Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Laila Hossaini - Insert (Yahoo Sport)
Dream - Penarikan pasukan Amerika Serikat akhir tahun ini membuat sejumlah perempuan Afghanistan ketar-ketir. Mereka takut rezim Taliban akan kembali berkuasa dan memberlakukan pembatasan berlebihan. Sehingga mereka tak lagi bisa melakukan aktivitas dengan bebas.
Seperti yang dirasakan Laila Hossaini. Atlet Taekwondo ini sangat takut jika Taliban kembali memimpin negerinya. Jika itu terjadi, dia takut perempuan-perempuan Afghanistan tak lagi bisa meniti karier mereka.
" Tentu saja, kami memiliki perhatian, tidak hanya saya, tapi semua perempuan, setelah 2014, jika Taliban kembali berkuasa," kata Hossaini dikutip Dream dari Yahoo Sport, Minggu 28 September 2014.
Hossaini merupakan atlet Taekwondo Afghanistan. Namun dia tumbuh di Iran. Keluarganya harus kabur dari Tanah Air karena negaranya dikuasai oleh Uni Soviet pada dekade 1980-an. Mereka baru kembali ke Kabul pada 2001, setelah rezim Taliban tumbang.
Perempuan berusia 28 tahun ini merupakan atlet berprestasi. Dia pernah menggondol medali perak pada South Asian Games 2010. Dia juga sudah bertanding di berbagai even internasional. Namun, penarikan pasukan AS dan ancaman Taliban menjadi bayang-bayang kelamnya.
" Taliban tidak akan mengizinkan kami untuk melakukan apapun, prestasi yang telah kami buat akan berbalik, maka kami semua khawatir," kata dia.
Dan tanda-tanda kekhawatiran Hossaini itu memang sudah mulai muncul. Menjelang penarikan seluruh personel AS, kekerasan di Afghanistan semakin meningkat. Serangan terhadap polisi dan tentara Afghanistan semakin merebak.
Menurut dia, di masa-masa akhir pemerintahan Taliban dulu, perempuan dibatasi untuk ke luar rumah.
Meskipun para perempuan diperkenankan untuk tetap berlatih olahraga, seperti Taekwondo, di dalam rumah.
Di awal kariernya sebagai atlet Taekwondo, Hossaini mengaku banyak kendala. Keluarga paman dan bibinya keberatan dengan aktivitas olahraga yang dia geluti. " Ada keberatan dari paman dan bibi, sampai akhirnya saya memperoleh medali pertama saya dan kemudian keberatan itu dihentikan," tutur dia.
Untunglah, keluarga terdekatnya kemudian mendukung apa yang dilakukan oleh Hossaini. Sehingga dia bisa meraih prestasi. " Tunangan saya adalah atlet kungfu, sehingga keluarga saya tidak keberatan," ujar Hossaini.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya