Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Xiong Junyi Terbaring Lemah Sebelum Menjalani Operasi
Dream – Ini kisah Xiong Junyi, Bocah asal China yang menderita penyakit kerusakan otak cukup parah. Orangtuanya tak lagi sanggup menyaksikan penderitaan buah hati memutuskan untuk mengajukan permohonan Euthanasia pada dokter di rumah sakit Shanghai provinsi Anhui, China.
Euthanasia berasal dari kata Yunani, eu yang berarti baik dan thanatos berarti kematian. Jika dilihat dari ilmu kedokteran, Euthanasia merupakan sebuah tindakan untuk menghentikan kesakitan yang dialami penderita yang akan meninggal, dipercepat karena kesakitan yang terlalu hebat.
Namun niat orangtua Junyi itu ditentang oleh kantor urusan sipil setempat, karena Euthanasia dipandang ilegal di China. Sementara, kondisi Junyi semakin hari kian memprihatinkan, hampir satu bulan ia menginap di rumah sakit Anhui yang tak jauh dari kantor sang ayah. Ia tak lagi bisa bebas bergerak, berbicara, bernapas, bahkan Ia juga mengalami kesulitan saat menelan makanan.

Kisah Junyi menarik perhatian khalayak, terutama sebuah organisasi yang bergerak dibidang kemanusiaan. Penggalangan dana untuk membantu operasi pengangkatan sel jaringan yang merusak otak Junyi segera dilakukan. Respons masyarakat akan kesembuhan Junyi semakin positif. Tepat tanggal 30 Januari di rumah sakit anak Fudan University, Junyi melakukan operasi.
Dokter Li Hao yang menangani jalannya operasi Junyi mengaku operasi ini akan membutuhkan waktu, tenaga yang ekstra, serta biaya yang tidak sedikit. " Kami tidak bisa menjanjikan Junyi akan pulih secara maksimal, namun semangatlah yang akan membawa kesembuhan untuk Junyi," Ungkap dokter Li Hao.
Kedua orangtua Junyi sangat berterima kasih dengan organisasi serta masyarakat yang telah mendukung kesembuhan buah hati mereka. " Bukan maksud kami mematahkan semangat Junyi, namun kami sungguh tidak tega melihat keadaan Junyi yang semakin hari melemah. Oleh sebab itu Euthanasia sempat menjadi pilihan terbaik untuknya," ungkap Xiong Zhengqing, ayah Junyi.
Sumber:shanghaiist.com
Kirimkan kisah nyata inspiratif disekitamu atau yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:
1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res
4. Isi di luar tanggung jawab redaksi
Ayo berbagi traffic di sini!
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya