Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Titi Wati, Wanita Asal Kalteng Yang Mengalami Obesitas (Pojoksatu)
Dream - Sosok Titi Wati, 37 tahun, sempat menjadi pemberitaan sejumlah media nasional. Dengan berat badan mencapai 350 Kilogram, Titi digelari wanita tergemuk di Kalimantan Tengah.
Titi pun langsung mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Akhirnya, wanita itu dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Doris Sylvanus, Palangkaraya untuk menjalani operasi.
Dikutip dari Prokal, proses membawa Titi ke rumah sakit tidaklah mudah. Pintu dan dinding rumah Titi di Gang Bima, Jalan G Obos XXV Kota Palangkaraya, terpaksa dijebol agar wanita itu bisa keluar rumah.
Masalah kembali timbul ketika Titi hendak dibawa ke rumah sakit. Ukuran badannya tidak muat di ambulans. Petugas pun memutuskan untuk mengantar Titi ke RSUD menggunakan mobil pickup.
Apabila operasi berhasil, berat badan Titi diprediksi bisa turun hingga 25 kilogram setiap bulan.
Wakil Direktur Bidang Pendidikan dan Kemitraan RSUD Doris Sylvanus, Theodorus Sapta Atmadja, mengatakan kondisi Titi sangat memprihatinkan. Wanita itu hanya bisa tengkurap dan tidak bisa membalik badan.
Theo mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan tim medis RSUD dan rumah sakit lainnya. Nantinya, Titi akan ditangani tim dokter dari beberapa rumah sakit.
Titi dijadwalkan menjalani perawatan sekitar dua pekan. Sapta mengatakan pihaknya belum pernah menangani pasien dengan kasus seperti Titi.
" Kami pikirkan ruangannya agar pasien bisa dioperasi. Kami sudah siapkan spesialis, ruangan tersendiri," kata Theo.
Selanjutnya, Theo menjelaskan penanganan pasien obesitas tidaklah mudah. Operasi yang akan dijalankan pada Titi yaitu operasi bariatrik.
" Operasi itu berupa operasi bariatrik, teknik operasi pengecilan dan bypass lambung untuk menurunkan berat badan akibat obesitas," kata dia.
Setelah operasi, ucap Theo, Titi diharuskan mengonsumsi multivitamin dalam waktu yang lama. " Mudah-mudahan dalam enam bulan bobot pasian sudah berkurang," kata dia.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangkaraya, Andjar Hari Purnomo, mengatakan pemilihan mobil pickup untuk mengangkut Titi karena dinilai efektif. Sebelumnya, pihaknya telah berkomunikasi dengan keluarga Titi terkait penggunaan pickup tersebut.
" Untuk evakuasi memang kami cari kendaraan yang bisa mengakomodari Bu Titi Wati. Yang jelas, ambulans tidak muat," kata Andjar.
Sumber: Prokal.co
Dream - Bisa berjalan kini hanya menjadi harapan bagi Titi Wati, 37 tahun, wanita yang tinggal di Gang Bima, Jalan G Obos XXV Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Jangankan berjalan, berdiri saja sudah tidak bisa.
Penyebabnya, tubuh wanita ini menggemuk secara drastis sejak 6 tahun lalu. Dia kini hanya bisa berbaring, sesekali tengkurap.
Sontak seluruh aktivitasnya hanya dilakukan di satu tempat. Mulai dari berkomunikasi, makan, hingga mandi dan buang air. Sebab, dia sudah tidak bisa lagi bergerak.
Berat badan Titi termasuk tidak normal. Mencapai 350 kilogram. Hal itulah yang membuatnya hanya bisa berbaring.
" Saya mengalami kelebihan berat badan sudah sekitar enam tahun belakangan ini, tepatnya mulai 2013," ujar Titi, dikutip dari Pojoksatu.
Di rumahnya, Titi hanya tinggal berdua dengan anaknya. Sang suami, Edy, 56 tahun, merantau ke luar kota untuk bekerja.
" Suami saya kerja di Tangkiling, kerja kayu. Pulang ke rumah palling hanya sebulan sekali," kata Titi.
Meski begitu, Titi mengatakan sang suami rutin mengirim nafkah. Wanita itu bisa menerima suaminya yang jarang pulang karena tempat kerja yang jauh.
Uang kiriman sang suami menjadi andalan Titi dan anaknya untuk bertahan hidup. Dia tidak punya penghasilan lain karena mengakui tidak bisa bekerja.
" Saya tidak bisa bekerja, bahkan untuk melakukan aktivitas sehari-hari saja, saya harus dibantu anak saya," kata dia.
Bahkan, sang anak terpaksa putus sekolah sejak kelas 2 SMP. Alasannya semata ingin merawat sang ibu setiap hari.
Tuti pun mengaku tidak tahu pasti penyebab tubuhnya mengalami obesitas. Dia menyatakan porsi makannya masih dalam batas wajar seperti kebanyakan orang.
Tetapi, dia punya kebiasaan ngemil, makan gorengan, serta minum-minuman dingin. Diduga kebiasaan itu yang membuat tubuhnya membesar dalam waktu relatif cepat.
" Kalau gorengan tidak terlalu banyak, sehari paling empat. Namun untuk makanan ringan dan minuman dingin itu saya tidak bisa lepas, hampir setiap minum selalu air es atau yang dingin," kata dia.
Titi kini tak bisa lagi berdiri. Jika memaksakan diri, akan terdengar suara tulang bergerutuk tak mampu menopang berat tubuh.
" Maka dari situ saya tidak berani lagi memaksakan berdiri maupun duduk," kata dia.
Sejak mengetahui ada yang janggal pada tubuhnya, Titi tidak pernah memeriksakan diri ke dokter. Sehingga, perkembangan tubuhnya tidak terkontrol.
Dia juga pernah merasa minder dengan kondisi tubuhnya. Meski demikian, sang suami dan anak selalu memberikan dukungan sehingga Titi bisa menerima keadaan.
Lebih lanjut, ibu satu anak ini ingin kembali memiliki tubuh yang normal. Sayangnya, kondisi ekonomi menjadi penghalang Titi untuk mewujudkan keinginannya. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya