Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Polwan (Merdeka.com)
Dream - Kabar calon polisi wanita (Polwan) di Indonesia diwajibkan mengikut tes keperawanan menjadi sorotan dunia.
Media ternama Inggris, Daily Mail, Selasa 18 November, menulis laporan tentang tes itu, yang dikatakan sangat menyakitkan dan membuat trauma bagi kaum hawa.
Mereka mengutip laporan hak asasi Human Rights Watch (HRW), di mana perempuan di Indonesia yang ingin menjadi polisi dipaksa mengikuti tes keperawanan.
Tahun ini peserta ujian masuk mencapai 7.000 perempuan dari seluruh provinsi. Beberapa persyaratan itu misalnya harus berusia antara 17-22 tahun, beragama, tinggi sekitar 165 sentimeter, tidak berkacamata, dan perawan.
" Selain tes medis dan fisik, wanita yang ingin menjadi polwan juga harus menjalani tes keperawanan. Sehingga semua wanita yang ingin menjadi polwan harus menjaga keperawanan mereka," demikian tertulis di situs kepolisian Republik Indonesi dan belum dihapus hingga berita ini dilansir Daily Mail.
Menurut laporan lembaga hak asasi HRW, sejumlah pelamar menceritakan saat harus menjalani tes itu.
" Aku merasa malu, gugup, tapi aku tidak bisa menolak," kata salah satu peserta yang mendaftar menjadi Polwan pada 2013 kepada HRW. " Jika saya menolak, saya tidak bisa menjadi seorang polwan."
Direktur Asosiasi Hak Asasi Perempuan HRW, Nisha Varia mengatakan Polri menggunakan tes keperawanan untuk mendiskriminasi, melakukan kekerasan, dan menghina martabat wanita.
" Yang tidak lulus tes ini langsung diusir. Tes ini juga amat menyakitkan dan membuat trauma," kata dia.
Menanggapi soal tes itu, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Polisi Ronny F Sompie membantah, praktik itu masih dilakukan hingga saat ini.
Kata dia, seleksi dilakukan antara lain pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh untuk lelaki dan perempuan. Termasuk pemeriksaan organ reproduksi. " Jadi bukan tes keperjakaan atau tes keperawanan," tegasnya.
Selain Daily Mail, majalah Time dari Amerika Serikat juga mengangkat isu serupa. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya