Cut Putri Nahrisyah
Dream - Dikucilkan bukanlah akhir segalanya. Itulah pesan dari kisah Cut Putri Nahrisyah, peserta Dream Girls 2015 asal Aceh. Sejak sekolah dasar, dia kerap mendapat ejekan dari teman-temannya. Maklum saja, dia tergolong murid dengan kemampuan pas-pasan.
Tapi dia tidak patah arang. Dia terus belajar dan membuktikan diri bisa meraih mimpinya. Hingga akhirnya, cita-cita kuliah di Jurusan Arsitektur tercapai. Dan kini, teman-teman yang dulu selalu mengejek, menaruh hormat kepadanya.
Berikut kisah inspiratif dari Cut Putri. Jika kalian suka dengan kisah ini, berikan vote untuk Cut Putri Nahrisyah DI SINI.
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Saya seorang wanita berasal dari Aceh. Tapi harus saya akui bahwa saya kurang pandai dalam hal menari tarian Aceh. Mungkin banyak orang berpendapat setiap wanita Aceh haruslah pandai menari.
Kebanyakan masyarakat hanya tahu di Aceh hanya ada Tari Saman. Saya ingin mengenalkan kebudayaan Aceh yang lainnya. Karena itu saya terdorong untuk ikut berpartisipasi dalam acara Dream Girls 2015 ini.
Saya ingin mengenalkan Aceh ke seluruh Indonesia bahkan dunia, baik dalam budaya, makanan, adat istiadat dan pariwisata. Memang impian ini terlalu berlebihan, tapi setidaknya saya percaya dengan arti sebuah mimpi.
Mungkin sepenggal cerita ini yang membuat saya akhirnya tidak berhenti untuk terus bermimpi. Umur saya memang baru menginjak 19 tahun, namun saya masih menganggap diri saya terlalu muda dalam berkarier.
Untuk saat ini saya lebih memprioritaskan menuntut ilmu menggapai mimpi yang sudah dicita-citakan sejak kecil. Namun apa salahnya saya berusaha. Jika Allah menghendaki maka semua usaha akan ada hasilnya.
Seumur hidup saya hanya tinggal di Aceh dan lingkungan saya hanya sebatas komplek perumahan, memang terdengar seperti orang yang kurang pergaulan. Saya akui saya seorang yang demikian.
Saya dulunya hanya seorang pelajar yang tidak pernah tahu lingkungan luar, saya juga tidak memiliki banyak teman. Dari SD sampai SMP teman dekat saya hanya satu. Tetapi ketika masuk SMA mulai bertambah.
Orang-orang menilai saya sangat pendiam, penakut. Sehingga, sering dibully waktu masih duduk dibangku sekolah. Mungkin karena hal itu juga yang membuat saya dulu merasa tertekan, jadi penakut, malas berteman, serta sulit mengembangkan bakat.
Saya berprinsip jangan pernah patah semangat, jangan pernah anggap serius kata-kata negatif orang lain. Bagi saya teman laki-laki yang mengejek itu adalah yang menyukai saya.
Mungkin terdengar lucu, tapi begitulah cara saya selama bertahun-tahun supaya dapat bertahan berada di lingkungan yang tidak ramah itu. Saya akhirnya kebal dengan omongan mereka, karena saya sadar mereka itu hanya pengganggu.
Apabila guru tidak membenci kita, buat apa kita harus benci dengan sekolah. Meski terkadang guru-guru mengaggapku bodoh karena selalu dapat nilai rendah tapi mereka tidak pernah mengeluh dan memarahiku.
Para guru tetap memberikan dukungan kepada murid-murid yang seperti aku. Mereka tahu kami memiliki cita-cita dan impian. Termasuk saya mempunyai cita-cita yang kuat dan itu sudah ada sejak saya duduk di bangku SD, yaitu menjadi seorang Arsitek.
Dari tekad yang kuat dengan semangat yang tidak pernah putus, saya bertahan dan berjuang demi sebuah mimpi, meski hanya dapat nilai pas-pasan di sekolah buat naik kelas saya tetap optimis. Mimpi harus tetap diraih dengan penuh optimis, hingga saat ujian akhir sekolah saya membuktikannya saya bisa.
Tetapi tidak cukup sampai di situ, saya pun akhirnya mengikuti tes Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Neger (SBMPTN). Saat itu, banyak rasa takut yang saya alami, karena saya merasa bekal ilmu sangat kurang.
Waktu itu saya sama sekali tidak mengikuti bimbingan belajar manapun, dan saya juga tidak pernah membuka buku dari akhir ujian sampai tes SBMPTN. Namun dengan tekad dan percaya diri, serta berserah diri kepada Allah saya menjawab seluruh soal.
Memang pada awal pemilihan jurusan begitu banyak perdebatan. Orangtua meminta untuk masuk doter, saya memilih untuk masuk arsitektur, namun dalam hati saya hanya ada syukur-syukur kalau lulus. Kalau tidak lulus, pasti menganggur satu tahun.
Alhamdulillah kuasa Allah dan mimpi saya untuk masuk ke dalam Jurusan Arsitektur tercapai. Saya sangat bangga dan saya percaya akhirnya saya bisa. Kemudian, orangtua yang telah merawatku juga bangga.
Selama ini merekalah yang membuatku jadi seperti ini, mereka juga yang selalu mendukungku di balik setiap doanya.
Para guruku, kelak jika muridmu sukses orang pertama yang tidak akan kami lupakan adalah engkau, ilmumu yang membuat kami seperti ini, jangan pernah sedih ataupun kesal kepada kami, karena suatu saat nanti kami akan membuat tangisan itu tangisan bahagia dan bangga
Jangan pernah menyerah, jangan menganggap diri anda adalah akhir, karena orang-orang yang sukses itu pasti mengalami hal yang sulit baru dia memperoleh kesuksesan.
Jangan pernah berhenti bermimpi, mimpilah yang akan membuat anda jadi lebih memilih untuk kehidupan selanjutnya, jangan pernah putus asa meski anda merasa kesepian, tapi yakinlah masih banyak disekitar anda yang menyanyangi anda.
Teman-teman saya yang dulunya mem-bully saya, malah mereka duluan yang minta maaf ke saya. Padahal saya tidak ada rasa dendam sedikitpun justru sudah saya lupakan. Waktu bulan puasa, ada acara reunian satu alumni.
Saat itu, katanya saya orang yang paling ditunggu-tunggu, sampai meminta saya supaya datang, tapi sayangnya saya tidak bisa hadir karena bentrok dengan jadwal kuliah.
Kebetulan pada waktu itu saya juga baru masuk organisasi untuk menambah wawasan saya. Sebab, saya telah melewatkan satu tahun tidak mengikutui organisansi. Di kampus saya ada peraturan mahasiswa yang semester 1 dan 2 tidak boleh mengikuti kegiatan organisasi di kampus.
