Dua Siswa Pedalaman Aceh Tembus Kejuaran Sains Internasional

Reporter : Maulana Kautsar
Sabtu, 4 Maret 2017 13:01
Dua Siswa Pedalaman Aceh Tembus Kejuaran Sains Internasional
Mereka menciptakan aplikasi untuk tuna rungu dan tuna wicara

Dream - Tinggal jauh dari pusat kota tak menjadi halangan dua siswa asal SMA N 1 Paya Bakong, Aceh Utara, Maulidi Rahmi dan Fadlon, untuk berprestasi. Dengan fasilitas pas-pasan, mereka mampu menembus lomba sains tingkat dunia.

Menurut Kepala Sekolah SMA N 1 Paya Bakong, Sayuti, dua siswa mereka dapat melaju ke kejuaraan sains terapan Infomatics Project Competition yang akan diselenggarakan di Kazakhstan, pada 27 April hingga 1 Mei 2017.

" Mereka lolos ke Kazakhstan setelah meraih medali perak pada ajang Indonesia Science Project Olympiad (ISPO) 2017 di Tanggerang, Banten, pada 23–26 Februari 2017," ucap Sayuti saat berbincang dengan Dream melalui sambungan telepon, Jumat 3 Maret 2017.

Dalam kejuaran di Tangerang, Maulidi dan Fadlon mengerjakan proyek berjudul " Si Tunggang: Aplikasi Tuna Rungu/Wicara Aneuk Nanggroe" . Proyek itu dikerjakan dalam Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) selama enam bulan.

Menurut pembimbing mereka, Kustalani, aplikasi tersebut berisi metode pengajaran bahasa isyarat untuk siswa tuna wicara dan tuna rungu.

Kustalani menambahkan, selama pengerjaan aplikasi itu, halangan utama yang mereka rasakan adalah jarak rumahnya dengan kedua siswanya. Untuk mengakalinya, mereka kerap bertemu sepulang sekolah atau menjadwalkan diskusi di hari Minggu.

" Jarak antara rumah saya dengan kedua murid jauhnya sekitar 10 kilometeran. Itu yang menyulitkan kami untuk berdiskusi," kata dia.

1 dari 1 halaman

Persiapan ke Kazakhtan

Persiapan ke Kazakhtan © Dream

Jelang lomba yang akan digelar di Kazakhstan itu, para siswa pun menyiapkan diri. Menurut Kustalini, mereka akan merevisi beberapa usulan yang diajukan dewan juri ISPO.

" Juri menyarankan deteksi citra (objek) dengan bahasa isyarat kurang sempurna dan perubahan tampilan latar belakang," kata dia.

Selain itu, tambah dia, para siswa yang ingin berlaga juga giat memelajari bahasa Inggris. Meski sudah memiliki dasar, kemampuan bahasa Inggris kedua siswa itu perlu diasah.

" Ya mereka lagi di-drill dengan guru bahasa Inggris mereka," kata dia.

Persiapan juga sedang dilakukan Sayuti. Mereka membutuhkan biaya untuk akomodasi dan perjalanan tiga delegasi yang diberangkatkan, yang terdiri dari dua siswa dan satu pembimbing.

" Jika kami hitung, masing-masing orang menghabiskan biaya Rp40 juta untuk akomodasi ke Kazakhstan," kata dia.

Untuk itu, Sayuti kini sedang meminta bantuan pemerintah setempat.

" Kami sedang lobby Bupati dan Dinas Pendidikan di sini," kata dia.

Sayuti menargetkan, pada kejuaraan itu, para siswanya mendapat juara. " Saya selalu menekankan kepada siswa untuk berusaha maksimal, semoga target itu terpenuhi," kata dia.

Informatics Project Competition merupakan kejuaraan yang diorganisasi oleh Lembaga Pendidikan Lumina, Kementerian Pendidikan Kazakhstan, dan ISMB.

Dalam kejuaran itu, ada beberapa kategori yang dilombakan, antara lain, robot, film pendek, pemograman, seni komputer, kontrol hardware.

Dalam kejuaran kali ini, peserta yang menjuarai masing-masing kategori akan mendapat hadiah dari perusahaan anti virus ternama Avira.

Beri Komentar