Cium Tangan Dhuafa, Polisi Ini Bikin Haru Jutaan Netizen

Reporter : Puri Yuanita
Rabu, 27 Juli 2016 13:10
Cium Tangan Dhuafa, Polisi Ini Bikin Haru Jutaan Netizen
Tak pelak video tersebut mengundang keharuan para netizen. Mereka terkesan dengan aksi mulia para polisi itu.

Dream - Sebuah video baru-baru ini menjadi viral dan ramai diperbincangkan di media sosial. Dalam video tersebut terlihat beberapa polisi tengah memberikan sembako kepada kaum dhuafa lantas mereka mencium tangannya.

Tak pelak video tersebut mengundang keharuan para netizen. Mereka terkesan dengan aksi mulia para polisi itu. Dan rupanya para polisi yang ada dalam video tersebut diketahui sebagai petugas Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (NTB) yang memiliki sebuah gerakan bernama 'Empati Seribu Rupiah Polda NTB'.

Melalui gerakan ini, para polisi tersebut mengumpulkan uang Rp1.000 secara sukarela untuk kemudian disumbangkan kepada kaum dhuafa secara rutin saat pelaksanaan patroli dialogis.

Yang membuat para netizen terharu menonton video ini bukanlah gerakan donasi yang mereka buat, melainkan kesediaan para polisi tersebut berinteraksi langsung, menyapa bahkan mencium tangan kaum dhuafa yang ditemui di jalan. Tanpa rasa sungkan atau gengsi.

Seperti diungkapkan seorang pemilik akun Facebook Jakhairi, " Bukan seribu rupiah yang bikin saya terharu, tapi ketika para polisi itu mencium tangan kaum dhuafa yang sangat berkesan," tulis Jakhairi.

Selengkapnya baca di sini.    

1 dari 4 halaman

Dapat Penghargaan, Polisi Pemulung Malang Mendunia

Dream - Masih ingat dengan Bripka Seladi, polisi yang memiliki profesi sampingan sebagai pemulung sampah? Anggota Satuan Lalu Lintas Polres Kota Malang itu mendapat penghargaan dari Kapolri atas kejujurannya menolak suap selama 40 tahun bertugas sebagai polisi.

Bripka Seladi menerima Tanda Kehormatan dari Kapolri yang disampaikan melalui Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Anton Setiadji, saat memimpin upacara HUT ke-70 Polri di lapangan Mapolda Jawa Timur, Surabaya, Jumat 1 Juli 2016.

Kini, namanya mendunia. Setelah penghargaan itu, nama Seladi menjadi sorotan berbagai media asing. Mereka mengangkat kisah Seladi yang tak mau menerima suap dalam menjalankan tugas sebagai anggota polisi.

Hawaii Public Radio misalnya, mereka menurunkan laporan dengan judul " Asia Minute: Honest Cop in Indonesia Wins National Recognition." Laman AsiaOne menulis dengan judul, " Indonesian policeman to be honoured for refusing bribes for 40 years."

Sementara laman ABC News Australia juga turut mengangkat kisah Seladi dengan judul, " 'I'd rather pick trash than be corrupt': Indonesian police reward honesty." Masih banyak lagi media asing yang mengangkat kisah Seladi.

" Saya bisa menggunakan seragam saya untuk mendapatkan uang haram jika saya mau,"  kata Seladi, dikutip Dream dari ABC News.

" Tapi saya memilih menjadi pemulung sampah daripada korupsi, memeras atau menipu orang lain untuk mendapatkan uang,"  tambah dia.

Seladi bahagia mendapat penghargaan itu, meski sebenarnya bukan itu yang menjadi tujuan utamanya. (Ism) 

2 dari 4 halaman

Kisah Teladan Sang Jenderal, Tak Marah Ditilang Polisi

Dream - Dalam beberapa kali terjadi bentrok antara anggota TNI dan polisi. Belakangan diketahui pemicunya berawal dari pelanggaran lalu lintas.

Sebagai aparat mereka tak terima ditegur. Sampai akhirnya berujung keributan hingga bawa-bawa senjata.

Agar peristiwa seperti itu tak terulang lagi, ada baiknya mengetahui cerita teladan yang diberikan mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Mayor Bambang Soegeng.

Meski menjadi orang nomor satu di TNI AD, Bambang Soegeng manut saja ketika dihentikan polisi di jalan raya.

Bambang Soegeng memang hobi naik sepeda motor. Ceritanya tahun 1952, sang Jenderal sedang berada di Yogyakarta. Dia meminjam motor milik Haryadi, seorang pelukis. Melajulah Bambang dengan motor keliling Yogyakarta.

Begitu sampai di Perempatan Tugu, yang mengarah ke jalan Malioboro, ada lampu lalu lintas yang menyala kuning. Dia menyangka habis lampu kuning pasti lampu hijau, Bambang pun tancap gas. Tahunya malah lampu merah yang menyala.

'Pritt!' seorang polisi menyetop Bambang yang saat itu berpakaian sipil alias tak pakai seragam.

Bambang berhenti. Polisi itu menasihati panjang lebar soal peraturan lalu lintas. Dia kemudian meminta SIM milik Bambang.

Tapi betapa terkejutnya polisi itu saat melihat SIM. Pria di depannya adalah Kepala Staf TNI AD Jenderal Mayor Bambang Soegeng --saat itu TNI AD masih dipimpin jenderal bintang satu dengan pangkat jenderal mayor.

" Siaap Pak!" si polisi langsung berdiri tegak memberi hormat. Merasa tegang mengetahui baru saja mau menilang Kasad.

Namun dengan bijaksana Bambang Soegeng mengaku salah. Dia tak marah pada polisi itu. Atau menggunakan kekuasaannya supaya lolos dari jerat hukum. Padahal dia pemimpin dari seluruh prajurit angkatan darat.

" Memang saya yang salah. Saya menerima pelajaran dari Pak Polisi," kata Bambang Soegeng.

Kisah ini dimuat dalam buku Panglima Bambang Sugeng, Panglima Komando Pertempuran Merebut Ibu Kota Djogja Kembali 1949. Buku tersebut ditulis oleh Edi Hartoto dan diterbitkan Penerbit Buku Kompas tahun 2012.

" Hal itu masuk berita di koran Yogya, keesokan harinya saya berkesempatan membacanya," kata Putra Bambang Soegeng, Bambang Herulaskar soal kasus Kasad disetop polisi tersebut.

(Ism, Sumber: Merdeka)

3 dari 4 halaman

Kisah Brigadir Polisi Tilang Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Dream - Tak tebang pilih dalam penegakan hukum. Itulah hikmah kisah yang ditulis Aryadi Noersaid ini. Cerita tentang seorang bintara polisi menilang Sultan Hamengku Buwono IX, Raja Tanah Jawa. Dan polisi pemberani itu adalah Brigadir Royadin, paman Aryadi Noersaid.

Kisah itu terjadi di Pekalongan, Jawa Tengah, pada pertengahan tahun 1960-an. Kala itu, jam baru menunjukkan pukul 5.30 WIB. Di pagi berkabut itu, Royadin, yang baru sepekan mendapat kenaikan pangkat dari agen polisi menjadi brigadir, sudah berada di pos jaga. Di Persimpangan Soko, yang mulai ramai dilalui delman dan becak.

Tiba-tiba, sebuah sedan hitam keluaran tahun 1950-an melaju pelan melawan arus. Kala itu, sangat jarang warga yang memiliki mobil. Sehingga, yang tengah berkendara itu pastilah bukan orang sembarangan. Namun demikian, nyali Royadin tak menjadi ciut. Dia menghentikan mobil yang melaju santai tersebut.

" Selamat pagi, bisa ditunjukan rebuwes," kata Royadin. Rebuwes merupakan surat kendaraan kala itu. Pengemudi mobil membuka kaca. Namun dada Royadin seolah terhentak. Seperti digebuk palu godam. Dia hampir pingsan setelah melihat siapa gerangan sang pengemudi itu. Dialah Sinuwun Sri Sultan Hamengku Buwono IX. " Ada apa pak polisi?" demikian tutur Sultan dengan sopan, setelah membuka pintu.

Tubuh Royadin masih gemetar. Namun dia segera siuman dari keterpanaan. Hatinya tetap bulat. Semua pelanggar harus ditindak. " Bapak melanggar verboden," kata Royadin. Royadin mengajak Sultan melihat papan tanda verboden itu. Namun ditolak. " Ya saya salah. Kamu yang pasti benar. Jadi bagaimana?" tanya Sultan.

Royadin agak kikuk. Pertanyaan itu sulit dia jawab. Dalam batin dia berkata, bagaimana bisa menilang seorang raja. Bagaimana bisa menghukum pahlawan Republik. Sementara, dia hanya polisi muda berpangkat brigadir. Namun Royadin heran mengapa Sultan tak memperkenalkan diri sebagai Raja, lantas meminta pelanggaran itu tak diurus dengan menggunakan kekuasaannya.

" Maaf, Sinuwun terpaksa saya tilang," kata Royadin. " Baik brigadir, kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya. Saya harus segera ke Tegal," jawab Sultan.

Dengan tangan bergetar Royadin membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu. Tapi dia sadar, tidak boleh memberi dispensasi. Yang membuatnya sedikit tenang, tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut Sultan minta dispensasi. Surat tilang diberikan dan Sultan segera melaju.

Royadin baru sadar setelah Sultan berlalu. Dia menyesal, berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya. Ingin rasanya dia mengambil kembali surat tilang Sultan dan menyerahkan rebuwes mobil yang ditahan. Tapi semua sudah terlanjur.

Saat apel pagi esok harinya, suara amarah meledak di Markas Polisi Pekalongan. Dari ruang Komisaris, nama Royadin disebut berkali-kali. Royadin langsung disemprot sang komandan dalam bahasa Jawa kasar.

" Royadin! Apa yang kamu perbuat? Apa kamu tidak berfikir? Siapa yang kamu tangkap itu? Siapaaa? Ngawur kamu! Kenapa kamu tidak lepaskan saja Sinuwun, apa kamu tidak tahu siapa Sinuwun?" teriak sang komisaris.

" Siap pak. Beliau tidak bilang Beliau itu siapa. Beliau mengaku salah, dan memang salah," jawab Royadin.

" Ya tapi kan kamu mestinya mengerti siapa dia. Jangan kaku. Kok malah kamu tilang. Ngawur, kamu ngawur. Ini bisa panjang, bisa sampai Menteri Kepolisian Negara," tutur sang Komisaris meledakkan amarahnya.

Royadin tolak pinangan Sultan....

 

4 dari 4 halaman

Royadin Tolak `Pinangan` Sultan

Royadin Tolak `Pinangan` Sultan

Dream - Setelah dimarahi, Royadin malah ditertawakan teman-temannya. Komisaris polisi Pekalongan berusaha mengembalikan rebuwes mobil pada Sultan Hamengku Buwono IX. Royadin pasrah saja, dia siap dihukum, siap dimutasi atau apapun. Yang pasti dia merasa sudah melaksanakan tugas sebagai seorang polisi.

Belakangan sebuah surat dikirim dari Yogya. Sultan meminta Brigadir Royadin dipindahkan ke Yogya. Sultan terkesan atas tindakan tegas sang polisi. Royadin diminta pindah beserta keluarganya. Sultan juga meminta pangkat Royadin dinaikkan satu strip di atas.

Permintaan ini sungguh istimewa. Sebuah permintaan luar biasa dari orang luar biasa. Namun Royadin akhirnya memilih berada di Pekalongan, tanah kelahirannya.

" Mohon Bapak sampaikan ke Sinuwun, saya berterima kasih. Saya tidak bisa pindah dari Pekalongan, ini tanah kelahiran saya, rumah saya. Sampaikan hormat saya pada Beliau dan sampaikan permintaan maaf saya pada Beliau atas kelancangan saya," pinta Royadin pada Komisaris.

Sultan pun menghormati pilihan Royadin. Royadin yang lahir di Batang, 1 Desember 1926 itu terus bertugas di Pekalongan. Pangkatnya pun hanya naik beberapa tingkat. Namun mungkin sosok polisi inilah yang paling diingat Sultan Hamengku Buwono IX seumur hidupnya.

Royadin bertugas sebagai polisi selama 21 tahun 1 bulan. Selain Pekalongan, dia pernah bertugas di Boyolali, Semarang, dan juga Batang, sebagai Kapolsek Warungasem. Dia pensiun dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu).

Dia wafat di rumahnya yang beralamat di Gang Sriti RT 06/RW 06 No 53, Legoksari, Proyonanggan Tengah, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, pada 14 Februari 2007, dalam usia ke 81 tahun. Dia dimakamkan di pemakaman umum dekat rumahnya, berdampingan dengan makam istrinya yang meninggal dua tahun setelahnya.

(Ism, Sumber: Merdeka.com dan RTMC Polda Jawa Barat)

Beri Komentar
Kenangan Reza Rahadian Makan Siang Terakhir dengan BJ Habibie