Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Penampakan Polusi Udara Di Langit Jakarta Utara, Senin (29/7/2019). Buruknya Kualitas Udara Ibu Kota Disebabkan Jumlah Kendaraan, Industri, Debu Jalanan, Rumah Tangga, Pembakaran Sampah, Pembangunan Konstruksi Bangunan, Dan Pelabuhan Tanjung Priok. (Liput
Dream - Kualitas udara yang buruk di Jakarta dan sekitarnya menjadi perhatian masyarakat selama beberapa pekan terakhir.
Menurut data Air Visual, kualitas udara Jakarta bisa mencapai 200 meskipun di akhir pekan.
Ketua Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI), Agus Dwi Susanto mengatakan, angka tersebut tidak bisa menjadi acuan karena indeks kualitas udara karena terus berubah.
" Kualitas udara terus berubah setiap hari dan hampir seluruh kota besar di Indonesia juga akan mengalami kondisi seperti ini. Bahkan di seluruh dunia," kata Agus, di Aston at Kuningan Suites, Jakarta Selatan, Senin, 5 Agustus 2019.
Sebuah penelitian juga menyatakan 92 persen orang di dunia menghirup udara buruk setiap harinya.

(Foto: Dream.co.id)
Meski terbilang wajar, memburuknya kualitas udara di Jakarta dapat menjadi perhatian karena polusi menjadi penyebab utama kelima dari penyakit mematikan.
" Dari data WHO tahun 2015, lima hal yang menjadi penyebab utama penyakit mematikan adalah kolesterol, gula darah, hipertensi, rokok dan polusi udara, khususnya adalah Particle Meter (PM)," ujar dia.
Meski begitu, polusi juga berdampak pada kesehatan. Polusi di dalam ruangan, kata dia, bisa menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), faringitis, batuk, sesak nafas, bersin dan lain-lain.
" Sedangkak efek jangka panjangnya adalah penyakit paru-paru, asma, jantunh, steoke dan kanker, terutama kanker paru-paru," ucap dia.
Gas dari polusi, kata dia, bukan penyebab penyakit kronis tersebut, melainkan PM2,5 yang mengandung bahan karsinogen dan bersifat oksidatif. Bahan ini menimbulkan peradangan sistemik pada pembuluh darah.
" Untuk polusi di dalam ruangan, sebaiknya jangan melakukan hal yang menambah polusi seperti merokok, jangan membuka ventilasi terlalu lebar, menjaga kebersihan, memakai air purifier dan pakai masker," ujar dia.
Agus mengatakan, membuka ventilasi terlalu lebar dapat menyebabkan udara di dalam ruangan tercemar dengan udara luar. Dia menyarankan, setiap ruangan gunakan air purifier atau aloe vera sebagai pembersih udara alami.
Sedangkan untuk menghindari pengaruh buruk polusi di luar ruangan, Agus menyarankan, masyarakat agar memantau kualitas udara di sekitar, meminimalisir kegiatan di luar ruangan ketika udara kurang sehat, jangan menambah polusi dengan menggunakan kendaraan pribadi, atau membakar sampah, memakai masker, dan menjaga kesehatan tubuh.
" Kalau di dalam ruangan, pakai simple mask yang biasa digunakan sehari-hari. Kalau di luar ruangan pakai masker yang mampu memfiltrasi polutan minimal 95 persen. Dan jangan lupa makan makanan yang bersifat antioksidan," ujar dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya