Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
(Sumber: En.wikipedia.org)
Dream - Sepatu lari (sneakers) dengan brand-barang tertentu, misalnya Adidas dan Nike termasuk alas kaki kelas atas. Harganya cukup Mahal. Untuk membeli sepasang sepatu ini, terkadang harus merogoh kocek dalam-dalam.
Sebut saja harga sepasang sepatu Adids model Boston 5 Boost yang seharga US$120 atau Rp1,6 juta dan sepatu Adidas model D-Rose 6 Boost seharga US$140 atau Rp1,9 juta.
Sementara di jajaran sepatu Nike, terdapat model Zoom Pegasus dengan harga US$110 (Rp1,49 juta) dan Nike Air Zoom Vomero 11 yang seharga US$125 (Rp1,69 juta).
Meski mahal, kedua mereka sepatu olahraga itu tetap jadi buruan. Apalagi jika sudah terlanjur menjadi pelanggan setiap. Laporan Dilansir dari Sole Reveiew, justru membuat kabar mengejutan. Dilansir Dream, Sabtu 28 Mei 2016, ternyata harga memproduksi sepatu itu jauh lebih murah dibandingkan harga jualnya.
Sebut saja harga sepatu Adidas Energy Boost 3. Di pasaran, sepatu ini dijual US$160 atau (Rp2,17 juta). Tapi coba tengok biaya produksinya. Sepatu ini cukup dibuat dengan harga US$30 atau Rp407,28 ribu.
Lalu, mengapa harga eceran bisa setinggi itu?
Tahun lalu, pendapatan Adidas sebesar 4,1 persen, sedangkan Nike sebesar 10,7 persen. Tapi ingat, pendapatan itu berasal dari harga grosir, bukan harga eceran. Jika marjin merek dimasukkan ke dalam komponen harga eceran, Adidas dan Nike hanya membuat keuntungan masing-masing sebesar 2,05 persen dan 5,3 persen.
Dengan kata lain, dengan harga sepatu senilai US$100 atau Rp1,35 juta, Adidas hanya menghasilkan untung US$2,05 (Rp27,83 ribu) dan Nike US$5,3 (Rp71,95 ribu)
Lalu, apa saja biaya yang membuat harga tersebut melonjak dari harga produksi hingga harga eceran?
Pertama adalah landed cost, biaya pengiriman, dan marjin kotor. Landed cost atau harga pokok hanya merepresentasikan langkah pertama perjalanan produk akhir. Sejak sepatu itu meninggalkan negara produsen, dia akan dikenakan biaya tambahan berupa biaya pengiriman.
Di tingkat ini, ada beberapa macam komponen biaya, seperti biaya pengiriman, asuransi, dan bea. Harga pabrik ditambah biaya-biaya tambahan ini akan menghasilkan harga pokok
Misalnya, harga sepatu di tingkat pabrik adalah US$20 (Rp271,52 ribu), lalu ditambah biaya pengapalan US$1, biaya asuransi US$0,3 (Rp4 ribu), dan cukai US$3 (40,72 ribu). Maka harga pokok penjualan dari sepasang sepatu adalah US$24,3 (Rp329,89 ribu).
Biasanya, pemegang merek membeli sepatu itu setengah dari harga eceran. Apabila harga sepatu eceran US$100 atau Rp1,35 juta, perusahaan merek akan membeli sepasang sepatu itu sebesar US$50. Inilh yang disebut untung penjualan. Kemudian, merek akan mendapatkan marjin kotor US$28 (Rp380,12 ribu) apabila landed cost sepasang sepatu sebesar US$22 (Rp298,67) per pasang.
Kedua, biaya-biaya lainnya, pajak, dan laba bersih. Perusahaan itu akan mendapatkan laba bersih setelah dikurangi oleh pajak dan biaya lainnya, seperti biaya gaji karyawan, biaya distribusi, dan pemasaran. Laba bersih inilah yang diperoleh dari pemegang merek dari sepasang sepatu.
Jadi, harga sepatu Adidas yang sebesar US$100 (Rp1,35 juta) itu terdiri atas US$21 (Rp285,09 ribu) biaya produksi, US$5 (Rp67,88 ribu) untuk biaya pengapalan, asuransi, dan cukai, US$8 (Rp108,6 ribu) untuk pemasaran, US$13 (Rp176,48 ribu) untuk biaya lainnya, dan US$50 (Rp678,8 ribu) untuk marjin eceran. Lalu, profit Adidas sebesar US$ (Rp27,15 ribu) per sepasang sepatu.
Sementara itu, harga sepatu Nike yang sebesar US$100 (Rp1,35 juta) ini terdiri atas US$22 (Rp298,67 ribu) untuk biaya produksi, US$5 (Rp67,88 ribu) untuk pengapalan, asuransi, dan cukai, US$11 (Rp149,33 ribu) untuk biaya lainnya, serta US$2 (Rp27,15 ribu) untuk pajak penghasilan. Keuntungan bersih Nike dari sepatu, lebih besar daripada Adidas, yaitu US$5 (Rp67,88 ribu).
Bagaimana dengan keuntungan ritel jika harga sepasang sepatu US$100 (Rp1,35 juta)? Jika perusahaan merek menjual harga sepasang sepatu sebesar US$50 (Rp678,8 ribu) kepada pengecer, marjin yang didapatkan pengecer adalah US$6 (Rp81,45 ribu) dari sepasang sepatu. Sisanya yang sebesar US$44 (Rp597,34 ribu) ini adalah komponen berupa biaya-biaya sebesar US$17 (Rp230,79 ribu) dan pajak penghasilan sebesar US$3 (Rp40,72 ribu). Ada juga komponen diskon yang sebesar US$24 (Rp325,82 ribu) per pasang sepatu.
Adidas dan Nike tentu memerlukan peran orang lain untuk mempromosikan produknya, misalnya atlet dan selebritis. Lalu, berapa biaya untuk promosi lewat orang-orang itu dari harga sepatu yang sebesar US$100? Tidaklah besar, yaitu sebesar US$1,5 (Rp20,36 ribu) per pasang sepatu.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya