Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ananda Omesh Bersama Sukiyana. (Foto: Dokumentai Yogrt)
Dream - Desa Pringombo merupakan sebuah desa yang berada di Gunung Kidul, Yogyakarta. Letaknya hanya sekitar 2,5 jam perjalanan menggunakan roda empat dari pusat Kota Pelajar tersebut.
Mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani. Keterbatasan ekonomi yang menimpa sebagian besar warga desa itu yang membuat para pemuda pemudinya terbiasa merantau. Namun, hanya seorang pria bernama Sukiyana, satu-satunya pemuda yang terlalu dini merantau, yakni di umur 12 tahun.
Sejak lulus Sekolah Dasar, Sukiyana memutuskan untuk mengadu peruntungan di ibukota demi membantu keluarganya. Sayang, niat baiknya tak sejalan mulus dengan kenyataan. Ia kerap menerima pengalaman pahit hingga harus berpindah-pindah kerja sampai berlabuh ke Kalimantan.
Kini Sukiyana tinggal di Surabaya, Bekerja sebagai tenaga lepas di salah satu event organizer, membuat pria yang cuma lulusan SD itu mempunyai penghasilan tetap. Ia pun mendatangi para perantau dari desa asalnya dan mencetuskan ide untuk membuat grup perantau, PAGTRI (Paguyuban Warga Pringombo).
" Saya ingin membantu masyarakat desa kalau butuh dana untuk mengadakan, misalnya acara-acara. Makanya saya kumpulkan teman-teman desa sesama perantau, kemudian membuat grup, dan setiap bulannya kita menyisihkan penghasilan kita seikhlasnya untuk membantu desa," tutur Sukiyana, di Tugu, Yogyakarta, Sabtu, 22 Juli 2017.
Keinginannya yang besar untuk memajukan desa membuatnya terjun ikut lomba " Yogrt Pesta'in Sekampung!" . Ceritanya pun membuat para juri dan voters terenyuh hingga ia keluar sebagai pemenangnya.
" Kita melihatnya lebih kepada kualitas kisah yang diceritakan dan orisinalitasnya. Kita juga ngecek apa memang kondisi di desanya seperti itu untuk menghindari salah informasi. Dan ternyata memang benar, sehingga mas Sukiyana terpilih sebagai pemenangnya," ujar Damayantri Permata Arif, Head of Marketing Yogrt, di Tugu, Yogyakarta, Sabtu, 22 Juli 2017.
Keinginan mulia Sukiyana membahagiakan warga desanya pun disambut baik oleh seluruh warga dan aparat desa.
" Halal bihalal syawalan itu udah sering diadakan di desa. Namun sebesar ini baru tadi. Sehingga kita terharu dan seneng sekali. Harapan kami acara ini bisa dilestarikan. Silaturahmi kekeluargaan terjalin terus. Kami bangga sekali sama Sukiyana yang bisa memberikan sesuatu untuk kampungnya. Mudah-mudahan dikuti oleh Sukiyana lainnya, yang ikut mengangkat kampung halaman," tutur Suratin, Kepala Desa Pringombo, Minggu, 23 Juli 2017.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya