Susah Payah Lepas dari Kemiskinan Begitu Kaya Bikin Dunia Haru

Reporter : Sugiono
Jumat, 16 Februari 2018 11:00
Susah Payah Lepas dari Kemiskinan Begitu Kaya Bikin Dunia Haru
Jika menurutkan kata hati, dia adalah seorang jutawan yang bisa saja memilih untuk bersenang-senang menikmati hari tua.

Dream - Kisah tentang seorang jutawan asal Malaysia, Masjuki Mohd Musuri, begitu menyentuh. Tak hanya soal perjuangannya meniti hidup, namun juga perbuatannya ketika sudah menjadi kaya.

Masjuki adalah pengusaha yang menggeluti banyak bidang, seperti ekspor impor, produk kulit, furnitur, pakaian, mesin, peternakan, dan masih banyak lagi. Bisnisnya sudah merambah Inggris, Australia, apalagi Indonesia.

Jutaan ringgit mengalir ke dalam rekeningnya setiap detik. Kisah hidupnya juga telah dipublikasikan di sejumlah surat kabar, majalah, siaran radio, dan televisi.

Masjuki merupakan salah satu figur yang menginspirasi. Dengan perjuangan dan kerja keras, Masjuki berhasil keluar dari jurang kemiskinan. 

Dari usahanya, Masjuki memiliki harta melimpah seperti mobil mewah, koleksi motor bermesin kapasitas besar (motor gede/moge), puluhan bungalow, ribuan hektare tanah, dan rekening-rekening tabungan bersaldo miliaran.

Jika mengikuti hawa nafsu, Masjuki bisa saja memilih untuk bersenang-senang, menikmati hari tua selepas menjalani perjuangan yang keras. Tetapi, apa yang dilakukan Masjuki justru sebaliknya, sungguh menakjubkan.

Dia memilih untuk mendermakan seluruh hartanya lewat perusahaan Wakaf Enterprise (WE) yang dia dirikan. Bukan hanya harta, Masjuki juga 'mewakafkan' dirinya untuk mendirikan  dan mengelola Rumah Pengasih Warga Prihatin (RPWP).

Warga Prihatin adalah rumah amal untuk para asnaf dan anak yatim. RPWP juga berfungsi sebagai pusat pembangunan moral pemuda-pemuda Islam yang butuh bimbingan.

1 dari 2 halaman

Alasan Mendermakan Seluruh Harta

Masjuki punya alasan tersendiri mengapa sampai rela mewakafkan seluruh hartanya.

" Saya hanya ingin membersihkan harta dan mendapat kepuasan batin. Saya juga merasa miris melihat masyarakat saat ini terpecah hanya karena harta dan kekuasaan," kata Masjuki.

Sebelumnya, Masjuki sempat berpikir hanya dengan sedekah, harta bisa dibersihkan. Dia lantas bertanya keuntungan apa yang bisa didapat jika harta sudah bersih. 

" Jadi untuk pastikan semuanya bersih, saya kira kita perlu mewakafkan semua, sama seperti yang dilakukan istri Nabi SAW, Khadijah, dan sahabat-sahabat Beliau," jelas dia.

Selanjutnya Masjuki mengatakan selama ini dia dan keluarganya hidup seadanya bersama orang-orang yang menjalankan Warga Prihatin.

" Bila tidak menghasilkan apa-apa, penyebab fitnah yang membawa dosa akan meninggalkan saya," tambah dia.

Bagi pria yang akrab dipanggil 'Ayah' oleh para penghuni Warga Prihatin ini, dia hanya ingin mendapatkan kepuasan dan kepastian tentang kesucian hartanya.

Ketika otak sudah lapang dari hanya memikirkan harta benda, Masjuki kini merasa lebih sehat dan ltenang. Semua ini menghasilkan hormon positif yang membuat tubuhnya lebih seimbang.

" Insya Allah di dunia sudah mendapat ketenangan, di akhirat pun kita bisa lebih dimudahkan. Jadi saya tidak perlu stres mengasah otak untuk cari uang. Sudah 13 tahun, Alhamdulillah tidak kekurangan walaupun tidak digaji, masih bisa pakai pakaian dan menempati rumah yang baik," katanya.

2 dari 2 halaman

Ide Mendirikan Rumah Amal

Masjuki menganggap dunia saat ini penuh dengan kerusakan akhlak. Banyak muncul isu-isu negatif di masyarakat karena cinta bukan lagi menjadi bahasa dunia.

Pengalamannya sendiri sejak kecil, belajar dan berdagang, sampai melibatkan diri di berbagai LSM telah membuka pikirannya. Meski dia sadar banyak LSM yang ditunggangi demi mengejar jabatan dan harta benda.

Dari sinilah Masjuki memiliki ide mendirikan rumah amal Rumah Pengasih Warga Prihatin.

Masjuki adalah salah satu pendiri dari 20 Warga Prihatin. Masing-masing berbagi visi dan misinya untuk mewujudkan amal untuk kebaikan, keluarga dan masyarakat dengan pekerjaan yang lebih jelas dan terorganisir.

Mereka berasal dari berbagai kelompok, mulai dari profesional sampai yang miskin dan asnaf yang tinggal di keluarga di bawah naungan Warga Prihatin itu sendiri.

Mereka bertugas menjaga berbagai kelompok seperti anak yatim, orang cacat, janda, warga lanjut usia, asnaf dan orang-orang yang butuh bimbingan.

(Sumber: sinarharian.com.my)

Beri Komentar