Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Para Siswa Di Sigi, Sulawesi Tengah, Menyeberang Sungai Pakai Alat Berat. (Foto: Video Facebook)
Dream - Tidak dipungkiri bahwa pembangunan di Indonesia lebih banyak dilakukan di kota-kota besar. Akibatnya, daerah-daerah terpencil jadi ketinggalan.
Pembangunan sarana dan prasarana, termasuk infrastruktur jalan, yang tidak merata sangat dirasakan dampaknya oleh daerah-daerah tersebut.
Jangankan akses Internet untuk mengikuti kelas daring, jembatan untuk menyeberang sungai saja para siswa di daerah terpencil harus bertaruh nyawa.
Itulah yang dialami para siswa dan guru di Provinsi Sulawesi Tengah melalui video viral yang dibagikan oleh akun Facebook Hikmah Ladjidji ini.
Video itu memperlihatkan para siswa dan guru Madrasah Aliyah (MA) Vumbulangi, Desa Bangga, Kabupaten Sigi, yang harus bertaruh nyawa ketika berangkat sekolah.

Para siswa dan guru ini terpaksa naik ekskavator untuk menyeberang sungai yang beraliran deras karena ketiadaan jembatan.
Mereka tampak menjerit-jerit ketika menaiki 'lengan' ekskavator itu. Entah, jeritan itu sebagai ungkapan rasa takut jatuh atau mereka memang merasa seru lantaran naik ekskavator untuk menyeberang sungai.

Menurut keterangan pengunggah video, para siswa ini tidak bisa mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) secara online. Penyebabnya tidak ada jaringan Internet di desa mereka.
Karena itu, mereka terpaksa masuk kelas dan menjalani UAS secara tatap muka. Namun untuk ke sekolah, mereka harus bertaruh nyawa.
Belum tersedianya infrastruktur ini karena kondisi desa pascabencana alam 2 tahun lalu belum pulih. Bahkan warga masih tinggal di hunian sementara (huntara).

" Kondisi desa pasca bencana alam sejak 2 tahun lalu belum pulih mereka masih tinggal di huntara yg diantaranya banyak dibangun para relawan LSM," tulis pengunggah video di postingannya.
Seperti diketahui, pada akhir September hingga awal Oktober 2018 lalu gempa dan tsunami melanda Donggala, Palu, Sigi dan beberapa wilayah lain di Sulawesi Tengah.

Saat itu, ribuan bangunan hancur dan 1.234 dilaporkan meninggal dunia hingga Selasa, 2 Oktober 2018 pukul 13.00 WIB.
Sedangkan mereka yang mengungsi berjumlah lebih dari 16 ribu orang. Sebagian kawasan mengalami fenomena tanah bergerak yang dikenal dengan likuifaksi.
Akibatnya tanah yang dipijak berubah bak gelombang dan menenggelamkan ratusan rumah yang berdiri di atasnya.
Sumber: Facebook
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya