Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Perempuan Iran (Foto: Shutterstock)
Dream - Ramadan menjadi bulan yang istimewa bagi umat Islam di seluruh belahan bumi. Selama Ramadan, umat Islam dilarang menjalani segala aktivitas yang membatalkannya.
Di Iran, pemerintah memberikan imbauan ke warga pria yang menjalankan puasa. Selama Ramadan, pria di Iran diminta untuk tidak memandang wanita.
Dilaporkan The Telegraph, pembatasan ini dilakukan karena sikap frustasi pemerintah menghadapi ketidakpuasan sipil dan kondisi ekonomi yang buruk. Seperti diketahui, ekonomi Iran terjepit pasca sanksi Amerika Serikat (AS).
Selain melarang memandangi perempuan, pengadilan negara juga mengumumkan aturan denda bagi warga yang makan di tempat umum selama Ramadan.
" Nasihat pribadi saya kepada wanita yaitu harus menggunakan jilbab lebih dari biasanya dan para lelaki harus menghindari tatapan langsung ke perempuan pejalan kaki," kata juru bicara pengadilan, Gholam-Hossein Esmaili.
" Siapapun yang mengabaikan instruksi ini selama Ramadan akan menghadapi pelanggaran dan hukuman dari unit penegak hukum," kata dia.
Polisi moral di Iran juga akan menangkap siapa pun yang memainkan musik di radio mobil mereka. Denda berat akan mengancam mereka.
Bulan lalu, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei menunjuk Jenderal Hossein Salami sebagai komandan Garda Revolusi dan ulama konservatif, Ebrahim Raeesi sebagai hakim ketua.
Tetapi, para pejabat senior Iran telah memperingatkan tentang ketidakpuasan publik yang berubah menjadi protes jalanan.
Penjatahan makanan dan bahan bakar persis ketika perang Irak telah dilakukan untuk mengatasi masalah ini.
" Bulan suci Ramadan adalah pengingat bagi kita untuk bersikap tabah menghadapi kontroversi dan kesombongan dunia karena, tampaknya AS ingin berperang melawan ekonomi, budaya, dan kehidupan sosial kita, namun bukan secara fisik," ujar Pengawal Revolusi, Hossein Salami. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya