Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Wanita Tegar (1): Kisah Wanita di Tengah Peperangan

Reporter : Syahid Latif
Senin, 27 Oktober 2014 20:36
Wanita Tegar (1): Kisah Wanita di Tengah Peperangan
Kaum wanita kerap jadi sasaran empuk. Ada yang dibunuh. Banyak yang diperkosa

Dream - Sirine itu akhirnya berhenti meraung. Namun kengerian di ruang bawah tanah itu masih meruap. Sudah dua hari para wanita bersama sejumlah anak berlindung di situ. Tak ada yang bisa dilakukan. Selain menghembuskan nafas. Dan berusaha menenangkan isak tangis anak-anak.

Empat puluh delapan jam sebelumnya, ribuan peluru muntah dari senapan para serdadu. Desingan peluru itu merobek keheningan Minggu pagi di Kozarac, sebuah desa di Bosnia, negeri di mana kematian ada di ujung jari para serdadu.

Gerombolan penebar maut itu adalah tentara Serbia, yang datang dengan satu tujuan: membunuh. Di tengah desingan peluru itulah sirene tanda bahaya meraung. Warga berebutan masuk sejumlah ruang bawah tanah, tempat ibu-ibu dan anak-anak mengungsikan jiwa.

Begitu sirene berhenti, mereka yang di bawah tanah itu bernafas lega. Tapi maut belum pergi dan perjuangan warga Kozarac masih jauh dari kematian. Tak ada waktu bersenang-senang. Mobil dan truk sudah berderet di depan ruang bawah tanah itu. Siap mengangkut mereka mengungsi.

Rombongan mobil melaju ke kota Debeli Brijeg dekat Brdjani, wilayah aman yang letaknya cukup jauh dari Kozarac. Rombongan itu terus melesat masuk ke dalam hutan belatantara. Sebelum tiba di Debeli, mereka bermalam di Kota Vidovici.

Tapi di kota itu, kengerian menjemput sebelum matahari menyapa dari timur. Para pengungsi dibangunkan secara paksa. The Chetniks, telah bersiaga penuh. Inilah paramiliter Serbia yang berbaris rapi lengkap dengan lencana Elang Putih.

Perintah lantang untuk menyerahkan diri memecah kedamaian pagi itu. Ancaman tembak mati membuat bulu kuduk meriang. Para pengungsi itu dicekam ketakutan. Tidak ada pilihan, selain menyerah. Melawan sama artinya dengan menyongsong kematian.

Para pengungsi dipaksa naik truk dan digiring kembali ke Kota Kozarac. Kali ini di bawah kawalan tentara bersenjata lengkap, yang siap membunuh jika ada yang “ mengacau”. Dan inilah neraka dunia itu. Tentara Serbia memisahkan wanita dan pria dalam dua kelompok berbeda. Azra, seorang gadis Bosnia berusia 16 tahun dipaksa berpisah dengan sang Ayah. Tinggal ibu bersama tiga saudara Azra.

" Mereka membawa ayah saya. Dia berusia 43 tahun. Sambil menangis beliau mengucapkan selamat tinggal. Saya tak pernah melihatnya menangis," kata Azra mengenang tragedi yang susah terlukiskan itu. Para wanita, anak-anak dan kaum lelaki digiring ke kota berbeda.

Azra dan keluarga diangkut menggunakan bus. Trnopolje jadi kota tujuan. Masih ada beberapa pria di dalam bus itu. Sisanya, tertinggal di pusat penjara Omarska dan Keraterm. Kamp ini mirip tempat konsentrasi Yahudi ala Nazi. Wanita dan pria dipisahkan oleh pagar besi.

Hari paling memilukan pun datang. Azra harus mengambil air minum di kamp konsentrasi Trnopolje. Di kamp yang dipisahkan dengan kawat itu memang ada jadwal untuk setiap penghuni. Air sumber kehidupan itu adalah pintu menuju kegelapan dalam hidup Azra. Ketika sedang mengambil air, bersama empat gadis lainnya, Azra dibawa ke sebuah rumah. Di situlah seluruh kemanusiaannya direngut.

Azra dipermainkan nafsu bejat para tentara. Kehormatan diri paling berharga yang dijaganya selama ini dirampas paksa para tentara. Melawan adalah kematian.

*****

Kaum wanita memang kerap kali menjadi sasaran empuk. Pada Negara yang sedang tenang sentosa, apalagi di kawasan yang tengah diamuk perang. Data soal kekerasan terhadap perempuan itu, sudah dilansir sejumlah lembaga resmi dunia.

Tengok saja data Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) ini.Satu dari tiga wanita di seluruh dunia, mengalami pemukulan atau kekerasan seksual sepanjang hidupnya. Di bagian dunia lain, kaum wanita bahkan lebih mudah diperkosa dari pada belajar membaca.

Setiap tahun, begitu bunyi data dari PBB itu, 60 juta wanita mengalami kekerasan seksual selama atau saat berangkat sekolah. Lebih dari 80 persen atau 640 ribu dari 800 ribu perdagangan manusia adalah wanita.

Cerita kelam belum berakhir disitu. Lebih dari 60 juta wanita disebutkan hilang di kawasan Asia. Pemicunya pembunuhan bayi, kelalaian, atau aborsi terpilih.

Dan lebih dari 60 juta wanita di seluruh dunia dipaksa menikah dini. Inilah pintu masuk bagi para wanita muda yang kerap mengalami kekerasan dalam mengarungi bahtera rumah tangganya.

The Economist mengungkapkan data yang tak kalah mengerikan. Perang yang pernah berlangsung di dunia kerap disertai dengan kasus pemerkosaan massal. Wanita menjadi sasaran empuk nafsu bejat para serdadu yang “ dimabuk” perang.

Lihat data-data ini. Perang Sino-Jepang kedua, Nanking pada 1937 telah menyebabkan 20 ribu wanita menjadi korban tewas. Bahkan 200 ribu perempuan dijadikan budak pemuas nafsu selama Perang Dunia II.

Angka lebih mengerikan muncul dari pecah perang Soviet melawan Jerman di Perang Dunia II. Sekitar 100 ribu hingga dua juta wanita menjadi korban. Ribuan wanita menjadi korban pemerkosaan. Sementara perang antara Pakistan dan Bangladesh pada 1971 memakan korban 200 ribu wanita.

Ini hanyalah sebagian urutan panjang kisah tragis kaum hawa yang bisa tercatat media. Beberapa lembaga menyebutkan, jumlahnya bisa lebih mengunung dari data yang ada.

*****

Dan pada tahun 2014 ini, dunia dikejutkan dengan kabar buruk yang berhembus dari Nigeria. Meski kasusnya tidak seburuk yang dialami kaum perempuan di Bosnia dan dalam berbagai perang dunia itu.

Sebanyak 300 siswi sekolah Menengah Putri Chibok ditawan kelompok radikal. 57 gadis sekolah berhasil melarikan diri, sementara 210 lainnya masih belum diketahui nasibnya.

Ini adalah aksi penculikan terbesar yang dilakukan kelompok militan Nigeria, Boko Haram.

Satu bulan kemudian, pemimpin Boko Haram, Abubakar Shekau mengirim video peringatan kepada kantor berita. Ia mengatakan 'menjual' gadis-gadis itu. Kata dia, gadis-gadis itu seharusnya tak berada di sekolah tapi mengurus rumah tangga.

Sejumlah wanita dari suku Yazidi juga mengaku bernasib kelam di tengah kecamuk perang yang dikobarkan militan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) yang menjelma menjadi Islamic State (IS). Meski jumlahnya jauh dari yang terjadi di Bosnia dan berbagai perang dunia itu, perang ini juga mempersulit posisi perempuan.

Seorang pengacara dan aktivis pembela Hak Asasi Manusia (HAM) Irak, Sameera Salih Ali al-Nuaimy, bernasib sial. Haknya dicabut paksa lewat siksaan yang diakhiri eksekusi mati para militan organisasi tersebut.

Al-Nuaimy ditangkap hanya karena mem-posting status di akun Facebook-nya yang mengutuk tindakan " barbar" para militan ISIS yang telah melakukan pemboman dan penghancuran mesjid dan kuil di Mosul, Irak Utara.

Ternyata masih banyak Al-Nuaimy lain yang bernasib serupa. Aktivis HAM Irak, Hanaa Edwer mengatakan sedikitnya ada lima aktivis politik perempuan tewas di tangan IS di Mosul.

Beri Komentar