pagi. Saat ambruk proses cor sudah selesai. Selesai cor siang,” kata Kiai Abdus Salam dikutip dari NU Online Jatim.
“ Yang ditempati baru lantai satu. Lainnya itu kosong, tidak ada santri sama sekali,” tegasnya.
Ambruknya bangunan musala diduga karena penopang cor di bagian bawah kurang kuat menahan beban. Sehingga akhirnya menekan keras ke bawah dan rubuh.
“ Sepertinya ini penopang cor itu gak kuat, jadi menekan ke bawah,” pungkasnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya