Menag: Korban First Travel yang Tidak Mampu Akan Dibantu, yang Kaya Ikhlas Saja

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Jumat, 29 November 2019 07:00
Menag: Korban First Travel yang Tidak Mampu Akan Dibantu, yang Kaya Ikhlas Saja
Menag kesulitan memperjuangan aset First Travel.

Dream - Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi, meminta korban First Travel yang berkecukupan untuk ikhlas dan legowo apabila tidak mendapat bantuan untuk diberangkatkan ke Tanah Suci.

" Kalau yang kaya-kaya enggak usah dibantulah. Biar rela saja, kan itu pahala juga, yang pantas dibantu kita bantu untuk kita berangkatan," kata Fachrul di Komplek Gedung DPR, Jakarta, Kamis 28 November 2019.

Menurut Fachrul, Kementerian Agama akan melakukan inventarisasi jemaah umroh korban First Travel yang masuk dalam kategori tidak mampu.

" Setelah kami inventarisasi, katakanlah ketemu nggak terlalu banyak dia misalkan bayarnya hanya Rp12 juta. Sebetulnya kita katakan (biaya umroh) paling sedikit Rp20 juta, mungkin kita minta dia tambah Rp8 juta," ucap dia.

1 dari 5 halaman

Kesulitan Kembalikan Aset

Apabila jemaah tersebut mau membayar biaya tambahan itu, Kemenag akan meminta slot kepada para Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh (PPIH) memberangkatkan jemaah korban First Travel.

" Kemudian akan kami coba susupkan ke beberapa travel yang selama ini dalam tanda petik sudah punya keuntungan agak banyaklah selama menjalankan haji," kata dia.

Fachrul mengatakan, kesulitan memperjuangkan aset First Travel yang sudah disita negara hasil dari putusan Mahkamah Agung (MA). Dia mencari cara untuk memperjuangkan aset First Travel.

" Sehingga sudah susah, sudah inkracht keputusan itu, kami mencoba mencari akal apa yang bisa dilakukan," ujar dia.

2 dari 5 halaman

DPR Tuding Pemerintah 'Cuci Tangan' di Kasus First Travel

Dream - Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Ace Hasan Syadzily menuding pemerintah tidak bersungguh-sungguh membantu jemaah umroh yang menjadi korban kasus penipuan First Travel.

" Karena proses pengawasan dan pemantauan terhadap penyelenggara ibadah umroh terhadap travel-travel seperti First Travel, itu negara seperti `cuci tangan` terus terang saja," ujar Ace di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis, 21 November 2019.

Ace berujar, anggapan itu didasari lantaran negara lalai menjamin hak masyarakat menjadi korban untuk terhindar dari praktek penipuan.

Politisi asal Partai Golkar ini menyayangkan putusan Mahkamah Agung (MA) yang menyatakan aset First Travel seluruhnya disita negara. Padahal, di dalam aset tersebut terdapat uang jemaah yang tidak jadi berangkat ke Tanah Suci.

" Negara tak dirugikan, dengan proses yang terjadi akibat dari kasus Fist Travel ini, tidak ada negara sepeserpun dirugikan dari proses yang terjadi akibat dari kasus Fist Travel," ucap dia.

3 dari 5 halaman

Putusan Sita Aset Dipertanyakan

Ace pun mempertanyakan peran Kementerian Agama selaku pemberi izin biro travel mengenai mekanisme pengawasannya.

" Karena Kemenag adalah lembaga yang memang punya tanggung jawab untuk memantau berjalannya ibadah umroh," kata dia.

Selain itu, Ace juga menganggap aneh terkait putusan MA yang menyatakan seluruh aset First Travel disita negara.

" Inilah yang menurut saya agak aneh dan janggal. Alih-alih negara memberikan perlindungan justru yang terjadi harta siataan dari Fist Travel diserahkan kepada negara," ujar dia.

4 dari 5 halaman

DPR Tuding Negara Lalai Atasi Masalah First Travel

Dream - Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Ace Hasan menilai negara lalai karena tidak dapat mengatasi kasus First Travel. Terlebih, aset yang seharusnya dikembalikan ke jemaah justru disita negara.

" Saya katakan kelalaian negara, karena kan seharusnya penipuan yang dilakukan oleh First Travel sudah terdeteksi oleh Kementerian Agama," ujar Ace di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis, 21 November 2019.

Menurut Ace, kasus First Travel negara sama sekali tidak merugikan negara. Sebab, aset yang didapat First Travel merupakan setoran uang jemaah untuk berangkat umroh.

" Menurut saya, kalau memang sekarang ini disita oleh negara maka negara harus bertanggung jawab untuk memenuhi kepastian hukum terhadap para korban First Travel," ucap dia.

Melihat langkah yang dilakukan pemerintah tak tepat, Ace mengusulkan agar DPR memanggil Kementerian Agama untuk membahas solusi terbaik agar jemaah korban First Travel tidak dirugikan.

" Kita nanti akan panggil Kemenag kalau perlu kita panggil pakar hukum perdata atau pidana, untuk mengambil langkah yang tepat," kata dia.

5 dari 5 halaman

Menag Fachrul Razi Bakal Gelar Pertemuan Bahas First Travel

Dream - Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi angkat bicara terkait keputusan Mahkamah Agung (MA), yang menyatakan aset First Travel disita negara.

" Kami sedang memikirkan juga apa langkahnya ya, karena sekarang sudah keputusan MA sudah inkrah, tidak banyak yang bisa kita lakukan," ujar Fachrul dikutip dari laman resmi Kemenag, Kamis, 21 November 2019.

Fachrul mengatakan, langkah yang diambil akan dimulai dengan menggelar pertemuan dengan berbagai pihak untuk membicarakan masalah itu. Sehingga, dihasilkan solusi yang baik untuk semua pihak.

" Tapi, meskipun begitu kami nanti juga ingin duduk sama-sama. Sama-sama kita pikirkan apa yang bisa kita lakukan," ucap dia.

Fachrul mengatakan, Kemenag saat ini sudah memperketat peraturan untuk menghindari adanya biro travel nakal. Sehingga, masyarakat tidak kembali dirugikan.

" Misalnya, Kemenag telah menyampaikan, batas minimal biaya umroh itu Rp20 juta. Kalau biayanya murah di bawah Rp20 juta, pasti ada sesuatu," kata dia.

Dia berharap, kasus penipuan perjalanan umroh tidak terjadi lagi di kemudian hari.

" Insya Allah tidak terjadi lagi. Kita akan evaluasi satu per satu," ujar dia.

Beri Komentar