Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
(Foto: Thesun.co.uk)
Dream - Sebuah video mengerkan memperlihatkan bagaimana seekor kelabang raksasa membunuh tikus yang ukurannya 15 kali lebih besar dari tubuhnya menggunakan racunnya.
Dalam video terlihat kelabang kepala emas itu membunuh hewan pengerat malang tersebut hanya dalam hitungan 30 detik.
Video tersebut direkam oleh para peneliti di Institute of Zoology, Kunming, China.
Penelitian itu dilakukan untuk mengetahui apakah racun yang dimiliki kelabang kepala emas itu menimbulkan kerusakan pada sistem kardiovaskular, pernafasan, dan saraf makhluk lainnya.
Selama ini dipercaya bahwa racun kelabang kepala emas mampu mengganggu pernafasan para korbannya sehingga memicu kejang-kejang yang berujung pada kematian.
Dalam video tidak terlihat kelabang beracun itu memangsa tikus tersebut. Padahal tikus termasuk makanan utama kelabang yang juga pernah diketahui melahap ular kecil.
© Dream
Para peneliti itu menemukan sebuah zat yang mereka sebut 'racun maut' yang dikeluarkan kelabang kepala emas, yang di China dinamakan kelabang kepala merah.
Menurut The Washington Post, racun tersebut menghalangi pergerakan potasium untuk masuk dan keluar sel tikus tersebut.
Para peniliti yakin proses tersebut yang menghentikan aliran darah ke jantung, yang menyebabkan gagal jantung dan kematian.
Penelitian yang dipimpin Dr Lei Luo itu mengatakan racun kelabang telah berevolusi untuk sekaligus mengganggu sistem kardiovaskular, pernafasan, otot, dan saraf korbannya.
Kematian manusia akibat digigit kelabang sangat jarang terjadi dan hanya ada tiga kasus kematian yang tercatat pada tahun 2006.
© Dream
Kendati demikian, gigitan kelabang beracun tetap menimbulkan kondisi yang tidak menyenangkan.
Di Hawaii, antara tahun 2007 dan 2011, 1 dari 10 kasus panggilan darurat karena sebab alam disebabkan oleh gigitan kelabang.
Hasil penelitian Dr Lei Luo dan timnya ini telah dipublikasikan di PNAS.
(Sumber: thesun.co.uk)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya