Kisah Diajeng Lestari: CEO, Hijab, dan Nabi Muhammad

Reporter : Ratih Wulan
Kamis, 7 April 2016 18:08
Kisah Diajeng Lestari: CEO, Hijab, dan Nabi Muhammad
Di bawah kendali Diajeng Lestari, nama HijUp.com telah mendunia, membawa pelbagai fesyen hijab karya anak bangsa terbang ke pasar internasional.

Dream - Industri fesyen Indonesia berkembang cukup pesat. Sederetan nama desainer Indonesia melahirkan beragam karya yang menyasar komunitas Muslim. Kehadiran mereka dinilai sebagai oase di dunia fesyen.

Pelbagai koleksi fesyen Muslim tersebar dan begitu mudah didapat. Kebanyakan muncul dengan beragam model yang selalu up to date. Tidak hanya di Indonesia, beragam model fesyen hijab ternyata juga dilirik oleh mancanegara.

Di tengah tren fesyen hijab yang terus bertumbuh, sebuah marketplace, HijUp.com lahir. E-Commerce baru ini mencoba menjembatani produsen fesyen hijab dengan konsumen yang tersebar di Indonesia, bahkan dunia. Alhasil, banyak koleksi fesyen hijab karya desainer Indonesia kini mampu merambah pasar internasional.

Semua berkat tangan dingin hijaber Diajeng Lestari. Di bawah kendalinya, HijUp.com berhasil merambah pasar dunia dan menerbangkan sejumlah brand lokal ke mancanegara. Bisa dibilang, HijUp.com merupakan marketplace pertama yang mengusung konsep syar’i. Bahkan, kini HijUp.com tengah mempersiapkan langkah untuk menjalankan ekspansi ke luar negeri.

Beberapa hari lalu, Jurnalis Dream Ratih Wulan Pinandu dan Fotografer Idho Rahaldi sempat melakukan wawancara dengan pendiri HijUp.com, Diajeng. Tepatnya di sela acara Festival Pasar Modal Syariah 2016 yang dihelat Bursa Efek Indonesia (BEI), Diajeng mau berbagi sedikit kisah mengenai pertumbuhan marketplace yang dia bangun. Berikut petikan wawancara tersebut.


HijUp.com sudah mendunia, bahkan dianggap sebagai E-Commerce syariah pertama di Indonesia, bagaimana tanggapan Anda?

Alhamdulillah, ada bagian dari berkah dengan merencanakan keuangan secara syariah. Ketika kita dari awal niatnya ingin beribadah untuk Allah, terus kita bisa mengejawantahkan lewat bisnis itu agar sesuai dengan syariat, Insya Allah akan memberi banyak kemudahan.

Dan di HijUp.com saya merasakan sekali kemudahan. Walapun ada banyak tantangan dan kesulitan, namun selalu ada jawaban atau solusi yang bisa dibilang arahnya tanpa disangka-sangka.

Sudah ada berapa brand yang bergabung di HijUp.com?

Ada 200 lokal brand, dan karena langsung online jadi semua orang bisa langsung mengaksesnya. Dan kita sudah mengirim ke lebih dari 100 negara dengan pengiriman paling banyak ke Singapura, Malaysia, lalu AS, paling banyak ketiga dan keempat itu UK (Inggris).

Di US itu Muslim ada 7 juta dan lebih jarang pakai baju Muslim, jadi demand banyak tapi supply kurang. Kalau UK ada 3 juta Muslim, tapi banyak pilihan, sama seperti Malaysia. Seperti belum lama ini, brand besar London ngeluarin baju renang untuk Muslim, jadi saat ini sudah menjadi concern banyak orang bahwa Muslim market is the next emerging market.

Perkembangan dunia fesyen hijab sendiri seperti apa?

Indonesia dengan populasi Muslim terbanyak di dunia diprediksi pada tahun 2020 kalangan menengahnya naik jadi 85 juta dan 2030 naik lagi menjadi 135 juta. Penduduk di bawah 30 tahun dengan pertumbuhan di kelas menengah yang banyak.

Anak muda yang mayoritas punya produktivitas, mereka sangat potensial memiliki daya beli. Jadi market punya pilihan buat spending money. Dan saatnya kita masuk di sana. Kalau nggak nanti brand-brand lain yang sudah settle akan masuk juga ke market Indonesia.

Apakah sudah ada kemungkinan akan serbuan modest wear dari brand luar?

Sudah dong, contohnya kaya kalau dari market C, D, E di Tanah Abang, misalnya. Tiongkok sudah masuk dari beberapa tahun lalu. Bahkan sekarang flow barang sudah 80 persen dari Tiongkok semua.

Yang ke mall-mall semakin banyak brand yang masuk ke Indonesia, seperti dari Jepang dan Inggris yang mulai bikin modest wear. Bukan gejala lagi tapi sudah di depan mata.

Menghadapi hal ini, sebenarnya kekuatan modest wear Indonesia itu apa?

Indonesia itu quality dan design yang out of the box. Bisa fit ke market atau demand yang sifatnya kosmopolitan Muslim modern. Kalau Tiongkok itu keunggulannya di manufaktur. Jadi, kalau dari sisi desain, mereka bingung mau inspirasi apa, makanya Indonesia punya kekuatan sebagai trendsetter.

Tapi jika trendsetter tidak dilengkapi dengan kemampuan manufaktur sangat mudah di-copy kan? Jadi, value ekonominya tidak bisa maksimal di Indonesia. Maka karena itu secara value chain harus kuat, harus dapat suntikan dana semua, harus ikut mulai dari hulu ke hilir.

Dari demand sudah banyak, karena populasi Muslim kita juga paling banyak di dunia dan bisa dilihat dari sosmed. Instagramnya, followernya bisa jutaan, itu dari sisi demand besar sekali. Tapi yang perlu kita cermati dari sisi supply apakah barang-barang designer ini bisa masuk skala industri. Dari sini bisa disinergikan dengan value change yang lain, sampai nanti row material-nya. Cotton sampai sekarang 98 persen impor dari Tiongkok, woll yang bagus dari Australia.

Negara Tiongkok yang supply ke Indonesia tapi, misal pemerintah Tiongkok bikin kebijakan barang mentah tidak boleh keluar dari Tiongkok, otomatis ketarik ke sana. Value ekonomi kita ke sana. Padahal market kita ada di sini. Jadi, kalau mau, maksimalkan market yang besar ini sebagai sumber ekonomi.

Harus kita olah dari demand ke supply chain yang dimaksimalkan. Di sini kita sangat butuh perhatian pemerintah. Jangan sampai Indonesia cuma jadi market atau yang biasanya terjadi cuma dikeruk sumber daya alamnya.

Target dalam waktu dekat apa saja?

Proyeksi mau nggak mau harus ke manufaktur ditargetkan di tahun depan. Bentuknya kerjasama seperti brand-brand luar negeri, seperti Zara di mana coba? Victoria Secret ada di Yogya dan Mark Spencer itu ada di Bekasi.

Kalau kita ke Dubai atau mall-mall terbesar di dunia, produk yang dijual itu made in Indonesia, karena buatan Indonesia itu grade satu yang rapi. Contohnya, di Inggris ada sport wear A itu satu diambil dari Indonesia dan satu lagi diambil dari Vietnam, pasti akan beda walaupun satu brand dan satu model. Masih lebih rapi dari Indonesia jahitannya.

Indonesia adalah negara yang secara manufaktur sudah ada tapi tidak terbuka untuk industri dengan keuntungan dalam negeri. Kita nge-serve (melayani) brand luar negeri dan mostly kawasan berikat, artinya barang yang ada di kawasan itu tidak diperbolehkan keluar kawasan industri itu atau pelabuhan, karena melanggar undang-undang. Jadi, orang kita nggak ada yang tahu itu kalau produksi ada di situ atau bahan ada di situ.

Kemudian, apa yang bisa dilakukan untuk mengubah kondisi demikian?

Jadi, harusnya di sini ada peran pemerintah untuk alih teknologi dari brand-brand sana untuk membuka peluang usaha di sini atau membuat UU agar tidak menjadi daerah berikat saja. Harus ada di di Indonesia plus nge-serve produk Indonesia juga. Menjalin kerjasama agar brand-brand luar negeri kerjasama dengan manufaktur Indonesia.

Dalam rencana membangun manufaktur, perusahaan apa yang akan digandeng?

Belum tahu karena itu harus secret dan soalnya itu kompetitif banget.

Sedangkan untuk penambahan brand atau desainer bagaimana?

Kita istilahnya ingin memantapkan intensifikasi daripada ekstensifikasi. Jadi, memaksimalkan brand-brand yang sudah ada. Karena kita ingin membesarkan industri rumahan masuk ke skala manufaktur dan volume akan ditingkatkan.

Apakah ada kompetitor besar yang menjadi ancaman?

Karena kita pioneer, bisa dibilang posisi sangat menguntungkan. Tetapi pasarnya besar, jadi kompetitor mulai berdatangan. Cuma kita yakin advantage kita sebagai first mover di mana lebih mengenal brandnya. Saya merasa semakin banyak pesaing berarti validasi market besar. Lebih kompetitif.

Di Indonesia yang head to head seperti HijUp belum ada, mungkin hanya kombinasi cross competitor punya lini hijab. Ada sih dari luar negeri, dari Turki, tapi belum growth di sini, namanya modenia.com dan mereka mengklaim bahwa 10 persen dari Indonesia.

Growth bisnis tahun 2014-2015 bagaimana? Dan rencana di 2016 seperti apa?

Kemarin 5 kali lipat dan kita targetkan kembali 5 kali lipat (500 persen), room for growth masih besar. Penduduk Muslim di Indonesia itu 89 persen. Jadi masih banyak.

Kalau inovasi, kita mau launching mobile apps, Insya Allah, Ramadan tahun ini. Kita melihat orientasi mobile lebih besar dari desktop. Mau tidur, bangun tidur, ke kamar mandi, lihat HP dan kelas menengah baru ini kan anak-anak muda. Jadi, ngeliat dulu ke mobile daripada desktop.

Thats way kita fokus aplikasi dan kita juga melihat banyak e-commerse lain atau startup lain yang mulai fokus ke apps. Bisa dibilang growth ada di mobile apps, dan 70 persen dari total visitor HijUp.com datangnya dari mobile. Kita mau bikin layanan aplikasi yang maksimal.

Kalau pasar domestik kebanyakan datang dari mana?

Paling banyak dari Jakarta sekitar 30 persen Tapi growth paling bagus di Samarinda. Mungkin karena daya beli mereka di daerah tambang. Tapi fluktuatif juga, kadang Surabaya, Samarinda atau Yogyakarta.

Untuk tahun ini kita mulai perbanyak road show, marketing offline dan rencana terdekat kita ke Bandung, Medan, Yogyakarta.

Rentang usia customer HijUp.com itu dari berapa saja?

Mayoritas 25-29 tahun, tapi yang kedua terbanyak itu dari 18-25 tahun dan nantinya yang akan growth itu ya generasi 18-25. Ini yang akan jadi next market. Mereka akan menempati usia 25-29 antara orang-orang yang bekerja sudah dua tahunan dan sudah punya daya beli.

Untuk pengiriman ke luar negeri, apa saja yang akan dikembangkan?

Kita paling terkendala di shipping cost, akan efektif kalau kita punya warehouse di sana. Supaya ongkir tidak terlalu banyak, makanya designer harus (bertumpu) di skill. Ini ada kaitannya sama manufaktur dan volume tadi kan.

Sekarang kita lagi ancang-ancang, lagi riset dan melakukan kajian untuk bikin warehouse biar lebih murah. Bukan manufaktur ya, kalau itu harus di Indonesia agar Indonesia lebih berkembang.

Nanti kita rencana di London sih. Karena negara dunia pertama, ketika kita bisa influence, ini strategis. Secara branding fashion, brand dari luar itu lebih bisa diterima karena kita terpengaruh kultur yang ada di luar negeri. Makanya kita harus masuk pasar luar negeri dulu biar kita bisa diterima di pasar sendiri.

Adakah tokoh yang Anda idolakan dan kemudian mampu menginspirasi perjalanan karir Anda?

Idola saya Nabi Muhammad SAW. Jadi, yang pasti apa yang bisa kita pelajari dari Nabi Muhammad SAW adalah keteladanan beliau dalam mengubah kondisi masyarakat secara ekonomi, secara sosial, dan bagaimana nilai-nilai Islam bisa diterapkan bukan sebagai agama tapi dari sisi kehidupan menjadi sebuah solusi bagi kehidupan manusia.

Jadi, kenapa saya, berbisnis adalah salah satu tools yang digunakan Nabi Muhammad untuk mengembangkan ekonomi. Dari sisi lain, kondisi Indonesia yang kemampuan belanjanya lebih banyak dari kemampuan menghasilkan barang jualnya. Akhirnya lebih besar pasak daripada tiang dan akan terjadi defisit. Pasti akan banyak yang jadi utang negara dan jadi beban pemerintah.

Menurut saya, kalau kita tidak mampu membangun ekonomi negara, akibatnya bakal kompleks sekali secara makro, ekonomi negara secara mikro dan secara individual masyarakat di negara tersebut. Dari sisi kualitas hidup masyarakatnya, itu tanggung jawab yang sangat besar. Tapi kita tidak bisa menggantungkan pada negara saja.

Kita sebagai umat Islam sudah dikasih contoh Nabinya siapa, Nabi Muhammad. Kerjaannya pedagang dan dengan berdagang dia bisa mempekerjakan banyak orang, menumbukan ekonomi, bisa memberi impact positif tidak hanya ke ekonomi tapi sosial dan spiritual dengan tools yang dia kerjakan.

Balancing life itu memang berat banget. Ketika kita menjadi pengusaha dan memutar bisnis dengan keuntungan besar itu stres. Tapi caranya balancing life ya kembali lagi ke ajaran Nabi Muhammad. Karena kita punya tools micro seperti salat, zikir. Balik lagi ke diri sendiri, bukan microthinks, bukan lagi lihat why-nya. Connecting to your self-mind.

Brand yang paling banyak diminati atau paling banyak diorder dari customer luar negeri apa saja?

Saat ini masih Dian Pelangi, Ria Miranda, Jenahara. Karena bisa faktor brand dan keunggulan produk yang mereka buat. Ada brand yang baru muncul tapi bisa diterima di pasaran dengan baik namanya seperti Elmira Ethnique. Bagus banget terserapnya. Mereka pakai kain-kain tenun Sumba, Bali.

Mereka sebenarnya bukan baru, juga nerusin usaha keluarga. Tapi di-rebranding dengan desain yang lebih modern. PR saya sekarang desainer banyak, bagaimana menjadikan mereka naik level.

Harapan ke depan seperti apa?

Pemerintah mendukung dari sisi kebijakan. Sekarang pemerintah selain menstimulus UKM baru, harus me-maintenance mereka juga. Memberi modal, misalnya KUR dan menembangkan SDM juga selain dari uang, lembaga pelatihan, dan misal mereka dikirim ke mana buat belajar.

Itu yang sudah dilakukan sama Bangladesh, India, Tiongkok, dan Malaysia. Semua nyebarin SDM keluar.

Tapi di sisi lain pas mereka di luar harus dimonitor pastikan mereka balik lagi ke Indonesia and give back to society.

Ke depan negara mana lagi yang mau dimasuki?

Negara yang tertarik HijUp.com ada di sana itu Malaysia, Singapura, Australia, Bahrain, US, Amsterdam, karena demand banyak banget. Kita pelan-pelan saja masuknya. Kita mantepin dulu di fundamental di manufaktur. Jadi, jangan hanya branding terus. Kita rem sebentar pertumbuhan. Jadi, tadi tetap ditargetkan hanya di 500 persen.

Kita fokuskan di pengembangan dan persiapan produk baru bisa lebih maksimal. Agar setelah ini kita bisa bersaing dengan brand luar negeri. Mereka sangat mudah meng-copy apa saja yang sedang laku. Dolce Gabana saja sudah bikin abaya.

Kita harus bersiap karena Indonesia akan jadi negara terbesar di dunia, nomor tujuh kalau nggak salah. Jadi, dengan daya beli yang sangat besar, negara kita harus lebih banyak jual dari pada beli.

Beri Komentar
Detik-Detik Ulama Malang Meninggal Saat Ceramah