Terkuak, Isi Rekaman Percakapan Pilot Sebelum Lion Air JT610 Jatuh

Reporter : Eko Huda S
Kamis, 21 Maret 2019 08:01
Terkuak, Isi Rekaman Percakapan Pilot Sebelum Lion Air JT610 Jatuh
Kapten meminta kopilot untuk memeriksa buku panduan, yang berisi daftar periksa untuk peristiwa abnormal.

Dream - Tiga sumber yang diklaim mengetahui isi percakapan Cockpit Voice Recorder (CVR) Lion Air JT610 mengungkapkan situasi di dalam ruang kemudi sebelum pesawat berisi 189 orang tersebut jatuh ke laut pada 28 Oktober 2018.

Dikutip dari laman The Straits Times, Rabu 20 maret 2019, dari data rekaman itu diketahui pilot membuka buku panduan untuk mencari tahu masalah yang dihadapi. Tapi sayang, mereka tak punya waktu untuk menyelamatkan Boeing 737 Max-8 tersebut.

Penyelidikan terhadap kecelakaan pesawat yang terbang dari Bandara Soekarno-Hatta ke Pangkalpinang itu mempertimbangkan bagaimana komputer memerintahkan pesawat menukik sebagai respons data akibat kesalahan sensor dan apakah pilot cukup terlatih untuk merespons dengan baik terhadap kondisi darurat itu.

Artikel yang dimuat laman The Straits Times itu memang tak menjelaskan secara detail isi rekaman di dalam CVR tersebut. Sementara, Juru Bicara Lion Air, sebagaimana ditulis The Straits Times, menolak berkomentar banyak dan hanya mengatakan semua informasi dan data telah diserahkan kepada para penyelidik.

1 dari 2 halaman

Pilot Berusaha Angkat Hidung Pesawat, tapi...

Menurut laporan sementara yang dirilis pada November tahun lalu, sang kapten menjadi pengendali pesawat saat Lion Air JT610 lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta. Sedangkan petugas pertama atau kopilot mengendalikan radio.

Hanya dua menit setelah lepas landas, kopilot melaporkan adanya 'masalah kontrol penerbangan' ke air traffic control atau ATC. Kopilot mengatakan bahwa pilot ingin mempertahankan ketinggian terbang 5.000 kaki atau 1,524 meter.

Kopilot tidak merinci masalah yang dialami pesawat berisi 189 orang itu. Namun salah satu sumber mengatakan kecepatan udara disebut dalam rekaman percakapan kokpit atau CVR. Sumber ke dua mengatakan indikator menunjukkan masalah pada layar kapten.

Kapten meminta kopilot untuk memeriksa buku panduan, yang berisi daftar periksa untuk peristiwa abnormal. Selama sembilan menit berikutnya, jet itu memperingatkan pilot bahwa pesawat dalam kondisi stall dan mendorong hidung ke bawah sebagai respons.

Stall merupakan kondisi ketika aliran udara di atas sayap terlalu lemah untuk menghasilkan daya angkat dan membuat pesawat tetap terbang.

Kapten berusaha keras untuk menaikkan pesawat, tetapi komputer --yang masih salah-- merasakan sebuah stall, terus menekan hidung pesawat menggunakan sistem trim. Biasanya, trim menyesuaikan permukaan kontrol pesawat untuk memastikannya terbang lurus dan datar.

" Mereka tampaknya tidak tahu trim bergerak turun. Mereka hanya memikirkan kecepatan udara dan ketinggian. Itulah satu-satunya hal yang mereka bicarakan," kata sumber ke tiga.

2 dari 2 halaman

Diselamatkan Pilot Off-duty

Sementara, laman The Telegraph melaporkan kondisi di dalam kokpit Lion Air JT610 sehari sebelum jatuh di Laut Jawa. Pesawat ini memang sudah mengalami masalah malam sebelum nahas, saat terbang dari Denpasar menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Menurut laporan, pada penerbangan malam sebelumnya itu, terdapat kru lain yang berada di dalam kokpit. Dia adalah pilot yang sedang tidak bertugas. Pilot off-duty inilah yang justru menyelamatkan pesawat malam itu.

Menurut dua sumber yang dekat dengan penyelidikan kecelakaan ini, pilot tambahan itu, yang duduk di kursi kokpit, mendiagnosis masalah dengan tepat dan memberi tahu kru cara menonaktifkan sistem kontrol penerbangan yang tidak berfungsi dan menyelamatkan pesawat.

Keesokan harinya, di bawah kendali kru yang berbeda, pesawat ini mengalami masalah serupa. Namun, masalah itu tidak bisa ditangani sampai akhirnya menghunjam ke Laut Jawa di Tanjung Karawang, Jawa Barat, dan menyebabkan 189 orang meninggal dunia.

Beri Komentar
Representasi Feminisme Versi Barli Asmara