Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Sugiyatmi Saat Meresmikan Pondok Pesantren Tahfiz Daarul Quran Karanganyar (pppa.or.id)
Dream - Nama Sugiyatmi, 71 tahun, begitu terkenal di Surakarta. Dia merupakan seorang pengusaha warung makan yang sangat digemari di kota itu, Taman Sari.
Kini, Sugiyatmi memiliki sebuah pondok pesantren yang baru selesai dibangun dan mulai aktif beroperasi pada 2015 lalu. Pondok pesantren tersebut dikhususkan bagi para penghafal Alquran.
Semua berawal dua tahun lalu. Kala itu, dia bermimpi tengah duduk di teras Masjid Maryam yang terletak di samping rumahnya.
Dalam mimpi itu, dia melihat Ustaz Yusuf Mansur tengah menggandeng anak laki-lakinya. Keduanya berpakaian ihram.
Anak tersebut lantas menggandeng tangan ibunya dan mengajak mengunjungi makam sang suami di samping masjid. Makam itu ternyata sedang kebanjiran.
Mimpi tersebut lantas mengantarkan Sugiyanti berkenalan dengan Yusuf. Wanita tersebut mengaku terinspirasi dengan ceramah-ceramah yang disampaikan sang ustaz.
" Setelah mengenalnya, saya senang membaca buku-bukunya. Lalu saya ingin sekali bertemu untuk menyedekahkan apa yang saya punya," ujar Sugiyatmi.
Sugiyatmi lantas bertekad untuk membangun pondok pesantren di atas lahan seluas 3.000 meter persegi di sekitar masjid. Dia membeli lahan tersebut seharga Rp 1,6 miliar secara patungan dengan putrinya, Sindu.
Proses pembangunan dimulai pada September 2013 dengan diawali peletakan batu pertama oleh Yusuf Mansur. Pembangunan pondok pesantren tersebut menghabiskan waktu dua tahun dan pada 3 September 2015 lalu bangunan sudah selesai dikerjakan.
Terdapat satu bangunan utama di pondok pesantren tersebut, yang kemudian diberi nama Gedung Ismail, yang merupakan nama dari mendian suami Sugiyatmi. Penamaan tersebut diambil atas saran seorang kawan Sugiyatmi yang juga pengusaha di Surakarta, Adib Ajiputra.
" Kalau ditanya habisnya berapa buat membangun Gedung Ismail, saya nggak tahu. Pokoknya niat saya sedekah," kata Sugiyatmi.
Sebenarnya, Sugiyatmi masih punya keinginan membangun taman wisata di sekitar rumah makan miliknya. Ini dimaksudkan agar para pengunjung dapat sekalian berwisata selain makan di rumah makan miliknya.
" Sebenarnya saya itu pingin membangun areal wisata di samping Taman Sari. Jadi, orang yang sedang bepergian bisa mampir makan sekalian wisata, mandi berenang, bermain, gitu. Tapi saya dahulukan membangun pondok. Saya minta ridho Allah sajalah," kata dia.
Saat ini, pondok pesantren tersebut telah beroperasi dan terdapat beberapa santri yang belajar di sana. Meski begitu, Sugiyatmi tidak lantas lepas tangan, dia terjun sendiri membimbing para santri agar bisa mandiri.
" Saya ajarkan, sehabis makan pirinya dicuci langsung. Saya juga minta ara santri mencuci baju sendiri. Akhirnya mereka bisa juga," kata Sugiyatmi.
Sumber: pppa.or.id
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya