Meski Kaki Diamputasi, Pemuda Ini Ingin Jadi Cristiano Ronaldo

Reporter : Maulana Kautsar
Minggu, 4 September 2016 14:02
Meski Kaki Diamputasi, Pemuda Ini Ingin Jadi Cristiano Ronaldo
Seorang pemuda Bangladesh kehilangan kedua kakinya dalam kecelakaan kereta api. Tapi dia punya mimpi menjadi pemain sepak bola profesional seperti Cristiano Ronaldo.

Dream – Ini kisah menggetarkan dari Dhaka. Di Ibukota Bangladesh itu, hidup pemuda berusia 22 tahun yang sungguh inspiratif. Mohammad Abdullah namanya. Usia baru 22.

Apa yang istimewa? Semangat hidup Abdullah.

Dia dulu terlahir sempurna –secara fisik. Namun 10 tahun silam, dia mengalami kecelakaan targis. Diterjang kereta. Untung nyawanya masih selamat, meski kedua kaki harus diamputasi.

Sejak itu, Abdullah harus hidup dengan dua kaki yang masing-masing tinggal separuh. Dia kembali belajar berjalan. Meski tak mudah. Tapi lihatlah sekarang, karena ketekunan dan semangat pantang menyerah, dia bisa kembali hidup normal.

Abdullah bahkan sekarang jago bermain bola. Dan sekarang, Abdullah mulai banyak dikenal karena keterampilannya mengolah si kulit bulat.

" Saya tidak pernah berpikir saya akan bisa berjalan, apalagi bermain sepak bola. Sebelumnya saya takut akan menghabiskan sisa hidup saya di kursi roda," kata Abdullah.

Meski kedua kakinya buntung, Abdullah mampu bermain sepakbola layaknya orang dengan kaki normal. Dia bahkan mengenakan sepatu saat bermain bola meski dipasang secara terbalik.

" Tapi akhirnya saya memutuskan untuk mencoba dan melakukannya tanpa kursi roda. Saya bertekad untuk mandiri, jadi saya mulai mencoba berjalan," ujar pemuda yang juga bekerja sebagai porter bagasi di sebuah stasiun feri ini.

Abdullah merasa bosan melihat dirinya dalam kondisi tak berdaya. Awalnya, dia menghadapi kesulitan tapi akhirnya berhasil juga.

" Sekarang saya bisa berjalan, bekerja dan bahkan bermain sepak bola seperti orang lain," kata dia kepada laman Daily Mail.

1 dari 4 halaman

Ditinggal Ibu Sejak Usia 7 Tahun, Tinggal di Jalanan

Abdullah ditinggalkan oleh ibunya ketika berusia tujuh tahun. Dia kemudian dibesarkan oleh ayah dan ibu tirinya sebelum memutuskan kabur dari rumah.

" Saya sangat merindukan ibu karena itu saya lari dari rumah," kata dia.

" Saya marah dan tak berdaya. Saya tinggal di jalan dan mengemis untuk bertahan hidup. Setelah beberapa bulan saya tinggal dengan nenek saya."

Tapi satu hari pada tahun 2001, Abdullah kehilangan kedua kakinya. Saat itu dia bepergian dengan kereta api dan berusaha untuk menggapai kereta lain karena kereta itu mulai bergerak. Sayang, dia terpeleset dan kakinya terperangkap di bawah roda kereta yang melaju kencang.

Dia dilarikan ke Dhaka Hospital Medical College dan mendapat pengobatan. Dia akhirnya kehilangan kedua kakinya mulai dari bawah paha.

2 dari 4 halaman

Tak Dijenguk Keluarga

Abdullah sendirian di rumah sakit dan tidak ada satu pun dari keluarganya yang menjenguk. Akhirnya pihak rumah sakit mengirimnya ke panti asuhan begitu dia cukup kuat.

Panti asuhan memasukkan Abdullah ke Barisal Yusuf School di mana dia belajar selama 18 bulan tetapi akhirnya lari lagi.

" Saya sangat bingung. Saya tidak tahu harus ke mana. Saya tinggal di jalanan dan mengemis. Orang-orang yang melihat kondisi saya selalu memberi saya uang.

" Tapi saya tidak senang. Saya ingin sesuatu yang lebih baik sehingga dengan lengan dan dua tangan saya yang kuat saya memutuskan untuk bekerja. Saya mulai menjajakan koran dan menabung sedikit demi sedikit," kata Abdullah.

3 dari 4 halaman

Semoat Diremehkan

Sebelum kehilangan kedua kaki, Abdullah memang sangat suka sepak bola. Tetapi kecelakaan itu membuyarkan membuyarkan mimpinya. Sampai suatu hari dia melihat banyak anak laki-laki bermain sepak bola di jalan.

" Minat saya dalam sepak bola kembali menyala ketika saya hidup di jalanan. Saya melihat anak-anak laki-laki bermain di pinggir jalan dan saya ingin bermain juga. Tapi mereka tidak membiarkan saya bermain dan itu membuat saya sedih dan marah."

" Mereka meragukan saya dan menolak untuk memberikan kesempatan. Jadi saya meminta anak-anak yang lebih muda usianya apakah saya bisa bermain dengan mereka dan perlahan-lahan saya mulai bermain dengan cukup baik. Dari situ saya menjadi lebih baik dan lebih baik," ujar dia.

 

4 dari 4 halaman

Aku Ingin Jadi CR7

Abdullah akhirnya diselamatkan pada 2003 oleh LSM yang menyediakan tempat penampungan untuk anak-anak jalanan Aparajeyo Bangla. Mereka memberinya naungan selama sepuluh tahun ke depan sampai mereka pindah ke sebuah tempat penampungan untuk anak laki-laki yang lebih dewasa.

Seorang pelatih sepak bola di Aparajeyo Bangla membantu Abdullah mengejar gairah sepak bolanya dan mendorongnya untuk berlatih.

" Saya bermain dengan tangan pada awalnya, tetapi anak-anak lain menyarankan saya bermain dengan kaki. Jadi saya lakukan sesuai keinginan mereka. Seiring waktu saya belajar untuk menjadi lebih baik dengan kaki kecil saya," katanya mengenang.

Abdullah sekarang sering bermain sepak bola di Stadion Nasional Bangladesh untuk tingkat dasar. Meskipun tidak memiliki kaki, dia bisa memperlihatkan permainan yang bagus.

" Saya ingin bermain sepak bola secara profesional dan mengidolakan Cristiano Ronaldo karena gaya, sikap dan bakatnya. Tapi tidak ada kesempatan digelar pertandingan sepakbola untuk penyandang cacat di sini," kata Abdullah penuh harap.

Beri Komentar
Potret Aktifitas Prisia Nasution Saat Jelajahi Alam