Neng Sarah Salsabila

Dream - Neng Sarah Salsabila. Mojang asal Sukabumi, Jawa Barat, ini tidak pernah putus asa untuk meraih mimpinya. Meski sudah berkali-kali gagal menempuh berbagai seleksi masuk perguruan tinggi tetapi dia tetap tidak menyerah.
Meski khawatir tidak diizinkan oleh ibunya untuk sekolah tinggi karena masalah biaya. Tetapi dia terus selalu berusaha meyakinkan orangtuanya bisa mendapatkan beasiswa. Bebagai usaha dilakukannya, sayang belum mendapatkan hasil.
Ingin tahu perjuangan Neng Sarah Salsabila, baca kisah inspiratif peserta Dream Girls 2015 ini.
Jika kalian suka dengan kisah ini, berikan vote untuk Neng Sarah Salsabila DI SINI
Bismillahirahmani Rahim
Assalamualaikum..
Hallo teman-teman dreamers semua, perkenalkan namaku Neng Sarah Salsabila, sekarang aku berusia 20 tahun. Aku mau share sedikit pengalaman dan perjalanan hidupku. Aku harap kisahku ini dapat dijadikan pelajaran untuk semua orang khususnya untuk adik-adik yang masih bersekolah.
Aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana namun hangat dan penuh kasih sayang. Orangtuaku tegas dan sangat disiplin dalam mendidik anak-anaknya. Aku bungsu dari empat bersaudara, sosok ayah bagiku adalah orang yang sangat aku jadikan panutan. " Your’e the real my imaginer pap' namun kebersamaan kami hanya sebentar. Papahku telah wafat ketika aku berusia 12 tahun, tepatnya ketika aku masih dikelas 6 SD.
Sedih sekali rasanya kehilangan orang yang sangat aku sayangi tapi aku yakin kalau Allah lebih sayang sama papah. Allah tidak mau membuat papah merasakan sakit yang terus menggerogoti tubuhnya.
Semoga papahku diberi tempat yang paling terbaik di sisi-Nya. Aamin.Kini hanya ibuku yang berjuang membesarkan kami, ibu dan tiga kakakku saling menopang untuk membiayai aku dan kakak ketigaku bersekolah, aku sangat bersyukur atas perjuangan kakak-kakakku yang mau membiayai aku sekolah.
Jujur perjuangan mereka untukku membuatku malu untuk meminta lebih dari apa yang bisa mereka lakukan. Seperti halnya waktu aku lulus dari SD, Allhamdulillah aku lolos tes masuk kelas akselerasi di salah satu SMP favorit di kotaku.
Hatiku kecilku berambisi ingin bisa mengambil kesempatan besar itu, tapi keadaan memaksaku untuk menekan keinginanku itu. Biaya yang cukup besar bagi keluarga kami membuat aku dan keluargaku memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan itu.
Meski demikian saya tidak berkecil hati. Pikiran ku waktu itu, paling penting aku harus melanjutkan pendidikanku di manapun sekolahnya. Akhirnya aku masuk salah satu SMP yang ada di kotaku, allhamdulillah di sana aku masih bisa tetap mengukir prestasi dengan baik.
Aku mendapat juara kelas selama empat semester berturut-turut. Selain itu aku juga terpilih untuk mewakili sekolahku pada olimpiade Matematika dan story telling Bahasa Inggris. Allhamdulillah wasyukurillah saya terpilih sebagai siswi terbaik dan teladan waktu itu.
Temen-temen mau tau apa motivasi terbesarku? Motivasi terbesarku untuk terus meraih semua apa yang aku impikan dan untuk terus mengukir prestasi adalah keluargaku, terutama papahku.
Ini semua untuk papahku, ibuku, dan kakak-kakakku yang berjuang keras untuk menyekolahkanku, bagiku ini salah satu cara yang bisa aku lakukan sebagai rasa terimakasiku untuk mereka semua. Sedikit pun aku tidak pernah ingin membuat mereka kecewa.
Setelah lulus SMP Allhamdulillah berkat dukungan dan tekad kuat yang aku miliki, akhirnya aku bisa masuk salah satu SMK Favorit yang ada di kotaku. Kemudian bisa masuk kelas dan jurusan terbaik disekolahku.
Aku bersyukur sekali dikelilingi teman-teman yang sangat luar biasa. Kami sering bertukar pikiran satu sama lain terutama soal masa depan. Awalnya impianku sederhana, sekolah di SMK biar aku punya softskill lalu setelah lulus aku bisa segera bekerja agar tidak lagi membebani ibuku dan kakakku.
Namun seiring berjalannya waktu, pikiranku semakin terbuka, berkat buku-buku motivasi dan kisah sukses yang aku baca serta lingkungan teman-teman yang sangat mementingkan pendidikan akhirnya dengan perlahan semua hal itu mengubah mindset yang sudah selama ini aku bentuk.
Dari sejak itu aku sangat bercita-cita agar aku bisa mengenyam bangku kuliah. Aku ingin sekali bisa kuliah regular karena aku punya kegemaran untuk belajar, aku ingin fokus belajar.
Selain itu aku ingin sekali mendapat ilmu lebih banyak lagi dan bisa berbagi ilmu yang aku punya agar nantinya bisa bermanfaat bagi orang banyak. Tapi di sisi lain aku berpikir bahwa aku tidak mungkin terus-terusan membebani kakak-kakakku karena mereka juga masing-masing pasti memiliki kebutuhan, apalagi semuanya sudah berkeluarga.
Tapi hal itu tidak menyurutkan tekadku untuk terus berusaha supaya bisa masuk perguruan tinggi dan satu-satunya cara agar aku bisa meraih semua impianku adalah dengan cara mendapatkan beasiswa agar aku tetap meraih semua impianku dan tetap tidak ingin membebani keluargaku.
Sebelum kelulusan, aku mencoba untuk mengikuti beberapa tes untuk masuk perguruan tinggi, allhamdulillah aku lolos di dua perguruan tinggi swasta yang ada di Bandung. Beasiswa juga ada namun tidak full, tapi aku memilih untuk tidak mengambilnya karena aku tidak mau terus-terusan jadi beban keluarga.
Aku tidak mau menambah pikiran buat mama juga. Dia pernah bilang kalau aku mending ambil kuliah kelas karyawan saja tapi aku ingin fokus kuliah karena aku pikir banyak beasiswa di luar sana. Sangat disayangkan sekali kalo aku harus melewatkan kesempatan itu.
Kalau gagal ya setidaknya aku tidak akan menyesal karena aku pernah mencobanya, kemudian aku mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri (PTN) melalui jalur undangan dan mengikuti program beasiswa dari pemerintah. Tetapi sayang keberuntungan tidak berpihak kepadaku, aku tidak lolos.
Aku juga pernah ikut seleksi beasiswa ke Malaysia. Allhamdulillah aku lolos pada seleksi pertama. Namun karena seleksi ke dua dilaksanakan di Surabaya, aku tidak berani bilang sama mamaku. Kalau aku lolos pasti mamaku tidak akan mengizinkannya.
Suatu waktu aku dihubungi kakak untuk mengikuti tes tulis di salah satu sekolah tinggi kedinasan yang full menggratiskan mahasiswanya dan sekolah tinggi tersebut adalah sekolah tinggi yang pernah aku idam-idamkan untuk menjadi bagian dari mereka. Tapi impian tersebut udah sempat aku kubur dalam-dalam, jadi setelah aku dihubungi kakak untuk mengikuti test tersebut aku serasa menggali lagi impian yang udah aku kubur dan itu rasanya seneng sekali.
Aku berusaha semaksimal mungkin untuk benar-benar belajar dengan fokus. Aku tidak mau melepaskan kesempatan emas ini. Karena itu satu-satunya harapan terbesar dalam hidupku. Aku benar-benar menaruh harapan banyak, namun sayang saat pengumuman aku lagi-lagi tidak lolos.
Lalu aku memilih untuk bekerja selama satu tahun untuk mengisi waktu kosong supaya bisa menabung untuk daftar kuliah dit ahun selanjutnya. Selain itu aku juga bisa bantu untuk kebutuhan sehari-hari di rumah danbiar aku bisa beli-beli buku latihan soal sebanyak-banyaknya.
Aku termasuk orang yang sangat berambisi untuk meraih semua cita-citaku tapi insyaallah aku tidak menghalalkan segala cara tapi aku selalu pakai cara yang halal. Waktu efektifku aku gunakan untuk bekerja dan sepulang kerja aku belajar habis-habisan bahkan kadang aku hanya tidur beberapa jam karena aku butuh persiapan yang banyak sekali.
Aku tidak bimbel, jadi aku harus sadar diri dengan keterbatasanku. Namun aku tidak menjadikan keterbatasanku sebagai alasan untuk aku menjadi lemah, justru keterbatasan ini aku jadikan kekuatan yang lebih powerfull buat aku.
Tekadku untuk jadi orang yang sukses sesegera mungkin semakin kuat, karena percayalah Allah tidak akan tinggal diam, Allah pasti selalu lihat usaha kita, dan hasil tidak akan pernah mengkhianati proses.
Aku sangat percaya itu. Kemudian waktu tes pun tiba, tanpa sepengetahuan dari mamah aku ikut seleksi masuk PTN. Karena aku takut mama khawatir aku tidak mau semua ini jadi beban fikiran untuk mamah. Tapi aku tetap juga mengajukan beasiswa.
Kadang aku berpikir, apa aku egois terlalu ngoyo untuk kuliah regular? Tapi ini mimpiku, aku berhak berusaha sebisa aku untuk meraihnya bukan? Waktu pengumumanpun tiba dan hasilnya gagal. Lagi-lagi aku tidak lolos.
Aku berpikir sangat keras sekali, sebenernya apa yang salah denganku? Aku terus mengevaluasi diriku, berdiam diri dikamar sendiri, dan aku membiarkan diriku sejatuh-jatuhnya, menangis bersimpuh dihadapnNya. Akhirnya aku sadar ada satu hal yang aku lupakan dari segala usaha dan doa yang telah aku lakukan, yakni ridho dari mamaku.
Aku lupa apakah sekiranya Allah ridho ketika mamaku tidak meridhoinya? Tidak. Kan Allah sudah pernah bilang Ridhonya Allah ada pada Ridho orang tua bukan? Seketika aku merasa tertampar aku menagis sejadi-jadinya, aku sangat menyesal.
Lalu aku berusaha untuk mengomunikasikan apa yang aku cita-citakan selama ini dengan mamaku, dengan harapan agar impianku dan mamaku bisa selaras, bisa sejalan, karena aku benar-benar ingin meraih cita-citaku dan mamaku meridhoinya.
Akhirnya mamaku paham dan mengerti, aku bilang kalau aku minta satu kali lagi kesempatan untuk mengikuti tes lagi dan mamaku diam, aku tahu kalau mama khawatir soal biaya tapi aku mencoba meyakinkannya kalo aku akan berusaha mencari beasiswa sebanyak-banyaknya agar nantinya aku tidak akan membebani kakak-kakakku lagi.
Allhamdulillah mamah menyetujuinya. Aku bahagia sekali saat itu, lagi-lagi aku melanjutkan perjuanganku untuk mengikuti untuk masuk perguruan tinggi, tapi sayang sebenarnya aku tidak bisa mengajukan beasiswa lagi ke pemerintah.
Di sini aku sempet bingung juga tapi aku cari informasi sebanyak-banyaknya untuk bisa ikut seleksi beasiswa dari perusahaan-perusahaan. Akhirnya aku menemukannya, aku mendaftarkan diri untuk mengajukan beasiswa, dan aku tetep bekerja sambil belajar seusai pulang kantor. Capek? ya capek banget tapi ini adalah usahaku dan pengorbananku, aku sangat semangat menjalaninya apalagi sudah dapat restu dari mama dan lagi-lagi waktu tes pun tiba.
Romantisnya aku diantarkan mama untuk ikut tesnya. Rasanya masya Allah luar biasa, tes berjalan dengan lancar dan waktu pengumuman pun tiba. Allhamdulillah aku lolos di salah satu PTN ternama yang ada di Yogyakarta, masyaallah, doa ibu itu memang keramat.
Tapi sayang aku tidak lolos seleksi beasiswanya dan akhirnya aku memilih untuk tidak mengambilnya karena uang tabungan yang aku punya tidak cukup untuk membayar. Lagi-lagi aku harus mengikhlaskan mimpi aku. Tak apa mungkin Allah punya rencana yang jauh lebih indah untukku.
Semoga yang membaca tulisan ini dapat mengambil hikmah dan pelajarannya pesanku, Man Jadda Wajadda. Bermimipilah setinggi mungkin, mimpi tidak bayar kok. Tapi jangan jadi seorang pemimpi saja, jadilah sang peraih mimpi.