Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Shutterstock)
Dream - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan pelaksanaan vaksin Covid-19 booster kedua akan dimulai pada Jumat, 29 Juli 2022. Untuk tahap pertama vaksinasi akan diprioritas kepada Tenaga Kesehatan (Nakes) dilanjutkan masyarakat umum.
" Vaksin booster kedua dimulai besok, tanggal 29 Juli 2022," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, Maxi Rein Rondonuwu kepada Liputan6.com, Kamis 28 Juli 2022.
Menurut Maxi, pihaknya telah membuat surat edaran untuk pelaksanaan vaksinasi booster kedua yang harus diikuti SDM yang bekerja di bidang kesehatan.
" Yang sudah dapat booster pertama untuk dilanjutkan booster kedua," ujarnya.
Maxi belum menjelaskan lebih detail mengenai vaksin yang digunakan serta mekanisme pemberian vaksin Covid-19 dosis keempat tersebut.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa banyak tenaga kesehatan yang terinfeksi Covid-19. Meski demikian, Budi mengatakan perihal pemberian vaksin booster dosis kedua masih dipelajari.
“ Kita memang sekarang sedang mempelajari vaksin booster berikutnya untuk tenaga kesehatan karena memang ada beberapa tenaga kesehatan yang kena," ujar Budi usai peluncuran aplikasi Satusehat di Jakarta, Selasa 26 Juli 2022.
Budi Gunadi berharap, informasi mengenai vaksin booster dosis kedua dapat segera disosialisasikan pada masyarakat.
" Mudah-mudahan di waktu dekat kita bisa informasikan ke masyarakat. Karena itu membutuhkan masukan dari ahlinya,” ujarnya.
Dream - Jumlah kasus Covid-19 di beberapa negara naik secara signifikan. Hal tersebut menunjukkan pandemi belum berakhir. Direktur World Health Organization (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatka hal tersebut. Ia khawatir jumlah kasus terus meningkat, memberikan tekanan lebih lanjut pada sistem kesehatan dan pekerja.
" Gelombang baru virus menunjukkan lagi bahwa Covid-19 belum berakhir. Ketika virus mendorong kita, kita harus mendorong kembali," kata Tedros dalam sebuah konferensi pers, dikutip dari Channel News Asia.
" Virus ini berjalan bebas dan negara-negara tidak efektif mengelola beban penyakit berdasarkan kapasitasnya, baik dari segi rawat inap untuk kasus akut maupun peningkatan jumlah orang dengan kondisi pasca COVID, yang sering disebut sebagai long COVID,” ujarnya.
Ia juga kembali menekankan, ketika penularan Covid-19 dan rawat inap meningkat, pemerintah juga harus menerapkan langkah-langkah yang telah dicoba dan diuji seperti masker, peningkatan ventilasi, dan protokol pengujian dan perawatan.
Komite darurat WHO untuk Covid-19 melakukan pertemua beberapa hari lalu melalui konferensi video dan memutuskan bahwa pandemi tetap menjadi dan statusnya tetap Public Health Emergency of International Concern- alarm tertinggi yang dapat dibunyikan WHO.
Direktur kedaruratan WHO, Michael Ryan mengatakan pada pertemuan itu kasus Covid-19 global yang dilaporkan ke WHO meningkat 30 persen dalam dua minggu terakhir. Sebagian besar didorong oleh sub-varian Omicron BA.4, BA.5 dan dan pencabutan kebijakan kesehatan masyarakat. Ryan mengatakan perubahan baru-baru ini dalam kebijakan pengujian menghambat deteksi kasus dan pemantauan evolusi virus.
" Ini menghambat penilaian varian virus yang saat ini beredar dan muncul," kata Ryan, yang menekankan pada ketidakmampuan untuk menafsirkan tren penularan.
Komite mengatakan lintasan evolusi virus dan karakteristik varian yang muncul tetap tidak pasti dan tidak dapat diprediksi. Hal ini karena tidak adanya langkah-langkah untuk mengurangi penularan dan bisa meningkatkan kemungkinan varian baru yang lebih baru muncul, dengan tingkat penularan dan kekebalan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya