Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ma Sanxiao Harus Merangkak Mengambil Air Untuk Menyiram Pohon. (Foto: OddityCentral.com)
Dream - Perjuangan seorang kakek dari China bernama Ma Sanxiao patut mendapat apresiasi yang sangat luar biasa.
Selama 19 tahun terakhir, pria 70 tahun ini telah menanam ribuan pohon di bukit-bukit tandus sekitar desanya sendirian.
Usahanya itu telah mengubah bukit-bukit yang tadinya gersang menjadi sebuah hutan kecil yang hijau.
Yang lebih menakjubkan, Sanxiao melakukannya dengan kondisi fisik yang kurang memadai. Kedua kakinya diamputasi akibat keracunan darah.
Kisah Sanxiao yang penuh kepahlawanan ini bermula ketika didiagnosis menderita keracunan darah pada tahun 1974 saat masih aktif di militer.
Ya, Sanxiao adalah seorang veteran Angkatan Darat China. Namun dia harus pensiun dini karena kondisinya makin parah.
Kedua kakinya harus diamputasi untuk menyelamatkan hidupnya. Kaki kanan diamputasi pada tahun 1985, setelah itu kaki kiri menyusul pada tahun 2005.
Setelah tujuh kali operasi dan perawatan medis yang berkepanjangan, Sanxiao nyaris tidak mampu menghidupi keluarganya.
Uang pensiun yang tidak seberapa habis hanya untuk membiayai perawatan kesehatannya sendiri. Dengan kondisi fisiknya, Sanxiao sulit mencari pekerjaan.
Sebagai bekas tentara, Sanxiao merasa tidak bisa hanya tinggal diam di rumah. Satu hari di tahun 2000, Sanxiao menyaksikan kisah seorang penanam pohon di TV.
Acara itu ternyata menginspirasi Sanxiao. Dia pun mulai menanam pohon di bukit-bukit tandus di sekitar desanya, dengan tujuan akan menjual kayunya.
" Jujur saja, ide awal saya adalah mencari nafkah dengan menanam pohon. Anda tahu, saya bisa menjualnya untuk menghasilkan uang dan mandiri secara finansial," kata Sanxiao dalam sebuah wawancara di tahun 2011 dengan China Daily.
Namun, ketika pohon-pohon itu tumbuh membesar, Sanxiao menjadi ragu dengan niatnya yang semula.
" Pohon-pohon itu tidak hanya cantik, tetapi juga penting bagi bukit-bukit itu karena mereka dapat menahan tanah," tambahnya.
Kenyataan itulah yang membuat Sanxiao berubah pikiran. Dia tidak akan menjual pohon-pohon tersebut sampai akhir hayatnya.
" Saya tak akan pernah menjualnya. Ini adalah sebuah tugas besar untuk menanam pohon hingga akhir hayat dan mewariskan alam yang hijau ini untuk generasi mendatang," katanya.
Sanxiao bangun jam 5 pagi setiap harinya. Setelah mengemasi pakaian dan mempersiapkan peralatan, dia menuju bukit-bukit sekitar desanya dengan menggunakan tongkat kruk.
Dia bahkan jarang sarapan di rumah untuk menghemat waktunya. Sanxiao akan membungkus sarapannya dan memakannya di saat-saat istirahat dari menanam pohon.
Setelah menanam satu bibit pohon dengan bantuan sekop, Sanxiao akan merangkak ke sungai terdekat untuk mengambil air dan menyiram bibit tersebut.
Menanam pohon bukan pekerjaan yang mudah bagi orang dengan kondisi fisik seperti Sanxiao. Dia tidak bisa mengingat sudah berapa kali jatuh dan cedera saat menanam pohon-pohon itu.
" Kesulitan-kesulitan ini tidak menghalangi saya, karena saya adalah seorang prajurit. Tapi saya harus meminjam uang untuk membeli bibit pohon dan alat-alat.
" Saya tidak bisa menghitung berapa sekop yang rusak yang saya gunakan selama bertahun-tahun," kata Sanxiao.
Usaha dan perjuangan Sanxiao akhirnya mendapat pengakuan dan penghargaan dari pemerintah China. Setelah media meliput kisahnya pada tahun 2008.
Sebagai penghargaan kepada lingkungan dan sosial, pemerintah memberikan bantuan finansial kepadanya.
Tidak hanya pemerintah, banyak sekali relawan yang mengetahui kisahnya ikut mengirimkan bantuan kepada Sanxiao.
Meski mendapat bantuan, Sanxiao mengaku tidak akan berhenti menanam pohon dan merawatnya.
" Bagi saya, mereka bukan pohon. Saya menganggap mereka sebagai prajurit yang saya pimpin. Mereka membuat saya merasa sangat puas," kata Sanxiao.
Sekadar informasi, Sanxiao telah menghabiskan sisa hidupnya menanam pohon parasol di Pegunungan Taihang.
Jumlah pohon parasol yang ditanam oleh Sanxiao selama 19 tahun terakhir adalah 17.000 ribu pohon.
(ism, Sumber: OddityCentral.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya